
Al terlihat duduk tenang ketika sang ayah memperkenalkan Morea sebagai direktur utama di perusahaan Ezza Fashion, laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan raut wajah keterkejutannya atas apa yang telah disampaikan Daniel sehingga membuat Bagas sang sekretaris begitu heran. Karena tidak seperti biasanya Al setenang ini.
"Dipersilahkan kepada direktur utama, mungkin ada yang ingin disampaikan," kata Daniel sambil menyuruh Morea untuk segera berdiri menyampaikan sepatah atau dua patah di depan. Sebagai direktur utama yang baru di perusahaan itu.
Morea dengan senyum penuh kemenangan berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju ke depan. Tak lupa wanita itu tersenyum kearah Al seolah-olah saat ini ia sedang mengejek laki-laki yang terlihat wajahnya sangatlah datar.
"Cih! Kau boleh merasa menang untuk kali ini Morea, tapi aku pastikan kedudukan kau ini tidak akan berlangsung lama," gumam Al di dalam benaknya.
"Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Tuan besar Daniel, karena beliau telah mengangkat saya sebagai direktur utama di perusahaan yang berdiri sudah sangat lama ini," ucap Morea sambil sedikit membungkuk sebagai tanda hormatnya kepada Daniel, pria paruh baya yang saat ini menatap dirinya dengan wajah yang berhias senyum. "Dan untuk Tuan Al, Anda tidak usah berkecil hati sebab saya telah menggantikan kedudukan Anda."
Morea lalu dengan cepat merubah ekspresi wajahnya supaya terlihat tidak terlalu bahagia untuk saat ini. Karena ia tidak mau membuat orang-orang yang ada di ruang rapat itu menjadi curiga. "Anda tidak usah berkecil hati, karena saya sudah mengangkat Anda sebagai sekretaris pribadi saya," sambung Morea sehingga membuat beberapa orang mulai berbisik dengan apa yang telah Morea katakan, dimana wanita itu mengangkat Al sebagai sekretarisnya.
"Harap, tenang. Karena direktur utama belum selesai berbicara," ucap Daniel yang mengerti arti dari tatapan Morea. Sebab ruangan yang tadi hening menjadi riuh ketika Morea dengan tidak tahu malu malah menjadikan Al sebagai sekretaris.
Al hanya bisa mengangkat sedikit sudut bibirnya, ketika ia tahu kalau pasti di saat ini orang-orang di dalam ruangan rapat itu tidak ada yang setuju kalau Morea menjadi direktur utama.
"Mungkin hanya ini yang bisa saya sampaikan, sekian dan terima kasih." Morea lalu kembali lagi ke tempat duduknya dengan cara berjalan, tubuhnya yang ia melenggak-lenggokkan bak gaya model.
Al tanpa mengucapkan sepatah kata dengan cepat menyerahkan dokumen kepada Morea sebelum wanita itu kembali duduk. "Ada rapat, kamu bisa segera kesana untuk membahas masalah kendala apa saja yang sering dialami ketika sedang menggambar rancangan." Al bersorak kegirangan di dalam benaknya karena Morea pasti tidak akan bisa menjawab apa yang tadi ia katakan tadi. Secara wanita itu cuma menjadi model bukan desainer seperti Al. "Bawa dokumen itu, semoga kamu bisa menjawab apa yang akan mereka tanyakan nanti tentang seputar cara membuat rancangan yang baik dan benar, sehingga para konsumen puas dengan hasil kerja perusahaan ini," sambung Al yang kemudian berlalu pergi setelah mengatakan itu.
***
__ADS_1
Di sekolah Ranum tertawa tanpa merasakan ada beban yang saat ini ia bawa ke mana-mana, ketika Ryder menceritakan gadis itu sebuah lelucon.
"Dia sangat pintar, tapi sayang dia suka ngompol di dalam kelas dulu sewaktu masih duduk disekolah dasar," kata Ryder yang semakin membuat Ranum tertawa kegirangan.
"Benarkah? Apa dia tidak memakai pampers?" Dengan mata yang sudah berair karena gadis itu tidak berhenti tertawa ia malah bertanya seperti itu lagi kepada Ryder.
"Mana ada anak kelas 2 SD memakai pampers Ranum, kamu ini ada-ada saja," jawab Ryder dengan raut wajah yang juga ikut bahagia karena baru kali ini ia melihat Ranum tertawa puas seperti saat ini. "Sudah, ah. Jangan bahas itu lagi nanti gigimu kering karena terus saja tertawa," seloroh Ryder sambil mencubit hidung Ranum dengan pelan.
Ranum langsung menutup mulutnya sendiri supaya gadis itu berhenti tertawa sebab, Ranum takut nanti jadi ngompol seperti anak yang diceritakan oleh Ryder.
"Btw, nanti sore apa kamu ada acara?" tanya Ryder tiba-tiba sambil menatap bola mata indah Ranum.
Ranum mengerutkan dahinya. "Ada apa kamu bertanya seperti itu, Ry?" Sambil memakan rujak, gadis hamil itu bertanya balik kepada Ryder.
Ranum ingin langsung menjawab iya, akan tetapi gadis itu takut Al tidak mengizinkannya. Oleh sebab itu ia hanya bisa menjawab, "Nanti aku hubungi, kalau aku mau ikut atau tidak."
"Padahal tadi aku berharap kamu menjawab iya, berhubung sebentar lagi kita akan menghadapi ujian semester akhir."
"Apa hubungannya?"
"Iya, hitung-hitung sebagai heling-heling otak kita. Sebelum bertempur dengan soal-soal yang mungkin bisa membuat kita stres mendadak," jawab Ryder sambil terkekeh. Karena laki-laki itu merasa sedikit lucu mendengar jawabannya sendiri.
__ADS_1
"Maka dari itu, kita harus rajin-rajin belajar. Supaya kita tidak stres mendadak," balas Ranum menimpali.
"Iya, aku sudah belajar hampir setiap hari," ucap Ryder yang ingin memberitahu Ranum kalau dia anak yang rajin. "Jadi, bagaimana?"
"Apanya?" Ranum menjadi ngelag oleh sebab itu ia balik bertanya.
"Jalan-jalan nanti sore, biar aku yang menjemputmu."
"Nanti aku beritahu kamu, karena aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri," kata Ranum.
***
Di tempat lain Al yang melihat beberapa potret Ranum yang sedang tertawa puas dengan Ryder. Tiba-tiba saja darah laki-laki itu seakan menjadi mendidih, tidak lama ia lalu menyobek dan segera membuang foto itu ke dalam tong sampah. "Carikan dia guru privat, karena sepertinya dia harus sekolah di rumah saja," kata Al tanpa ekspresi. "Sebab aku takut, nanti tiba-tiba saja gadis itu melahirkan anakku di sekolah."
Bagas yang mendengar itu tanpa pikir panjang langsung mengiyakan Al karena ia tahu saat ini tuannya sedang cemburu.
"Laki-laki itu, bisa-bisanya mendekati istri orang," gerutu Al. Sambil menghisap sebatang rokok. Karena jika pikiran laki-laki itu sedang kacau maka. Rokok dan minuman beralkohol adalah temannya.
"Ryder tidak tahu kalau Ranum sudah menikah Tuan, jadi wajar saja dia begitu dekat dengan Ranum." Bagas malah semakin membuat suasana hati Al menjadi dongkol.
"Lakukan sekarang, cari guru privat. Jangan banyak bicara," cetus Al.
__ADS_1
.