Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 122


__ADS_3

Ketika Ranum masih saja berusaha menyeret Al, tiba-tiba saja laki-laki itu sadar. Gara-gara mendengar Ranum yang terus saja batuk karena asap yang wanita itu hirup semakin banyak meskipun Ranum tadi sempat menutup hidungnya.


"Uhuk, uhuk ... uhuk ...." Ranum tidak bisa berhenti batuk. Dan tanpa wanita itu sadari Al sudah sadar dan saat ini laki-laki itu bisa melihat dengan jelas kalau Ranum sedang menyeretnya menjauh dari gudang yang sudah terbakar itu.


"Ranum," panggilnya lirih.


Ranum yang mendengar dirinya dipanggil oleh sang suami dengan cepat melepas kaki Al yang ia serat sambil menepuk-nepuk da danya sendiri karena gadis itu berharap batuknya reda. Namun, sayang semakin Ranum menepuk da danya wanita itu semakin terbatuk-batuk. Bersamaan dengan itu tenaga gadis itu sudah mulai berkurang.

__ADS_1


"Mas Al, syukurlah Mas sudah sadar. Ayo kita harus segera pergi dari sini, sebelum semuanya terlambat," kata Ranum dengan pandangan mata yang mulai terbatas. Sebab kepulan asap itu semakin pekat. Wanita itu juga mulai kesulitan untuk bernafas. "Mas Al, ayo!" Meski tubuh wanita itu mulai terasa sangat lemas, tapi ia terus saja membantu sang suami yang juga saat ini sama seperti dirinya yang tidak memiliki banyak tenaga. "Kita harus cepat keluar dari sini, karena Agna dan mama sedang menunggu kita di rumah."


Al yang mendengar itu dengan sangat bersusah payah bangun. "Laki-laki tua itu benar-benar sangat keterlaluan," gumam Al lirih. "Dia, dia sudah ... melakukan ini padaku," sambung laki-laki itu yang kini terlihat dibantu berdiri oleh sang istri.


"Mas jangan bahas masalah itu lagi, yang terpenting kita harus keluar dulu dari sini. Karena mungkin saja kantor ini akan terbakar karena aku lihat di gudang juga banyak kabel yang menghantarkan listrik ke semua lantai perusahaan ini, dan itu bisa berakibat fatal, dan sebelum semua listrik padam. Maka kita harus menggunakan lift supaya cepat sampai di lantai bawah. Sebab tidak mungkin kita akan menuruni anak tangga dari lantai 16 ini ke lantai satu," kata Ranum panjang lebar menjelaskan sang suami. "Kita tidak boleh ma ti konyol disini, apalagi ma ti dalam keadaan ter ba kar."


Ranum langsung saja menggeleng kuat sambil menjawab, "Aku tidak apa-apa Mas, dan Mas Al tidak usah berpikiran mau menggendongku. Karena jika Mas menggendongku maka kita berdua akan meregang nyawa di kantor ini." Ranum terus saja memapah sang suami, meskipun saat ini yang harus dipapah itu dirinya sendiri. Karena Ranum ternyata alergi dengan asap. Namun, demi sang suami wanita itu tidak memperdulikan itu semua. "Lebih cepat Mas, supaya kita bisa sampai ke lift itu," kata Ranum sambil menunjuk lift itu. Dan tanpa mereka tahu saat ini Agna di rumah terus saja menangis tanpa henti. Membuat Ranum bisa merasakan kalau putri kecilnya itu saat ini pasti sedang rewel.

__ADS_1


"Mas Al, sepertinya Agna di rumah sedang rewel," ucap Ranum memberitahu sang suami. "Pokoknya kita harus keluar dari sini bagaimanapun caranya, karena aku tidak mau Agna kehilangan kedua orang tuanya."


Mendengar itu Al merasa kalau tenaganya yang tadi sempat berkurang, kini kian bertambah lagi. "Langkah kaki kita harus cepat Ranum, jika kita ingin selamat," timpal Al. "Jangan menyerah, kita pasti bisa."


Ranum mengangguk tapi tidak lama wanita itu malah jatuh tersungkur, membuat Al merasa kalau ia harus menggendong sang istri dengan tenaga yang laki-laki itu miliki saat ini.


"Ranum, biarkan aku menggendongmu," kata Al.

__ADS_1


Ranum menggeleng lemah, sebelum mata wanita itu terpejam sempurna.


__ADS_2