Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 65


__ADS_3

Di rumah sakit.


Terlihat dua pasangan pengantin baru itu tidak mengenal tempat, mereka malah ingin melakukan pertukaran jigong. Tapi kedatangan Anggun secara tiba-tiba membuat Daniel dan Morea menghentikan kegiatan mereka itu.


"Siapa yang menyuruh Mama datang kesini?!" tanya Daniel dengan suara yang tidak ramah sama sekali.


"Mas, biarkan saja Mbak Anggun datang, dia juga pasti ingin melihat keadaan kamu." Sungguh Morea, wanita yang paling bisa berakting sehingga ia telihat seperti isti muda yang begitu baik. "Sini Mbak Anggun, gantian sekarang Mbak yang menjaga Mas Daniel, soalnya aku mau pergi kerumah Mamaku dulu untuk mengambil beberapa bajuku disana." Dengan senyum yang di paksakan Morea tetap berusaha terlihat seramah mungkin dengan madunya itu.


"Aku ikut Sayang, lagipula sebentar lagi aku sudah di perbolehkan untuk pulang," kata Daniel yang saat ini sedang bersandar di gunung kembar Morea.


"Mas, aku tidak mau menjadi istri muda yang tidak tahu diri, oleh sebeb itu aku memberikan Mas waktu bersama Mbak Anggun dulu untuk berduaan. Kan, tadi malam aku sudah memnerikan Mas servis terbik. Mungkin Mas mau di servis oleh Mbak Anggun lagi." Morea mengatakan itu tanpa memikirkan bagaimana perasaan Anggun untuk saat ini. "Kalau begitu aku pergi dulu Mas," pamit Morea sambil mengecup pipi kiri dan kanan Daniel.


Sedangkan Anggun hanya bisa menguatkan batin seta jiwa dan raganya. Karena tidak ada yang bisa ia lakukan. Marah-marah, tentu itu tidak akan pernah ia lakukan karena wanita paruh baya itu takut jika saja Daniel menceraikannya.


"Mbak jaga Mas Daniel untuk kita berdua, supaya bisa menikmati tongkat saktinya bersama-sama," bisik Morea di indra pendengaran Anggun dengan nafas yang ia buat seolah-oleh sedang men de sah. "Lebih enak dari punya Al," lanjutnya lagi sebelum wanita ular itu benar-benar pergi dari ruang rawat inap Daniel.


Anggun meneteskan air mata. Karena ucapan Morea berhasil menjadi belati yang menusuk-nusuk ke dalam relung hatinya. "Ya Tuhan, kuatkan aku, dalam hal apapun itu. Suapaya aku kuat menerima setiap takdir yang telah Engkau gariskan untukku," gumam Anggun membatin.


"Jika Mama hanya datang untuk menangis, lebih baik pulang saja!" kata Daniel ketus. Ketika melihat lelehan air mata sang istri. "Bisa-bisanya datang kesini hanya untuk memperlihatkan air mata saja. Membuat suasana hatiku yang tadi ceria kini berubah mendung," geruru laki-laki itu sambil melihat Anggun berjalan ke arah bednya.


"Pa, apa di hati Papa sudah tidak ada lagi rasa cinta untuk Mama walupun secuil saja?" Dengan bibir yang bergetar Anggun bertanya kepada Daniel.

__ADS_1


"Meski Papa tidak menjawab pasti Mama sudah tahu jawabannya sendiri."


"Aku ingin memdengar dari mulut Papa langsung, aku tidak ingin menebak-nebak seperti ini," ucap Anggun yang kini sudah duduk di pinggir bed Daniel. "Pa, tidakkah Papa mengingat bagaimana dulu pertama kali kita ber–"


"Jangan bahas itu lagi Anggun!" bentak Daniel memotong kalimat Anggun. "Tidak perlau mengungkit masa lalu. Karena yang lalu biarlah berlalu. Dan masa sekarang biarlah berjalan seperti apa adanya."


"Pa, kenapa Papa menjadi begini?" Air mata Anggun kembali lagi menetas. Tatkala matanya bertemu dengan tatapan sayu milik Daniel. "Lihat Mama sekali saja Pa, apa Papa tidak bisa melihat mana yang tulus dan mana yang modus?"


"Maksud Mama, Morea modus dan Mama tulus, begitu?" Daniel kini menayap Anggun dengan sorot mata yang tajam.


***


"Bagaimana apa kamu sudah berhasil mengambil alih perusahaan Ezza Fashion?" tanya laki-laki itu sambil semakin erat memeluk tubuh Morea yang polos tanpa sehelai benangpun.


"Sayang, bersabarlah. Gara-gara Mas Al datang membuat laki-laki tua itu malah masuk kerumah sakit. Ya, jadi otomatis kita harus menunggu lagi," jawab Morea sambil menggigit bibirnya. Karena tangan laki-laki itu malah nakal meraba-raba apa yang harus tidak di raba. "Sudahlah, Sayang, aku mau mandi dulu. Kamu bisa tunggu aku di atas ranjang saja," ucap Morea manja.


"Sudah terlalu lama aku merindukanmu, tidakkah kamu merindukanku?" tanya Remon.


Iya, laki-laki itu adalah Remon. Rupanya Remon dan kedua orang tua Morea berniat ingin menguasai harta kekayaan keluarga Daniel oleh sebab itu Morea sampai rela melakukan semua itu demi membalaskan dendamnya juga kepada Al yang telah tega menceraikannya dan juga Al yang ingin meleny*pkannya beberapa bulan yang lalu.


Sehingga membuat Morea harus berpura-pura hamil supaya bisa menikah dengan Daniel. Karena mereka pikir dengan cara itu mereka akan semakin mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Yaitu harta kekayaan dan kekuasaan, oleh sebab itu Morea masuk lagi dalam keluarga Daniel dengan cara yang tidak semua orang lain dapat percaya.

__ADS_1


Morea melilitkan tangannya ke leher Remon. "Aku juga sangat, sangat … merindukanmu, Sayang. Sekarang ayo kita melepas rasa rindu itu di sini saja. Jika kamu sudah tidak tahan." Morea lalu mengajak Remon untuk mandi di bathtub. "Disini saja, supaya sensasinya berbeda," bisik Morea.


"Baiklah, kalau begitu." Dengan gerakan cepat Remon melepaskan seluruh pakaiannya yang sudah basah. "Kita mulai saja." Setelah mengatakan itu. Kalian bisa bayangkan sendiri apa yang terjadi.


***


Beberapa jam berlalu, akhirnya Morea dan Remon keluar juga dari dalam kamar. Mereka berdua segera menuju ruang tamu dimana Kerin dan Robert sudah menunggu mereka tadi tadi.


"Terima kasih untuk yang tadi," kata Remon sambil berjalan dan memeluk pinggang Morea dengan satu tangannya.


"Sayang, kita sudah biasa melakukannya. Jadi, untuk apa kamu harus berterima kasih?" Morea mencubit pelan hidung Remon.


"Apa aku salah hanya sekedar mengucapkan terima kasih?" Remon malah balik bertanya.


"Bukan begi—"


"Kalian berdua habis ngapain saja? Mama sama Papa udah nungguin kalian dari tadi," potong Kerin. Ketika ia melihat Morea dan Remon berjalan ke arahnya. "Sini cepetan duduk, ada hal yang harus kita bahas lagi," kata Kerin dengan mimik wajah yang begitu serius.


"Mau bahas apa lagi Ma, si tua bangka itu masih ada di rumah sakit. Jadi, apa lagi yang harus di bahas?"


"Kita harus menyusun rencana baru, Morea." Robert akhirnya membuka suara. Laki-laki paruh baya itu telihat menunjukkan sebuah foto kepada Morea. "Cari gadis itu, dan segera singkirkan dia dari kehidupan Al."

__ADS_1


__ADS_2