
Ranum terkejud ketika melihat Al sudah duduk di atas ranjangnya dengan raut wajah yang terlihat tidak bersahabat sama sekali.
"Tu-tuan, kenapa Anda tumben pulang secepat ini," tanya Ranum sebagai sekedar basa-basi kepada Al.
"Aku sudah bukan direktur utama lagi di prusahaan itu. Jadi, buat apa aku harus berlama-lama di sana," jawab Al sambil menyilangkan kakinya di atas kaki yang satu.
Ranum tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Al karena Bagas maupun Sonia tidak memberitahunya. Tentang Morea yang sudah menggantikan posisi Al di perusahaan itu. "Apa Anda di pecat oleh Tuan besar?" Ranum menebak-nebak oleh sebab itu ia bertanya seperti itu kepada laki-laki yang menatapnya tajam saat ini.
"Bukan di pecat, tapi Morea telah menggantikan posisiku untuk saat ini." Al kemudian terlihat berdiri. "Jangan tanyakan tentang itu lagi, karena aku tidak ingin membahas masalah itu." Laki-laki itu memberikan Ranum sepucut surat. "Mulai besok pagi, kamu tidak usah pergi ke sekolah itu lagi. Karena ku sudah membuat surat tentang kamu yang keluar dari sekolah itu."
Bukan cuma terkejud karena Morea telah menggantikan posisi Al di perusahaan, kini Ranum juga di buat terkejud karena tiba-tiba saja Al mengatakan kalau dirinya tidak usah pergi ke sekolah lagi. Padahal tinggal dua minggu lagi gadis itu akan melakukan ujian semester akhir sekolah. "Tuan apa yang ada katakan? Bagaimana bisa Anda melarangku untuk pergi ke sekolah? Padahal ujian semester akhir tinggal sebentar lagi." Ranum tidak mengerti arah jalan pemikiran Al untuk saat ini. Yang tiba-tiba saja mengatakan itu kepada dirinya.
"Aku sudah memikirkan ini dengan matang-matang Ranum. Jadi, kamu jangan banyak protes. Karena aku sudah menyuruh Bagas untuk mecarikan kamu guru privat." Al tidak menghiraukan raut wajah Ranum yang terlihat murung. "Kamu tinggal belajar di rumah ini, toh pelajaran yang akan di ajarkan oleh guru privat kamu itu sama dengan yang di ajarkan di sekolah," ucap Al tanpa memberikan Ranum ruang untuk bertanya. Tentang mengapa ia harus melakukan ini semua menyuruh gadis itu sekolah di rumah saja. "Alasanku melakukan ini, karena usia kandungan kamu sudah mulai membesar. Oleh sebab itu, aku melakukan ini semua supaya aku bisa memantaumu."
Ranum ingin protes tapi apa daya saat ini kehidupan gadis itu sepenuhnya telah di kendalikan oleh Al. Maka dari itu tidak ada yang bisa ia lakukan selain mematuhi dan menuruti apa yang telah di katakan oleh sang suami.
"Kamu akan fokus belajar jika dirumah ini, tidak terlalu sering berpacaran sehingga otak kamu yang sedikit gelag itu menjadi pintar," kata Al yang saat ini tengah menyindir Ranum yang memang selalu berduaan dengan Ryder disekolah. "Mulai sekarang juga berhenti memakai seragam sekolah yang kebesaran itu, karena mataku mendakak menjadi katarak melihatnya." Al benar-benar tidak membiarkan Ranum membuka suara. "Mandi, dan setelah itu kita akan pergi ke rumah utama."
Ranum mengangguk patuh tanda mengiayan Al.
*
__ADS_1
Setengah jam berlalu dengan begitu cepat kini Ranum terlihat sudah rapi dengan baju yang di pilihkan langsung oleh sang suami. Tapi tiba-tiba saja Al malah membatalkan untuk pergi ke rumah utama gara-gara Daniel meneleponnya menyuruhnya untuk kembali ke prusahaan.
"Sepertinya kita tidak jadi pergi ke rumah utama untuk bertemu dengan Mama, karena laki-laki tua itu telah meneleponku tadi dan menyruruhku untuk kembali ke kantor," ucap Al memberitahu Ranum supaya istrinya itu tidak salah paham. "Tidak apa-apa kan, kalau nanti malam saja kita pergi ke rumah utama?"
"Iya Tuan tidak apa-apa. Aku paham Anda hari ini ada urusan mendadak," jawab Ranum yang menatap wajah ayah dari bayi yang masih ada di dalam kandungannya. "Sekarang Anda boleh pergi, nanti Tuan besar memarahi Anda."
"Aku akan pergi, tapi sebelum itu. Tadi aku sudah mengirimkan pesan singkat kepada Sonia supaya dia menemani kamu disini dulu, sementara aku pulang. Karena mungkin aku akan pulang agak larut malam," ujar Al.
"Baik Tuan, tapi … apa aku boleh keluar nanti sore jalan-jalan dengan Sonia?"
"Kemana?"
"Ya, kamu boleh pergi dan jangan lupa bawa uang sebanyak yang kamu mau, karena nanti d sana pasti banyak orang jualan siapa tahu kamu pengen beli makanan itu, tapi ingat kamu harus pulang tepat waktu." Al hanya mengingatkan sang istri.
Ranum yang senang karena Al memberinya izin gadis itu melompat kegirangan sambil berkata, "Terima kasih Tuan."
"Kamu sedang hamil, jadi jangan melompat seperti itu Ranum." Al memijat pelipisnya melihat tingkah Ranum yang tidak bisa mengontrol diri. "Sekali lagi aku ingatkan, senang boleh tapi janga lompat-lompat begitu. Aku takut janin yang ada di dalam perutmu mual-mual, karena ibunya melompat."
*
Tepat setelah Al pergi Sonia datang dengan membawa kresek putih full isinya dengan makanan. "Tuan Al udah pergi?" tanya Sonia yang berpura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Ish … jangan bertanya lagi, bukannya tadi kamu berpapasan di depan sana," jawab Ranum yang saat ini sedang duduk.
Sonia hanya nyengir kuda. "Sorry, aku pikir kamu tidak melihatku tadi." Lalu gadis itu ikut duduk di sebelah Ranum. "Ngomong-ngomong salep yang Tuan Al suruh Bagas beli itu salep apa? Karena aku tidak sengaja membaca isi pesannya dengan Bagas."
Pipi Ranum seketika berubah menjadi seperti buah tomat yang baru matang, ketika Sonia menanyakan tentang salep yang tadi pagi Al berikan untuknya.
"Kenapa pipimu merah begitu, apa jangan-jangan salep itu buat mengobati luka di bagian tubuhmu?" Sonia semakin membuat rona wajah di pipi Ranum memerah.
"Salep apa kok aku tidak tahu?" Ranum mencari aman dengan berpura-pura tidak tahu.
"Kata Tuan Al di chatnya itu untuk kamu, kenapa kamu malah tidak tahu?"
"Jangan bahas salep yang tidak aku tahu itu, sekarang kita lebih baik menonton drakor sebelum sore, karena nanti sore aku mau mengajakmu menonton pertunjukkan di lapangan." Ranum sengaja mengalihkan pembicaraan sebab ia tahu Sonia gadis itu sangatlah cerewet dalam menanyakan suatu hal seperti saat ini.
"Aku masih penasaran dengan salep itu, apa aku tanya saja kepada Bagas?"
"Kita bahas drakor Sonia, berhenti membahas hal yang tidak penting itu. Karena mungkin salep itu untuk mengobati luka yang ada di kaki Tuan Al, sebab dia sudah menginjak pecahan kaca."
"Tidak masuk akal, karena salep itu tidak seperti yang sering aku pakai untuk mengobati luka Bagas."
"Terserah kamu saja Sonia." Ranum langsung memilih untuk diam saja setelah mengatakan itu.
__ADS_1