Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 129


__ADS_3

Meski hati Al sedikit tersentuh namun laki-laki itu tetap keras kepala tidak mau memaafkan sang ayah, apalagi mengajak Daniel ikut pulang bersamanya, itu sama sekali tidak akan pernah Al lakukan. Sehingga laki-laki itu dengan kasar menarik pergelangan tangan sang istri supaya menjauh dari pria paruh baya itu.


"Pulang Ranum, tidakkah kamu melihat semua orang melihat kita saat ini," kata Al sambil terus menyeret sang istri.


"Mas, tangan papa gemetaran. Mungkin saja papa saat ini sedang kelaparan," ucap Ranum sambil terus mencoba melepas tangan sang suami dari pergelangan tangannya. "Jangan begini Mas, karena nanti kita bisa saja menyesal karena telah memperlakukan papa seperti ini, aku mohon lepaskan tanganku."


Al tidak peduli laki-laki itu malah semakin erat memegang pergelangan tangan Ranum, sehingga terlihat ada bekas kemerahan di pergelangan tangan sang istri. "Jalan Ranum, jangan hiraukan dia. Dan apakah kamu lupa bagaimana kita berusaha keluar dari kantor 5 bulan yang lalu? Dalam keadaanku dan keadaanmu yang saat itu sangat lemah. Apa laki-laki tua itu peduli sama kita? Di saat kita berjuang antara hidup dan mati."


Ranum lagi-lagi hanya bisa meneteskan air mata. "Jangan ingat yang sudah berlalu Mas, sekarang bukan waktunya untuk balas dendam. Pada papa, laki-laki yang telah membuat Mas menjadi seperti sekarang ini." Ranum memang mengingat semuanya. Akan tetapi, wanita itu sudah lama memilih untuk berdamai dengan keadaan. Supaya ia bisa menjalani hidup dengan hati yang bersih tidak menaruh dendam pada siapa pun. "Mas ...," panggil Ranum sambil menarik-narik baju Al dengan tangan yang satunya lagi. "Biarkan aku memberikan papa uang untuk membeli makanan dan membeli baju yang layak di pakai. Aku janji setelah itu kita akan langsung pulang."


Mendengar itu Al akhirnya mau melepaskan tangan sang istri. "Pergilah, cuma 5 menit saja. Kalau lebih dari itu maka aku akan menyeretmu secara paksa lagi," ucap Al yang sekarang mengizinkan Ranum pergi hanya untuk memberikan Daniel sejumlah uang. "Cuma 5 menit saja Ranum, kamu harus ingat itu," lanjut Al memperingati sang istri.


"Iya Mas, cuma 5 menit, Mas sekarang lebih baik tunggu aku di dalam mobil saja bersama Agna." Ranum lalu terlihat mengambil dua paper bag yang tadi berisi makanan yang dibungkus. "Untuk papa, Mas jangan marah." Setelah mengatakan itu Ranum kemudian langsung berlari menuju Daniel yang masih duduk di bangku yang tadi. Namun, saat langkah kaki wanita itu akan sampai pria paruh baya itu langsung jatuh tersungkur ke tanah. Membuat Ranum berteriak histeris. Sebab, bayangan Rudy yang dulu meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya seakan-akan menari di pelupuk mata wanita itu.

__ADS_1


"Papa ...!" teriak Ranum sehingga membuat tatapan mata orang-orang yang sedang berlalu-lalang di parkiran itu langsung tertuju padanya. "Mas Al, papa Mas!" Ranum semakin berteriak histeris dan segera duduk untuk menjadikan pa hanya sebagai bantal untuk ayah mertuanya itu yang saat ini sedang pingsan. "Mas Al, papa pingsan!" seru Ranum yang berharap hati sang suami akan terbuka setelah melihat Daniel dalam keadaan begini. "Mas ...!" Ranum beberapa kali melirik ke arah mobil Al. Sambil terus saja memanggil ayahnya Agna itu.


Sedangkan Al yang melihat sang ayah pingsan hanya berdiam di dalam mobil, karena laki-laki itu sama sekali tidak berniat untuk membawa Daniel pergi ke rumah sakit. "Karma sedang berjalan sesuai hukum alam yang berlaku," gumam Al pelan. Tapi siapa sangka pada detik berikutnya laki-laki itu malah keluar dari dalam mobilnya dan dengan segera menghampiri Ranum yang terlihat saat ini sedang menepuk-nepuk pipi Daniel. Mungkin saja wanita itu berharap kalau Daniel sadar dan membuka mata.


***


"Apa laki-laki tua itu memiliki riwayat penyakit yang serius?" tanya Al pada dokter yang tadi menangani Daniel. Karena rupanya laki-laki itu tadi mau membawa sang ayah ke rumah sakit.


"Begini Tuan Al, dari hasil pemeriksaan saya tadi, kalau Tuan Daniel ternyata memiliki riwayat penyakit asam lambung, karena mungkin saja Tuan Daniel jam makannya tidak pernah teratur, dan saya juga melihat di pa ha Tuan Daniel ada pembengkakan yang sepertinya itu luka lama tapi tidak pernah diobati, yang sepertinya menyebabkan infeksi karena bakteri," jawab dokter itu menjelaskan semuanya pada Al.


Al memikirkan setiap kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Herdi, sehingga detik berikutnya laki-laki itu mengangguk tanda setuju. "Lakukan yang terbaik, dan usahakan laki-laki itu cepat sembuh. Karena saya tidak punya banyak waktu untuk terus-terusan datang ke sini, hanya untuk melihat bagaimana kondisinya," ucap Al yang sekarang terlihat berdiri. "Saya juga minta, tolong Dokter Herdi kirimkan saya berapa biaya administrasinya melalui whatsapp, supaya saya bisa langsung mentransfer biayanya itu," kata Al sebelum laki-laki itu melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan dokter itu.


"Baik Tuan Al, saya akan segera mengecek berapa biaya administrasinya," balas Herdi menimpali Al, yang sekarang ayahnya Agna itu terlihat sudah hampir sampai di pintu.

__ADS_1


"Lebih cepat lebih baik, Dok," ujar Al yang sekarang sudah terlihat benar-benar menjauh dari ruangan Herdi, dokter kepercayaan keluarganya dulu.


**


Saat Al sudah masuk ke dalam ruang rawat inap sang ayah, laki-laki itu malah dibuat kaget oleh sang ibu yang ternyata sudah ada di sana, san saat ini Anggun terlihat sedang menangis di sebelah bed Daniel.


"Mama," panggil Al pelan.


Membuat Anggun menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya saat ini. "Al, dimana kamu menemukan Papa kamu 'Nak?" tanya Anggun langsung yang tidak tahu tentang apa yang telah terjadi sebenarnya. "Al jawab Mama," kata Anggun saat putranya itu hanya diam saja.


"Mama kenapa bisa ada di sini?" Al malah bertanya balik pada sang ibu.


"Itu tidak penting Al, yang terpenting sekarang, dimana kamu menemukan Papa kamu?" Dengan air mata yang terus saja mengalir Anggun terus saja bertanya pada putranya itu.

__ADS_1


Al yang di tanya malah melihat ke arah sang istri yang saat ini sedang duduk di kursi dekat tembok sambil memberikan Agna Asi. "Apa Ranum yang telah memberitahu Mama?"


Anggun menggeleng kuat. "Mama kesini sama Sonia, karena kebetulan hari ini jadwal Mama kontrol." Anggun terpaksa berbohong karena ia tidak mau kalau sampai Al akan memarahi Ranum. Karena sebenarnya, tadi ketika Al pergi ibunya Agna itu dengan cepat menghubungi Anggun dan memberitahu semuanya tanpa terkecuali.


__ADS_2