
Pvkvl 16:02 Ranum dengan cepat menyuruh Sonia untuk mengganti pakaiannya. "Ayo kita pergi sekarang saja, siapa tahu pertunjukan itu sudah dimulai," ucap Ranum.
Sonia yang masih berbaring di atas ranjang terlihat enggan untuk bangun. "Palingan juga pertunjukkan topeng m*nyet," seloroh Sonia sambil memejamkan mata. "Aku ngantuk kamu saja yang pergi sendiri. Nanti aku bilangin sama Tuan Al."
"Astaga Sonia, Tuan Al tidak akan mengizinkan aku tanpa kamu. Ayolah jangan begini." Ranum menarik-narik kaki Sonia. "Itu juga bukan pertunjukkan topeng m*nyet seperti yang kamu pikirkan di dalam otakmu itu." Gadis yang sedang hamil itu terus saja memaksa Sonia untuk bangun karena dari tadi Ryder sudah mengirimkannya pesan kalau laki-laki itu sudah tiba di lapangan itu. Sehingga membuat Ranum terus saja memaksa Sonia.
"Aku minta Bagas ya, untuk menemanimu pergi kesana, karena kebetulan tadi dia mengatakan kalau tidak sibuk." Saat mengatakan itu mata Sonia masih saja betah terpejam. "Kamu tolong hubungi dia dulu, nanti biarkan aku yang bicara," ucap Sonia sambil menyerahkan ponselnya kepada Ranum. Bermaksud menyuruh gadis itu untuk menelepon Bagas.
"Bagas sibuk, jangan ganggu dia Sonia."
Mendengar itu Sonia langsung bangun dari tidurnya, dengan mata yang sudah terbuka sempurna. "Darimana kamu tahu, kalau Bagas sibuk?"
"Aku tahu karena Tuan Al sibuk juga. Jadi, otomatis Bagas sibuk," jawab Ranum.
"Huh, ya sudah, aku mau mandi sebentar supaya Rasa ngantukku ini menjadi hilang, kamu tunggu saja aku disini."
"Jangan lama-lama tapi ya," pinta Ranum yang tidak mau kalau Sonia mandi berlama-lama. "Agar kita tidak telat," sambung gadis itu.
"Aku akan usahakan, karena aku kalau mandi super-duper lelet," sahut Sonia menimpali Ranum. "Aku berharap kamu akan sabar dalam menungguku."
Mendengar itu Ranum langsung duduk lesu. "Baiklah, karena tidak ada pilihan lain maka aku setuju untuk menunggumu disini sampai kapanpun kamu berhenti mandi."
"Aku cuma bercanda, aku akan mandi secepat kilat. Kamu jangan cemberut karena nanti bayi yang ada di dalam sana ikut-ikutan cemberut." Setelah mengatakan itu Sonia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
"Semoga saja Ry, tidak bosan menungguku karena aku yang telat datang ke sana, gara-gara Sonia yang pakai acara mandi segala," batin Ranum.
__ADS_1
***
Setiba di lapangan itu, Ranum bergegas menghampiri Ryder yang saat ini terlihat sedang melambai-lambaikan tangannya ke arah Ranum dan juga Sonia.
"Ranum, aku disini!" seru Ryder setengah berteriak di keramaian itu.
Sonia yang melihat itu mendadak sakit kepala sebab ia mengingat cerita Bagas kalau Ranum akan berhenti sekolah gara-gara Al yang cemburu dengan Ryder. "Aku dalam masalah besar, karena telah membawa Ranum kesini," gumam Sonia membatin.
"Ayo kita ke sana." Ranum menunjuk Ryder yang masih saja melambai-lambaikan tangan.
"Jadi, kamu kesini hanya ingin berkencan dengan Ryder?"
"Bukan berkencan karena aku dan Ryder bukan pasangan kekasih." Ranum dengan wajah bahagia terus saja berjalan. "Ryder sudah aku anggap sebagai kakakku jadi, kamu tidak usah berpikiran buruk karena kamu sudah tahu sendiri saat ini statusku bukan gadis lagi, melainkan seorang istri," sambung Ranum.
Ranum ikut menghentikan langkah kakinya, ketika gadis itu mendengar ucapan Sonia. "Kamu benar juga, sepertinya aku harus memberitahu Ry hari ini juga." Ranum tiba-tiba juga merasa kasihan dengan laki-laki yang sebaik Ryder.
"Pergilah, aku tidak akan mengatakan ini kepada Bagas maupun Tuan Al nanti." Sonia mendorong pelan tubuh Ranum supaya gadis itu melangkahkan kakinya. "Semua orang berhak bahagia, termasuk kamu maupun Ryder." Sonia lalu mundur dan langsung pergi setelah mengatakan itu.
"Aku harus berterus terang kepada Ry, sebelum aku semakin dalam menggores luka pada hatinya," batin Ranum.
*
"Kenapa lama sekali?" Ryder bertanya ketika ia dan Ranum sudah duduk di sebuah bangku yang tidak terlalu ramai tidak seperti tadi di lapangan, yang dikerumuni orang-orang yang sangat ramai sehingga untuk bergerak saja mereka kesulitan karena berdesak-desakan.
"Aku habis menunggu tuan putri Sonia mandinya lama banget, padahal dia bilang cuma sebentar," jawab Ranum yang terlihat saat ini sedang menyedot es kelapa muda.
__ADS_1
"Aku sampai lupa padanya, dimana dia sekarang? Dan kenapa kamu tidak ajak saja dia?"
"Dia katanya tidak terlalu suka dengan keramaian, makanya memilih untuk menungguku di dalam mobil saja," jawab Ranum berbohong. "Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kamu Ry," ujar Ranum.
"Tentang masalah apa?"
Ranum menunduk sedih karena mungkin ini saatnya kalau Ryder harus tahu tentang statusnya saat ini dan tentang keadaanya yang tengah hamil. "Aku … aku, akan berhenti sekolah."
"Kenapa? Apa kamu mulai merasa risih denganku?" Ryder malah bertanya seperti itu.
"Bukan karena itu."
"Lalu …?"
"Suamiku memintaku untuk berhenti sekolah saja, karena dia takut nanti aku melahirkan di sekolah mengingat usia kehamilanku sudah mulai memasuki bulan keenam." Ranum menjawab tanpa berani menatap wajah tampan laki-laki yang telah mengungkapkan isi perasaannya itu kepadanya.
Ryder bukannya terkejut laki-laki itu malah meraih tangan Ranum. "Turuti apa yang dikatakan oleh suamimu, karena surga ada di bawah telapak kakinya."
"Kamu kenapa tidak terkejut mendengarku?"
Ryder memaksakan bibirnya untuk tersenyum. "Aku sudah tahu, waktu di rumah sakit. Jadi, tidak ada yang perlu dikagetkan," jawab Ryder santai padahal hati laki-laki itu sangat hancur. "Aku akan menunggumu sampai kapanpun itu, meski kamu adalah istri orang."
"Ry, maafkan aku. Bukan maksudku membuat hatimu terluka seperti ini." Bulir bening mulai membasahi pipi Ranum karena ia tidak menyangka kalau Ryder memang laki-laki yang sangat baik. "Aku benar-benar minta maaf ...."
"Tidak ada yang perlu di maafkan Ranum, kamu cukup jalani saja hidup ini seperti apa adanya, karena Sang pemilik alam semesta ini lebih tahu garis takdir setiap hambanya." Ryder lalu mengusap air mata Ranum dengan sapu tangan yang ia keluarkan dari sakunya. "Jangan membuat bola mata indahmu ternodai dengan air mata," sambung Ryder.
__ADS_1