Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 95


__ADS_3

"Mama bangun, supaya mama bisa lihat cucu mama yang sudah lahir," ucap Ranum yang melihat Anggun terbujur kaku di atas bed. "Nama cucu mama Agna Yumna Ezza, dia sangat cantik, cocok dengan namanya," sambung Ranum dan pada detik berikutnya suara isak tangis gadis itu mulai terdengar.


Al yang menemani Ranum hanya bisa melihat sang istri menangis, sebab ia tahu Ranum dan Anggun sangatlah dekat bagikan ibu dan anak. Sehingga laki-laki itu membiarkan air mata Ranum tumpah begitu saja tanpa melarangnya untuk menangis. Karena apa yang dirasakan Ranum, Al malah terlebih dahulu merasakan hancur ketika mengetahui sang ibu mengalami kecelakaan dan sekarang menjadi koma.


"Mama, aku mohon buka mata mama, jangan tidur terlalu lama seperti ini. Karena aku sangat merindukan suara-suara tawa dan nasehat-nasehat mama." Ranum terlihat meraih tangan wanita paruh baya yang sudah mulai mengeriput itu. "Aku mohon, buka mata mama," kata Ranum yang kemudian mencium telapak tangan Anggun, karena gadis yang sudah menjadi ibu itu berharap ada sebuah keajaiban.


"Apa sudah selesai?" tanya Al sambil memalingkan pandangan. Seolah-olah laki-laki itu tidak ingin menatap wajah sang istri. "Karena kita tidak bisa berlama-lama di sini, dokter melarang hal itu," lanjut Al lagi.


"Sebentar lagi Tuan, karena aku belum puas melihat mama," jawab Ranum yang terlihat enggan meninggalkan Anggun. Dan sekarang ia terlihat memeluk tubuh yang terbujur kaku tidak berdaya itu. "Mama harus cepat sembuh, supaya Agna bisa melihat kalau neneknya adalah wanita yang tangguh dan sangat kuat," gumam Ranum lirih dan terlihat tubuhnya sudah mulai terguncang kuat lagi menandakan kalau ia sedang menangis. "Agna, Tuan Al, aku dan yang lainnya, berharap mama membuka mata."


"Ranum, waktu kita membesuk Mama sudah habis. Ayo kita kembali lagi ke ruangan rawat inapmu, mungkin saja Agna saat ini mau ne nen," kata Al yang terlihat mendekati sang istri. "Aku sudah membelikanmu pompa asi, kamu bisa menggunakan itu dulu untuk memberi Agna asi karena kata Dokter Erika asi pertama yang keluar dari … sana bisa menjadi sebagai kekebalan tubuh bagi Agna." Wajah Al terlihat begitu datar meskipun laki-laki itu berbicara panjang lebar. "Dan tadi juga Bagas sudah mengambil surat di sekolahmu dan kamu ternyata lulus dengan nilai paling banyak di sekolah itu."


Ranum mengusap air matanya. "Benarkah aku lulus, Tuan?" tanya Ranum yang malah meragukan dirinya lulus. Sebab ketika ia ulangan semester akhir Ranum tidaklah fokus gara-gara ia terus saja memikirkan Ryder.


"Yap, kamu lulus dan aku sudah memilihkanmu tempat kuliah yang sangat cocok untukmu. Jadi, kamu tidak usah khawatir," jawab Al.


"Tuan apa ada yang salah denganku? Sehingga Anda terlihat sedikit berbeda semenjak aku keluar dari ruang operasi." Ranum pada akhirnya berani bertanya seperti itu. Karena lama-kelamaan ia menjadi memikirkan ucapan Sonia.


Al tidak menjawab laki-laki itu memilih untuk diam saja.


"Tuan, katakan apa aku punya salah?"

__ADS_1


"Kamu tidak pernah salah, akulah yang telah bersalah dan Agna karena telah hadir di kehidupanmu. Dan merusak masa-masa remajamu."


Ranum saat ini sangat heran, karena ia tidak tahu arah pembicaraan sang suami. "Tuan, apa maksud Anda?"


"Lambat laun kamu pasti tahu maksudku ini."


***


Sore harinya Al memutuskan untuk membawa Ranum dan Agna pulang, karena ia tidak bisa membiarkan Ranum tetap ada di rumah sakit sebab ia takut jika sewaktu-waktu Morea akan datang ke rumah sakit dan akan mencelakai anak serta istrinya.


"Aku juga ingin membawa Mama pulang saja," kata Al saat ia dan Bagas sedang duduk berdua.


"Ide yang tidak aku terima Bagas, aku akan tetap membawa Mama pulang meski laki-laki tua itu tidak setuju. Karena aku berpikir bahwa kecelakaan Mama ini sepertinya sudah direncanakan, meskipun polisi mengatakan kalau ini murni kecelakaan karena rem blong."


Bagas sebenarnya juga memikirkan hal yang sama dengan apa yang dipikirkan oleh Al. "Saya akan terus berusaha mencari bukti Tuan, bukti tentang ibu tiri Ranum yang juga telah membuat Aish kehilangan nyawa."


"Cari siapa yang telah menyebabkan Mamaku kecelakaan dulu, kalau untuk masalah ibu tirinya Ranum. Kamu bisa menundanya, karena aku rasa kamu akan lebih mudah menemukan orang yang ada di balik kecelakaan Mamaku ini."


"Jika itu yang Anda perintahkan, baik saya akan melakukannya." Bagas membalas ucapan Al. "Kalau boleh tahu saya harus menyelidikinya dari mana?"


"Mulai dari Mama berangkat ke rumah sakit, ketika Ranum mengalami kontraksi," jawab Al yang terlihat sedang mengetik pesan, entah itu untuk siapa. "Ingat, jangan ada suatu hal yang sampai terlupakan."

__ADS_1


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Bagas.


***


Daniel menarik kerah baju Al, ketika ia tidak menemukan keberadaan Anggun di rumah sakit. "Pergi kemana kamu membawa Mamamu, Al? Jangan sampai membuat Papa murka!"


"Papa tidak perlu tahu, urus saja wanita gatal ini!" Al menunjuk Morea. Sambil melepaskan cengkraman tangan sang ayah. "Jangan pernah cari-cari Mamaku!" Al memantap sang ayah dengan sinis. "Ketika Mama mengalami kecelakaan, apa Papa datang ke TKP? Apa Papa melihat bagimana keadaan Mama? Tidak 'kan! Papa tidak melakukan itu, karena Papa sibuk bercocok tanam dengannya!" Urat pada leher Al begitu terihat jelas, karena laki-laki itu saat ini sangat marah dengan Daniel.


"Tutup mulut lancangmu Al! Papa malam itu sangat sibuk!" Suara Daniel tidak kalah lantangnya.


"Iya, Papa sibuk bercocok tanam!" Al mengeraskan rahangnya. "Papa seolah lupa bahwa Mama adalah wanita yang menemani Papa mulai dari nol!"


Daniel sekarang malah menarik dasi putranya. "Katakan saja di mana Mama kamu Al, tanpa perlu kamu banyak bicara seperti ini. Sebelum darah Papa mendidih!" Mata Daniel memerah karena pria paruh baya itu juga sedang marah.


"Papa tidak perlu tahu! Karena jika Papa tahu maka dia!" Al lagi-lagi menunjuk Morea. "Akan berusaha menyingkirkan Mama, karena Morea selain licik dia juga wanita ular!"


"Jangan uji kesabaran Papa, Al. Kamu benar-benar ingin membuat tensi Papa naik, Dasar anak yang tidak tahu diri!"


...****************...


__ADS_1


__ADS_2