Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 51


__ADS_3

Ketika Al sedang menggambar rancangan gaun seperti biasa yang akan ia pamerkan di Negara-Negara tertentu. Tiba-tiba saja bel pada apartemennya berbunyi sehingga membuat laki-laki itu menyerngit heran karena tidak biasanya ada orang yang datang ke apartemennya apa lagi ini sudah pukul sebelas malam.


"Kenapa? Di saat aku sedang sibuk begini ada saja yang datang." Meskipun Al berkata begitu laki-laki itu tetap turun dari atas ranjangnya. "Apakah mata mereka buta? Sehingga tidak bisa melihat jam, kalau ini sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Yang artinya tuan rumah tidak boleh menerima tamu lagi, karena jam istirahat!" gerutu Al sambil terus melangkahkan kakinya. "Jika itu Bagas maupun Sonia maka, tamatlah riwayat kalian berdua berani mengangguku di jam sebelas malam begini." Laki-laki itu terus saja berbicara sendiri dan saat ia membuka pintu kamarnya Al malah kaget karena melihat Ranum yang sudah berdiri di depan sana.


"Tuan Al, maaf aku pikir kalau Anda sudah tidur, oleh karena itu aku tidak berani mengetuk pintu kamar Anda," kata Ranum sambil menunduk karena ia merasa malu.


"Kamu ngapain disini? Dan kenapa belum tidur?"


Ranum tidak menjawab gadis itu malah memberikan Al remot AC.


"Ada apa? Jangan diam saja, kalau kamu diam begini mana mungkin aku tahu maksudmu apa," kata Al yang berusaha berbicara lemah lembut kepada istrinya karena ia tidak mau kalau sampai Ranum berniat bvnvh diri lagi gara-gara dirinya yang berbicara lantang.


"Hm, AC di kamarku sangat dingin sekali Tuan, jadi aku berniat ingin mengecilkannya tapi … tapi, aku tidak bisa."

__ADS_1


"Nanti aku ke kamarmu, lebih baik kamu masuk saja dulu. Karena aku mau melihat siapa orang yang tidak memiliki sopan santun bertamu di jam orang beristirahat seperti ini." Al malah menyuruh Ranum untuk masuk ke dalam kamar. "Ponsel yang aku belikan untukmu mahal-mahal tapi kamu malah membuatnya menjadi pajangan saja, padahal kamu bisa menggunakannya untuk mencari informasi supaya kamu tidak perlu menanyakan hal seperti ini kepadaku."


"Tuan maaf, ponselku itu rusak ketika aku terjatuh di kolam ikan waktu itu," ucap Ranum berbohong padahal ponselnya dilempar beberapa kali ke lantai oleh Bianca tepat hari itu juga Aish menghembuskan nafas terakhir. "Aku benar-benar minta maaf Tuan."


"Kamu berbohong Ranum!" Setelah mengatakan itu Al langsung pergi menuju pintu depan di mana bel itu terus saja berbunyi.


*


Ketika Al membuka pintu ia terkejut karena Morea dan Daniel sudah berdiri di sana. Al lalu dengan cepat berkata, "Aku tidak menerima tamu mulai dari jam sepuluh malam sampai ke atas! Jadi, Papa tolong antar selingkuhan Papa ini pulang saja," kata Al yang sudah mulai mengatakan itu secara terang-terangan.


"Kamu jangan semakin kurang ajar Al, punya mulut asal bicara saja. Bagaimana jika nanti ada yang mendengar ucapanmu itu? Yang mengira Papa berselingkuh dengan Morea," sahut Daniel ikut menimpali Al. "Justru wanita seperti Morea tidak akan pernah kamu dapatkan, karena dia selalu menemani Papa kemanapun itu. Karena dia tahu bagaimana kondisi kesehatan Papa. Maka dari itu kamu harus banyak-banyak bersyukur karena jarang-jarang wanita ada yang perhatian sama mertuanya seperti Morena ini."


"Sudahlah Pa, jangan berlebihan begitu," ucap Morea sambil mengibaskan rambutnya kekiri dan kekanan karena saat ini ia bermaksud tebar pesona kepada mantan suaminya itu.

__ADS_1


"Jam sebelas, aku mau istirahat dan aku minta Papa bawa pulang Morea jangan sampai gara-gara ini, nanti aku tidak masuk ke kantor lagi," kata Al yang berusaha untuk melepaskan tangan Morena dari lengannya. "Jangan seperti wanita yang benar-benar tidak punya urat malu Morea. Sekarang lebih baik kamu pulang!" bentak Al yang sudah merasa sangat geram.


"Mas, aku mau menginap di apartemen barumu ini apa boleh?"


"Wanita pendosa karena telah menjadi pelakor sepertimu tidak pantas untuk menginjakkan kaki di apartemenku ini!" jawab Al ketus, lalu laki-laki itu dengan cepat menutup pintu apartemennya setelah berhasil melepaskan tangan Morea dari lengannya tadi. "Kurang ajar! Mereka sudah tahu apartemenku ini, jadi kemungkinan besar Morea akan terus saja datang kesini. Ah, s*al!"


***


Ranum terbangun dari tidurnya karena ia mendengar suara orang yang ribut-ribut. "Baru jam lima pagi, tapi kenapa di luar ada suara orang ribut-ribut?" Ranum menguap karena gadis itu benar-benar merasa masih sangat ngantuk sekali gara-gara semalam ia telat tidur hanya perkara AC yang suhunya sangat dingin. "Kira-kira sia–" Kalimat Ranum terputus di saat melihat seorang wanita yang begitu seksi dengan lekuk tubuh bak gitar spanyol, ditambah dua benjolan yang hampir saja menyembul keluar dari wadahnya yang saat ini berdiri di depan pintu. Ranum yang melihat itu merasa malu sendiri karena lekuk tubuh gadis itu hampir mirip dengan wanita yang sedang berdiri itu.


"Oh, rupanya kamu simpanan Mas Al, pantasan saja Mas Al sekarang berpaling dariku!" Morea menatap Ranum dengan tatapan mata yang begitu tajam. "Kamu masih muda, tapi doyan sama suami orang, cih! Sangat menjijikkan sekali!" Morea baru akan mendekat akan tetapi Al menarik pergelangan tangan wanita itu.


"Keluar Morea! Masih pagi buta begini kamu malah membuat keributan di apartemenku, Bagas! Seret dia keluar dari sini!" Urat-urat pada leher Al telihat karana suara laki-laki itu bagaikan toa. "Datang ke apartemenku cuma buat kegaduhan! Sungguh kamu tidak punya otak Morea!"

__ADS_1


"Kamu yang tidak punya otak Mas, bisa-bisanya kamu berduaan di apartemen begini, dengan gadis yang sepertinya seumuran dengan keponakanku Bianca!" Suara Morea tidak kalah tingginya. "Kamu selalu saja menganggapku wanita kotor dan hina Mas, sedangkan kamu lihat!" Morea menunjuk Ranum. "Kamu malah merusak anak gadis orang! Disini kamu yang tidak punya otak!" Morea marah karena wanita itu sangat merasa cemburu untuk saat ini. "Kamu kurang ajar Mas Al!" Morea memekik dan dengan gerakan cepat melepaskan tangan Al yang sedang memegangnya. "Aku bela-belain, bangun pagi-pagi buta begini hanya untuk mengantarkan kamu sarapan. Tapi lihat pamandangan yang aku lihat ini!" teriak Morea histeris. "Sekarang Mas tidak ada bedanya denganku yang sama-sama berlumuran dosa!" Morea yang merasa kepalanya sudah mengeluarkan asap, wanita itu dengan segera menghampiri Ranum yang masih planga-plongo.


"Jika kamu sentuh dia! Maka kamu akan tahu sendiri akibatnya Morea!" Meski Al berteriak untuk memperingati Morea. Tapi wanita itu seolah tidak peduli.


__ADS_2