Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 84


__ADS_3

Saat mengingat kejadian semalam Ranum menjadi sedikit takut dengan Al oleh sebab itu, ketika gadis itu diajak sarapan bersama oleh Al, ia menggeleng. "Aku akan sarapan di sekolah saja nanti, Tuan." Ranum menunduk ketika gadis itu membalas ucapan Al.


"Apa kau takut denganku?" tanya Al tiba-tiba.


Lagi-lagi Ranum menggeleng kuat. "Tidak Tuan, aku sama sekali tidak takut dengan Anda," jawab Ranum dengan suara yang sedikit pelan.


"Lantas kenapa kamu berdiri sangat jauh?" Al kembali mengunyah sarapannya sambil menatap gadis yang saat ini sedang meremas ujung seragam sekolah yang kebesaran itu. "Apa aku salah, karena telah meminta hakku seperti yang tadi malam?" Pertanyaan Al tiba-tiba saja membuat Ranum mengingat kejadian yang tadi malam, dimana sang suami benar-benar membuatnya seperti terbang melayang di atas awan.


"Lupakan apa yang telah terjadi tadi malam Tuan, dan anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa antara kita berdua." Ranum menjawab dengan jantung yang berdetak kencang.


Al spontan melepaskan sendoknya dan menggeser sepiring sarapan yang belum habis itu, saat mendengar Ranum menyuruhnya melupakan kejadian yang semalam. "Aku memang dalam keadaan mabuk tadi malam, tapi aku bisa mengingat apa saja yang aku lakukan tadi malam kepadamu." Al mendorong sedikit kursi yang ia duduki. Sebab laki-laki itu ingin berdiri. "Apa jangan-jangan kamu tidak sudi digauli olehku? Maka dari itu kamu menyuruhku untuk melupakan kejadian yang tadi malam, apa benar begitu?" Al terlihat mendekati Ranum.


"Tuan bukan begitu maksudku."


"Lalu apa maksudmu?" Mata Al yang seperti mata elang tidak henti-hentinya melihat wajah gugup Ranum.


"Aku berangkat sekolah dulu Tuan, karena sepertinya Sonia sudah menungguku." Ranum memilih mengabaikan pertanyaan Al. "Kalau begitu aku pa–"


"Aku yang akan mengantarmu ke sekolah mulai hari ini, sehingga mulai hari ini juga Sonia tidak akan menjemputmu lagi. Itu atas permintaanku sendiri," potong Al dengan suara yang tegas. "Maka ayo, kita berangkat sekarang saja," ucap Al yang meraih tangan Ranum sebab laki-laki itu ingin mengajak gadis yang sedang hamil itu berangkat ke sekolah. "Jangan seperti patung, ayo jalan. Nanti kamu bisa terlambat," sambung Al saat melihat Ranum tidak mau jalan.


"Bagaimana kalau Tuan Al melihat jalanku yang seperti orang menahan sakit? Karena di bawah sana terasa sangat perih sehingga jalanku menjadi tidak seperti biasa," batin Ranum. Sambil menggigit bibirnya karena ia tidak mungkin mengatakan itu semua kepada Al. Akan tetapi saat gadis itu sibuk dengan isi pikirannya sendiri tiba-tiba saja Al mengukurkan tangan dan memberikan gadis itu salep.

__ADS_1


"Obati luka di bagian …." Al tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena ia tahu pasti Ranum saat ini sangat malu. "Maaf, karena tadi malam aku bermain sangat kasar, sehingga kamu merasa sakit di bagian sana. Tapi percayalah lama-kelamaan kamu akan terbiasa," lanjutnya.


Ranum saat ini merasa kalau Al memiliki indra ke 6 sehingga laki-laki itu bisa tahu apa yang dirasakan oleh gadis itu. "Tu-tuan, a-aku … ti-tidak, membutuhkan salep ini," kata Ranum terbata-bata, yang kini malah menyuruh Al untuk kembali menyimpan salep itu. "Simpan saja Tuan."


Al menggeleng. "Pakai, supaya jalanmu tidak terlihat aneh," balas Al menimpali dan menaruh salep itu di tas Ranum. "Aku sudah berpengalaman dalam hal itu. Jadi, kamu tidak usah mencari-cari alasan untuk menolak salep itu. Dan jangan merasa malu, sebab aku suamimu bukan orang lain." Al berjalan keluar setelah mengatakan itu. "Pakai itu di kamar mandi saja, aku akan menunggumu di mobil!" seru Al sedikit berteriak karena laki-laki itu sudah sampai di ambang pintu.


"Saat ini aku benar-benar merasa malu," gumam Ranum membatin karena ia tidak menyangka Al bisa tahu sedetail itu.


*


Di dalam mobil.


Ranum yang tadi menatap lurus ke depan segera memalingkan wajahnya ke samping karena pertanyaan Al lagi-lagi membuat gadis itu merasa sedikit malu.


"Aku hanya bertanya, tentang kamu yang sudah mengobatinya atau belum, lantas kenapa kamu memalingkan wajah?" Al melihat ke arah samping saat ia bertanya seperti itu kepada sang istri.


"Aku sudah mengobatinya, Tuan." Ranum menjawab singkat sambil terus menatap ke luar jendela, dimana ia bisa melihat mobil yang berlalu lalang di kota jakarta yang saat ini tengah mengalami kemacetan sepanjang jalan.


Saat Al terus saja melihat ke samping, tiba-tiba saja laki-laki itu merasa jantungnya berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Sehingga ia merasa aneh dengan dirinya sendiri sebab dulu saat ia jatuh cinta dengan Morea debaran di jantungnya sama persis seperti ini. "Apa aku telah jatuh cinta dengan gadis yang telah mengandung anakku ini?" Al bertanya di dalam benaknya. "Sepertinya tidak mungkin," sambungnya membatin. Sehingga suara klakson yang bersahut-sahutan membuat laki-laki yang sedang sibuk dengan isi pikirannya sendiri itu langsung terperanjat dan dengan cepat menginjak pedal gas. Karena dari tadi Al berhenti di tengah-tengah jalan sehingga menghalangi pengendara yang lain.


"Apa Anda melamun Tuan?" tanya Ranum tiba-tiba setelah gadis itu lama terdiam. Dan kini ia terlihat berani menatap Al.

__ADS_1


"Iya, aku memikirkan pekerjaan kantor," jawab Al berbohong.


***


Setelah mengantar Ranum sekolah, Al dengan cepat menuju ke kantornya akan tetapi di tengah jalan ponselnya berdering. "Bagas, ada apa dia meneleponku?" Tangan Al dengan cepat mengangkat panggilan itu.


"Tuan, keadaan kantor saat ini sangat kacau," ucap Bagas yang berbicara dengan Al. "Tuan besar Daniel sudah mengubah nama pemilik perusahaan menjadi nama Morea, sehingga membuat yang lain merasa heran." Bagas mengatakan itu dengan suara yang terdengar sangat gelisah di seberang sana.


"Tua bangka itu benar-benar b*doh! Hanya modal s*l@ngk*ngan dan pah@ dia menyerahkan semuanya kepada wanita ular yang sangat menjijikan itu!" geram Al ketika ia mendengar penuturan Bagas.


"Jadi apa yang harus saya lakukan Tuan?" tanya Bagas.


Al terdengar menghembuskan nafas kasar sebelum menjawab, "Jalan lakukan apa-apa sebelum aku datang, ikuti saja apa yang diinginkan oleh kedua manusia itu." Al mencengkan stir itu dengan erat karena ia saat ini benar-benar merasa sangat marah. "Bisa-bisanya pria paruh baya itu berubah menjadi tidak punya otak begini."


"Tuan, kalau begitu saya akan memutuskan panggilan telepon ini. Karena sepertinya Tuna besar memanggil saya."


"Jangan katakan kalau kamu sudah memberitahuku, Bagas. Kamu hanya cukup diam dan ikuti alur permainan ini," kata Al yang memperingati Bagas.


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2