Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 77


__ADS_3

"Tuan, tunggu saya!" seru Bagas ketika melihat Al akan masuk ke dalam mobil.


"Huh, aku ingin pulang saja Bagas, buat apa aku disini hanya untuk melihat dua pasang anak SMA itu pacaran di rumah sakit seperti ini, apalagi mereka bermesraan!" ketus Al. Yang saat ini berpura-pura melihat jam di pergelangan tangannya. "Sungguh aku menyesal datang kesini," ucap Al ketika bayangan Ranum yang digendong oleh Ryder tadi kembali terngiang-ngiang di pelupuk mata laki-laki itu.


"Kita kembali saja Tuan, lagipula laki-laki itu sudah pergi," kata Bagas, yang meyakinkan Al kalau Ryder sudah pulang.


"Tidak! Aku mau pulang saja," tolak Al yang tidak mau di ajak kembali ke ruang rawat inap Rudy. "Kamu saja yang kembali, aku masih ada urusan yang lebih penting daripada melihat dua sejoli bermesraan di rumah sakit seperti ini." Lagi-lagi Al berkata seperti itu, seolah-olah laki-laki itu saat ini sedang merasa cemburu.


"Anda cemburu?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Bagas. Yang merasa gelagat serta tingkah laku tuannya saat ini seperti orang cemburu.


"Aku tidak cemburu! Lagipula Ranum hanya mengandung anakku saja. Dan setelah dia melahirkan aku dan dia akan berakhir!" jawab Al ketus, sambil masuk ke dalam mobilnya. "Aku pergi dulu, dan kamu tetaplah disini siapa tahu gadis itu membutuhkan dua tenaga laki-laki untuk menjaga ayahnya." Al menutup pintu mobilnya setelah itu. Laki-laki itu langsung pergi begitu saja.


Bagas menatap kepergian Al dengan suara hembusan nafasnya yang terdengar berat. "Apa susahnya, Tuan Al mengaku saja kalau dia saat ini cemburu. Tanpa harus mengatakan Ranum dan dia akan berakhir. Setelah bayi mereka lahir." Bagas merasa bahwa laki-laki itu harus melakukan sesuatu agar niat Al untuk berpisah dengan Ranum tidak akan pernah terjadi. "Aku harus bisa membuat Tuan Al dan Ranum lebih dekat lagi, agar rasa cinta di hati keduanya tumbuh. Karena hanya dengan cara begitu Tuan Al tidak berniat menceraikan Ranum," gumam Bagas pelan. Dan saat laki-laki itu masih saja menatap kepergian mobil Al tiba-tiba saja notif masuk ke ponselnya.


"Ada hal yang harus aku beritahu kepadamu, ini tantang Morea."


Isi pesan singkat itu membuat Bagas mengerutkan dahinya. "Morea, ada apa dengan wanita ular itu?" Bagas bertanya kepada dirinya sendiri. "Apa Sonia telah mengetahui sesuatu?" Bagas yang tidak mau menebak-nebak sendiri. Pada akhirnya memutuskan untuk kembali ke ruang rawat inap Rudy. Karena jika Sonia dalam mode serius gadis itu akan mengirim pesan singkat, beda halnya dengan mode jaim Sonia akan mengirimi Bagas pesan seperti koran dan dengan kata-kata puitis.


***


"Ada ap–"

__ADS_1


Sonia dengan cepat menutup mulut Bagas ketika laki-laki itu akan bertanya. "Jangan berisik, Ranum baru saja tidur," kata Sonia


menunjuk gadis yang sedang tidur dengan cara duduk di kursi dekat bed Rudy. "Kita bicarakan ini di luar saja, karena aku takut Ranum akan mendengarnya," bisik Sonia yang masih saja membungkam mulut kekasih hatinya itu. "Kita bicara di luar saja, sekarang jalan," ucap gadis itu yang mendorong tubuh kekar Bagas supaya keluar dari ruangan itu.


Bagas dengan cepat memegang tangan Sonia yang saat ini masih menutup mulutnya. "Aku kesulitan untuk bernafas, Sonia. Karena kamu menutup hidungku ikut serta," celetus Bagas sambil menurunkan tangan Sonia sambil bertanya, "Ada apa dengan Morea?"


"Aku bilang di luar," kata Sonia pelan sambil terus saja mendorong Bagas kaluar. "Di luar, jangan budek, Bagas," sambung Sonia.


Bagas lalu keluar dengan rasa penasaran yang semakin besar. Diikuti oleh Sonia di belakangnya.


*


Bagas terdiam setelah mendengar penuturan Sonia, yang mengatakan kalau Morea mengancam Ranum.


"Apa kamu yakin Ranum jujur?"


Refleks Sonia memvkvl Bagas dengan tas yang dipegang. "Jika tahu begini respon kamu, maka lebih baik aku tidak memberitahumu tadi," gerutu Sonia kesal karena mendengar pertanyaan Bagas. "Sia-sia aku membuang nafas, kalau ujung-ujungnya kamu malah meragukan apa yang telah aku sampaikan ini."


"Bukan meragukan kamu, tapi aku menanyakan tentang Ranum, apakah dia berkata jujur? Atau hanya untuk menutupi dirinya yang dilihat berduaan dengan Ryder, apalagi posisinya di gendong." Ternyata ini salah satu alasan Bagas sampai bisa bertanya seperti itu.


"Aku mengenal Ranum, dia anaknya jujur tidak neko-neko, lalu kenapa kamu masih meragukannya seperti ini?"

__ADS_1


"Aku harus menyelidiki dulu ini semua, supaya aku bisa mengambil kesimpulan," jawab Bagas yang kemudian berdiri dari duduknya. "Aku pamit dulu, kamu tolong awasi Ranum. Jangan biarkan dia pergi kemana-mana sendiri, karena jika benar Morea mengincarnya maka saat ini Ranum dalam bahaya."


***


Keesokan paginya terlihat Ranum sudah mengganti seragam sekolahnya dengan dress yang berukuran hanya sampai selutut, bermotif bunga-bunga. Gadis itu sekarang terlihat sedang menyuapkan sarapan semangkuk bubur untuk sang ayah yang kondisinya semakin lemah.


"Maafkan Ayah," ucap Rudy lirih. Karena tiba-tiba saja penyesalan merasuk ke relung hati pria paruh baya itu. "Maaf, maaf, maaf …."


Ranum menggeleng sambil menutup mulut ayahnya dengan jari telunjuknya. "Tidak ada yang perlu di maafkan Ayah, karena sebelum kata maaf itu keluar dari mulut Ayah, aku …." Ranum meletakkan telapak tangannya di dada. "Aku sudah memaafkan Ayah terlebih dahulu." Lalu Ranum terlihat mengusap bulir bening yang jatuh dari sudut mata sang ayah.


"Ayah benar-benar minta maaf sama kamu Ranum, sebelum Ayah menghembuskan nafas terakhir," kata Rudy sambil meraih tangan Ranum.


"Aku sudah memaafkan Ayah sejak jauh-jauh hari, dan ayah pasti akan sembuh sebentar lagi," balas Ranum menimpali.


Rudy menggeleng lemah. "Ayah tadi malam bermimpi, kalau ibumu telah mengajak Ayah pergi ke taman bunga yang sangat indah." Air mata Rudy semakin deras mengalir membasahi kedua pipinya yang keriput, ketika laki-laki itu menceritakan tentang mimpinya kepada putrinya yang saat ini tengah mengandung cucunya itu.


"Ibu hanya ingin menyampaikan kepada Ayah, kalau Ibu sudah berada di tempat yang indah," sahut Ranum dengan bibir yang tersenyum, tapi mata gadis itu sudah mulai di genangi oleh air mata. "Aku yakin, Ibu di atas sana juga pasti ingin Ayah sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasa."


"Waktu Ayah hanya tinggal hitungan jam, jadi Ayah minta tetaplah di sini," pinta Rudy dengan nafas yang mulai tidak beraturan.


...----------------...

__ADS_1



__ADS_2