Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 68


__ADS_3

"Sepertinya aku harus membawa Ranum pulang ke rumah utama, bagaimana menurutmu Bagas?"


Bagas begitu terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Al, karena setelah beberapa bulan menikah dengan Ranum baru kali ini Al mengatakan untuk membawa Ranum ke rumah utama.


"Apa Anda yakin Tuan, ingin membawa Ranum pulang ke rumah utama?" Bagas malah bertanya balik kepada laki-laki yang sedang terlihat duduk sambil memutar-mutar pulpen.


"Aku tidak menerima pertanyaan Bagas. Jadi, jawab saja pertanyaanku yang tadi."


Bagas menggaruk tengkuknya yang tidak gatal saat mendengar ucapan Al. "Hm, begini Tuan, jika Anda akan membawa Ranum pulang maka Anda harus tetap waspada. Karena dirumah utama sekarang ada Nyonya More … maksud saya Morea, Tuan." Bagas tidak berani menyebut Morea dengan kata depan nyonya karena ia sudah diperingati oleh Al.


"Kamu benar juga, lantas apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus tetap menyembunyikan pernikahanku ini dari pria tua dan wanita ular itu?"


"Kenalkan saja Ranum kepada Tuan besar dan Morea, agar mereka tahu kalau Anda sudah menikah dan akan segera memiliki anak." Bagas menjawab dengan serius untuk kali ini.


"Apa keuntungan yang akan aku dapat setelah memberitahu mereka, coba katakan sekarang juga Bagas? Supaya aku merasa dapat sedikit saja keuntungan itu."


Bagas terdiam karena sedang memikirkan jawaban apa lagi yang akan ia berikan kepada Al.


"Sudahlah Bagas, tidak ada gunannya memikirkan hal yang bukan-bukan. Lebih baik kita pulang saja. Biarkan aku sendiri yang memikirkan keuntungan apa yang aku dapat setelah memberitahu mereka nanti."


"Bukankah? Tuan besar Daniel sudah berjanji, jika Anda berhasil memberikannya cucu maka semua harta warisannya akan langsung di berikan kepada cucunya itu." Bagas mengatakan itu karena ia baru saja mengingat tentang apa yang telah di katakan oleh Daniel beberapa bulan yang lalu tepat sebelum Al bercerai dengan Morea.


"Itu jika anakku dan Morea, Bagas! Kamu ini bagimana sih!" gerutu Al dengan mata yang melotot tajam ke arah Bagas.


"Coba Anda ingat-ingat lagi Tuan, bukankah sudah ada surat perjanjian yang di tulis Tuan besar Daniel. Mungkin Anda masih menyimpannya di laci kamar Anda di rumah utama." Ingatan Bagas memang luar biasa hal seperti itu masih di ingat olehnya. "Saya atau Anda yang akan mengambilnya?"


"Aku terkesan seperti orang yang gila harta kalau beegini Bagas."

__ADS_1


"Dari pada harta itu di kuasai oleh Morea, bukankah Anda sudah tahu maksud dan tujuan Morea masuk ke dalam keluarga Anda lagi. Maka Anda harus selangkah lebih maju terlebih dahulu dari pada Morea. Dan jangan sampai Anda terlambat," kata Bagas dengan suara yang penuh penekanan.


Al memang tidak pernah salah dalam memilih Bagas sebagai tangan kanannya. Lihatlah dan dengarkan apa yang di katakan Bagas, rupanya laki-laki itu bisa tahu semua rencana busuk Morea dan keluarganya.


"Kita mulai dari mana?" tanya Al tiba-tiba.


"Bawa Ranum ke rumah utama untuk sekedar memberitahu Tuan besar Daniel. Dan saat itu juga Anda harus meminta Tuan besar untuk menepati janjinya."


"Nanti sore, aku akan membawa Ranum ke rumah utama," balas Al menimpali Bagas.


***


Ranum heran ketika melihat banyak sekali dres dan gaun yang di bawa oleh Sonia.


"Pilih yang mau kamu pakai, ini semua pengeluaran Ezza Fashion, prusahaan suami kamu sendiri." Sonia berdekap tangan setelah meletakkan lima dres dan lima gaun di atas ranjang tempat Ranum sedang berbaring karena gadis itu ingin tidur siang.


Akan tetapi kedatangan Sonia yang secara tiba-tiba membuat mata Ranum yang ngantuk kini menjadi melotot sempurna sehingga rasa ngantuknya yang tadi seketika menghilang.


"Pilih saja Ranum, karena kata Tuan Al kamu akan di bawa ke rumah utama untuk di perkenalkan. Kepada Tuan besar Daniel, ayah mertua kamu yang menatunya saja di embat," kata Sonia dengan suara yang setengah berbisik. "Kamu harus pakai pakian yang tertutup-tutup, supaya mata keranjang Tuan besar tidak melirikmu. Karena kalau sampai itu terjadi maka …." Sonia menjeda kalimatnya.


"Jangan menakutiku, seperti ini, Sonia!" Ranum kemudian bangun dari tidurnya. "Aku tidak akan pergi ke rumah utama itu, kalau mendengar penuturan kamu saja aku jadi bergidik ngeri."


Sonia terkekeh mendengar Ranum. "Aku cuma bercanda Ranum, kerena Tuan besar tidak akan mungkin tertarik dengan gadis yang masih bau kecur seperti kita ini, percayalah. Sekarang pilih dan aku akan mendandanimu."


"Kamu memang sangat suka menakut-nakutiku, Sonia," gumam Ranum pelan.


"Sorry, aku suka melihat wajah ketakutanmu itu oleh sebeb itu aku merasa harus sering-sering membuat lelucon seperti ini," seloroh Sonia.

__ADS_1


***


Al sempat memtung ketika melihat Ranum menggunakan dres selutut, di tambah sedikit make up tipis-tipis ala-ala korea pada wajah gadis itu. Membuat Ranum terlihat begitu cantik dan tidak akan ada yang menyangka kalau gadis itu terlahir dari keluarga yang miskin. Sebab Ranum terlihat seperti wanita berkelas papan atas.


"Apa aku terlihat aneh, oleh karena itu Anda menatapku seperti itu Tuan?" tanya Ranum sambil memutar-mutar tubuhnya kekiri dan kekanan.


Al spontan menjawab dengan pelan. "Kamu cantik."


Ranum yang memang berdiri agak jauh dari Al tidak medengar laki-laki itu yang mengatakan kalau dia cantik. Sehingga membuat Ranum mengangkat sebelah alisnya. "Anda ngomong apa tadi, Tuan?"


Al dengan cepat merubah ekspresi wajahnya. "Tidak ada, aku cuka bilang kenapa kamu lama sekali?"


"Aku sudah siap Tuan, jadi ayo kita berangkat sekarang," ajak Ranum.


"30 menit, Bagas akan memberitahumu apa saja yang harus kamu katakan ketika berada di rumah utama nanti. Sekarang ikuti Bagas dulu, dan aku akan tetap disini untuk menunggumu."


"Tuan kenapa tidak Anda saja?" tanya Ranum heran karena kenapa harus Bagas, tidak Al saja yang memberitahunya langsung.


Al mengibaskan tangannya sambil berkata, "Aku mudah emosi Ranum, karena kamu sudah tahu sendiri aku ini seperti apa. Jadi, sana ikuti Bagas saja."


"Ayo Ranum, kita kesana sebentar saja." Bagas yang dari tadi berdiri di belakang Al membuka suara.


"Jangan buang-buang waktu Ranum, ikuti Bagas. Dia hanya akan memberikanmu sedikit saja materi seperti di seokahmu," ucap Al yang melihat Ranum tetap diam saja.


"Materi apa yang harus aku pelajari? Bukankah Tuan Al hanya mengajakku untuk pergi ke rumah orang tuanya saja. Lalu kenapa harus memakai materi segala? Ini sangat aneh!" gumam Ranum di dalam benaknya.


"Ranum," panggil Al dengan nada suara lembut.

__ADS_1


Detik itu juga Ranum segera mengikuti langkah kaki Bagas.


"Benar-benar menguji kesabaran sekali dia," batin Al.


__ADS_2