
Ranum benar-benar tidak bisa tidur karena ia memikirkan perkataan Al yang memintanya untuk pergi setelah anak mereka lahir. "Ya Tuhan, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Tuhan tolong berikan aku petunjuk," ucap Ranum lirih karena bayangan Al yang akan memisahkannya dengan bayinya sendiri seakan-akan menari di pelupuk matanya. "Dulu aku sangat berharap Tuan Al mengakui anak ini, tapi sekarang setelah Tuan Al mengetahui semuanya kenapa aku malah menjadi takut begini? Takut karena Tuan Al akan benar-benar memisahkan aku dari anakku." Ranum terus saja menghadap kekiri dan kekanan. Sambil terus mengelus perut buncitnya.
"Apa kamu sedang memikirkan jawaban apa yang akan kamu berikan kepada kekasih pujaan hatimu itu?" pertanyaan Al membuat Ranum kaget sehingga gadis itu terlihat mengelus d*danya beberapa kali. "Hai, jawab aku! Kenapa kamu malah mengelus d*da?" Al kemudian melihat Ranum yang bangun dan segera duduk dan bersandar pada headboard ranjang itu. "Sekarang apa keputusanmu, Ranum?"
"Keputusan apa yang Anda maksud, Tuan?"
"Keputusan apa yang akan kamu berikan kepada Ryder anak pengusaha tambang batu bara itu, aku yakin kamu pasti mau menerimanya." Al kini terlihat mulai menaruh b*kongnya di pinggir ranjang itu sambil terus saja menatap Ranum.
"Tuan, aku sama sekali tidak memikirkan semua itu yang saat ini sedang aku pikirkan adalah …." Ranum menjeda kalimatnya. Karena ia tidak tahu harus jujur atau tidak.
"Apa?"
Pada saat mendengar pertanyaan Al, Ranum segera mendekat ke arah sang suami dengan cara merangkak. "Tuan, aku akan memilih untuk tetap berada disisi Anda, meskipun Anda mengusirku berulang kali ataupun puluhan bahkan ribuan kali aku tidak akan pernah pergi, karena aku ingin tetap bersama calon bayi kita ini." Ranum mengatakan itu karena gadis itu benar-benar tidak mau di pisahkan dengan darah dagingnya sendiri. "Tidak apa-apa Anda menceraikanku Tuan, asal aku tetap bisa bersama dengan anakku. Karena aku tidak akan mungkin bisa jauh darinya." Ranum seperti biasa akan mengelus perutnya bila ia merasa bayi itu bergerak lincah di dalam sana.
"Bagaimana dengan masa depanmu? Bukankah kamu bercita-cita ingin menjadi dokter gigi?"
__ADS_1
Ranum yang mendengar pertanyaan Al menggeleng. "Aku akan mengubur cita-citaku itu dalam-dalam Tuan, dengan begitu aku tidak akan pernah mengingat lagi tentang cita-citaku itu." Iya, Ranum telah membulatkan tekadnya untuk membuang jauh-jauh keinginannya yang akan menjadi dokter gigi hanya demi buah hati yang masih ada di dalam rahimnya."
"Lalu dengan Ryder?"
"A-aku, akan me-menolaknya juga Tuan, karena bagiku sekarang anakku adalah segala-galanya, karena cuma dia satu-satunya keluarga yang aku miliki di dunia ini. Setelah Ayahku memutuskan untuk tidak mengakuiku lagi sebagai putrinya." Ranum menggigit kecil bibirnya saat gadis yang sudah tidak per@wan itu berkata begitu.
Dada Al sakit ketika mendengar itu semua. Padahal Al belum memiliki perasaan apapun kepada Ranum. Akan tetapi entah mengapa Al selalu saja akan merasa hatinya sakit ketika mendengar setiap ucapan menyedihkan dari mulut gadis yang telah ia nikahi beberapa bulan yang lalu itu. "Tidurlah, besok aku akan memberikanmu jawaban atas apa yang telah kamu katakan ini, karena untuk malam ini aku belum bisa memutuskan apa-apa. Di saat tenaga serta energi pada otakku habis terkuras oleh pekerjaan yang ada di kantor. Aku harap kamu mengerti akan hal itu Ranum." Al lalu terlihat membaringkan tubuhnya di atas kasur kamar hotel yang begitu empuk itu.
"Semoga jawaban yang akan Tuan Al berikan, membuatku bisa bernafas lega, bukan malah membuatku putus asa lagi menjalani hidup ini," gumam Ranum membatin.
Setelah kejadian dua hari yang lalu Ranum terus saja berusaha menjauh dari Ryder akan tetapi laki-laki yang terus Ranum jahui semkain mendekat seakan tidak menghiraukan gadis itu yang merasa risih dan ilfeel terhadap Ryder. Seperti saat ini ketika Ranum sedang membaca buku di perpustakaan sekolahnya. Tiba-tiba Ryder malah datang membawakan gadis itu coklat dan buket bunga.
"Hai, apa boleh aku duduk di sini?" Ryder bertanya kepada Ranum karena ia takut asal duduk saja. Dan itu akan bisa membuat Ranum pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata seperti satu hari yang lalu. Ketika Ryder asal duduk saja tanpa meminta persetujuan dari gadis itu. "Ranum, apa boleh?" tanya Ryder sekali lagi karena ia tidak mendengar jawaban dari mulut Ranum.
"Ry, tolong untuk saat ini jangan dulu menggangguku, karena aku takut konsentrasi belajarku akan terganggu sehingga menyebabkan nilai ku besok ketika ujian semester akhir menjadi anjlok dan tidak lulus." Ini adalah alasan yang paling masuk akal yang dibuat oleh Ranum supaya Ryder tidak terus-terusan mengikutinya kemanapun ia pergi. "Aku mohon untuk kali ini saja."
__ADS_1
"Aku lihat di kelas kamu anak paling pintar setelah aku, jadi aku merasa tidak mungkin kalau kamu tidak akan lulus mengingat semua nilai kamu di setiap mata pelajaran selalu A." Ternyata diam-diam Ryder selalu mencari tahu setiap nilai Ranum di semua mata pelajaran oleh sebab itu Ryder bisa berkata begitu. "Apa ini hanya alasanmu saja supaya bisa menghindar dariku?" Tepat sekali pertanyaan Ryder tidak meleset.
Ranum yang mendengar itu menghela nafas dan mengeluarkannya secara perlahan. "Menanam kebiasaan baik untuk tetap belajar itu tidak akan membuat kita rugi Ry. Aku hanya manusia biasa yang kadang lupa tentang setiap materi yang aku pelajari dan yang setiap Bapak dan Ibu guru telah menerangkan di depan kelas aku mudah lupa tentang itu. Oleh sebab itu aku harus banyak belajar serta rajin-rajin belajar supaya kedua orang tuaku bangga." Entah sekarang jawaban apa lagi yang akan Ranum berikan untuk Ryder, agar laki-laki itu benar-benar percaya kepadanya.
"Baiklah, aku akan berhenti untuk menunggumu tapi tolong terima buket bunga dan coklat yang aku berikan ini kepadamu," kata Ryder yang pada akhirnya mau mengalah.
Tangan Ranum terulur ingin mengambilnya akan tetapi tiba-tiba saja tangan Bianca datang dan langsung mengambil coklat dan buket bunga itu.
"Sini, untuk aku saja Ry, dia itu sangat tidak pantas menerima ini semua. Lagipula perutnya menolak untuk memakan coklat mahal karena ususnya juga kampungan sama seperti pemiliknya dan juga buket bunga yang begitu cantik ini tidak pantas untuk Ranum, gadis yang terlihat B aja." Bianca langsung membuka bungkus coklat itu dan segera memakannya langsung. "Cokelat yang lezat ini lebih pantas masuk ke dalam perutku yang sering mengolah makanan mewah dan yang bergizi."
"Apa-apaan kamu Bi, bisa-bisanya kamu memakan apa yang bukan hak dan milikmu!" bentak Ryder yang tidak terima coklat itu dimakan oleh Bianca. "Kembalikan!" Laki-laki itu terlihat ingin merebut cokelat itu akan tetapi Ranum dengan cepat menghalanginya.
"Biarkan saja Ry, tidak apa-apa," ucap Ranum sambil berdiri. "Aku menerima coklat dan buket bungamu, tapi aku akan memberikannya lagi kepada Bianca."
...****************...
__ADS_1