Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 64


__ADS_3

"Jawab aku dengan jujur Ranum, karena orang yang menjawab dengan terbata-bata seperti itu pasti menandakan bahwa seseorang itu sedang berbohong," ucap Ryder yang terus saja mendesak Ranum untuk memberitahunya.


Ranum dengan hati-hati berdiri karena ia memilih untuk pergi saja dari kelas itu daripada terus-terusan berduaan begini dengan Ryder, nanti mulutnya bisa keceplosan lagi seperti tadi malam. Ketika ia memberitahu Al semuanya. Oleh sebab itu sekarang ia tidak mau hal serupa terjadi. "A-aku, harus pergi ke perpustakaan Ry, maaf aku tidak bisa menjawab pertanyaan kamu itu." Ketika Ranum akan pergi Ryder tiba-tiba saja menarik pergelangan tangan Ranum. "Lepaskan Ry, tidak enak nanti dilihat oleh anak-anak yang lain." Ranum berusaha melepaskan cengkraman tangan Ryder dari pergelangan tangannya. Akan tetapi, semakin ia mencoba melepaskannya semakin kuat pula Ryder mencengkram pergelangan tangan gadis itu.


"Ikut aku," kata Ryder yang kemudian mengajak Ranum untuk keluar bersama-sama dari kelas itu.


"Lepaskan aku, Ry!" Ranum berusaha memberontak tapi laki-laki itu tidak mau melepaskannya. "Apa yang kamu inginkan dariku, Ry? Tolong lepaskan aku, jangan sampai anak-anak yang lain salah paham kepada kita."


Seolah tuli Ryder tidak mendengarkan kalimat yang dilontarkan oleh Ranum. Laki-laki itu kini terlihat menyeret Ranum ke tengah lapangan. Entah apa yang akan Ryder lakukan kepada gadis yang terus saja memberontak itu.


Tidak lama setelah Ryder berhasil membawa Ranum ke tengah lapangan. Laki-laki itu langsung melepaskan tangan Ranum dan ia juga langsung berlutut sambil mengambil bunga dari belakang balik bajunya, rupanya dari tadi Ryder membawa bunga itu, akan tetapi Ranum tidak memperhatikannya.


"Apa yang kamu lakukan Ryder, cepat berdirilah. Aku tidak mau kita menjadi pusat perhatian seperti ini," kata Ranum yang terus saja menyuruh Ryder untuk berdiri. "Ayolah, jangan membuat aku malu," sambung Ranum yang melihat beberapa siswa dan siswi mulai menatap ke arah mereka.


"Sejak kamu baru masuk sekolah ini, sejak itu juga aku mulai menaruh rasa kepadamu Ranum. Jadi, izinkan aku untuk singgah di hatimu meski kita tidak pernah tahu bahwa kita akan berjodoh atau tidak." Setelah mengatakan itu Ryder lalu memberikan Ranum sebatang bunga mawar merah. "Maukah kamu menjadi pacarku? Jika iya maka ambil bunga mawar ini dan jika tidak kamu boleh membuangnya."


Ranum tercengang mendengar setiap kalimat yang diucapkan oleh Ryder. "Apa-apaan kamu Ry, cepat bangun, dan lihatlah sekeliling kita dimana para guru melihat kelakuan konyolmu ini," ucap Ranum pelan.


"Biar teman-teman, Ibu guru serta Bapak guru yang akan menjadi saksi bahwa kamu akan menolak cintaku atau menerimanya." Ryder masih saja betah berlutut di depan Ranum sambil memberikan gadis itu bunga mawar.


Ranum ingin berbalik karena ia takut nanti Al akan menjadi salah paham dengannya mengingat apa saja yang ia lakukan Al akan tahu itu semua karena suaminya itu memiliki mata-mata.


"Terima … terima … terima! Terima …!"


"Ayo, Ranum terima …!"

__ADS_1


"Terima saja Ranum … ."


"Jangan di tolak … terima saja …!"


"Cuit … terima dong. Masa gak, ah! Lemah!"


Suara sorak sorai teman-temannya membuat Ranum mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana meninggalkan Ryder.


"Ranum maukah kamu menjadi pacarku …?!" teriak Ryder dengan suara yang begitu lantang. Sehingga membuat siapa saja yang melihatnya semakin bertepuk tangan kegirangan.


Ranum menoleh kekiri dan kekanan hanya untuk melihat teman-temannya yang masih ramai mengelilinginya dengan Ryder.


"Jika aku tidak mengambil bunganya itu sama artinya dengan aku mempermalukan Ryder, Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan?" Ranum bertanya di dalam benaknya.


Karena ia merasa tidak akan tega mempermalukan Ryder di depan banyak siswa dan siswi seperti ini apalagi sebagian guru mereka melihat adegan ini.


"Aku terima bunganya saja, tapi aku belum akan memberikanmu jawabannya. Tunggu sampai kita selesai ujian semester akhir. Maka disana aku sudah siap menjawabmu." Ranum lalu pergi setelah mengatakan itu. Ia tidak menghiraukan teriakan sorak sorai teman-temannya lagi yang begitu heboh.


***


"Apa ada masalah di sekolahmu?" tanya Sonia ketika melihat Ranum hanya diam saja dari tadi.


"Tidak ada masalah. Aku cuma merasa mengantuk mungkin karena telat tidur semalam," jawab Ranum berbohong padahal gadis itu masih memikirkan tentang kejadian di sekolah beberapa jam yang lalu.


"Habis ngapain aja dengan Tuan Al, sehingga kamu telat tidur?" Sambil menyetir Sonia menaik turunkan alisnya ketika ia bertanya begitu kepada Ranum. "Cerita sama aku, supaya nanti kalau aku nikah sama Bagas akan tahu apa saja yang akan dilakukan oleh pasangan suami istri, please cerita ke aku. Pokoknya rahasia kamu aman karena hanya kita berdua yang tahu."

__ADS_1


"Jangan aneh-aneh Sonia, aku sama Tuan Al tidak melakukan apa-apa tadi malam," balas Ranum menimpali Sonia. "Jadi, tidak ada yang harus aku ceritakan kepadamu."


"Berduaan di hotel tidak melakukan apa-apa, sungguh terdengar sangat mustahil."


"Terserah kamu saja Sonia, kalau kamu tidak percaya tidak masalah yang terpenting aku sudah berkata jujur kepadamu." Ranum lalu memejamkan mata. Karena entah mengapa tiba-tiba saja kepalanya menjadi pusing karena menghadapi manusia seperti Ryder dan Sonia.


***


"Sedang apa laki-laki itu?"


"Saya rasa dia mengungkapkan perasaannya kepada Ranum, Tuan," jawab Bagas ketika Al menanyakan tentang apa yang dilakukan Ryder kepada Ranum.


"Apa kamu tahu tentang laki-laki itu?"


"Dia Ryder, putra dari Tuan Baskoro. Pengusaha tambang batu bara terkaya nomor empat di Jakarta ini, Tuan. Ryder sama seperti Ranum murid pindahan juga di sekolah itu, bedanya dia pindah baru satu bulan setelah itu baru Ranum." Bagas rupanya sudah mencari tahu terlebih dahulu siapa Ryder ketika salah satu anak buahnya mengirimkannya beberapa video dan foto Ranum ketika gadis itu di temb@k oleh Ryder. "Apa ada lagi yang mau Anda tanyakan?" Bagas bertanya ketika melihat Al hanya diam saja sambil menatap beberapa lembar foto Ranum.


"Tidak ada yang perlu aku tanyakan lagi Bagas, semuanya sudah jelas. Laki-laki itu namanya Ryder dan dia mengungkapkan perasaanya kepada Ranum. Terus apa lagi tadi …?"


"Maksud Anda yang mana Tuan?" Bagas malah bertanya balik.


"Lupakan saja Bagas, kamu datang-datang malah mengganggu jam kerjaku saja. Hal seperti ini tidak perlu kamu laporkan, biarkan saja dia berpacaran atau berkencan dengan siapapun aku tidak memperdulikan itu. Yang terpenting dia tidak berniat kabur dariku saja." Sebenarnya ada getaran aneh di hati Al ketika melihat video ketika Ranum di temba@k oleh Ryder. Namun, laki-laki itu memilih untuk tetap terlihat biasa saja. "Sudah sana kamu keluar saja Bagas, dan lanjutkan apa yang tadi kamu kerjakan."


"Apa Anda tidak cemburu Tuan, melihat istri Anda di tem–"


"Tidak," potong Al cepat. "Enyahlah dari hadapanku secepatnya, Bagas jangan sampai kamu melihat vas bunga ini melayang."

__ADS_1


__ADS_2