
Saat Ranum akan menjawab Al tiba-tiba saja suara keributan di luar terdengar. Al yang mengenal suara siapa yang berteriak-teriak di luar dengan cepat keluar tapi sebelum itu Al meminta Ranum untuk tidak keluar apalagi membawa Agna.
"Nanti kita bahas masalah ini lagi, aku mau menemui Papa dulu, dan aku minta jangan keluar membawa Agna. Kamu tetap diam saja di sini dan kamu jangan lupa kunci pintu ini," kata Al mengingatkan sang istri karena ia tahu mungkin saja ia dan sang ayah akan adu kekuatan mengingat ini sudah yang kedua minggunya Al menyembunyikan Anggun dari Daniel. Ditambah pria paruh baya itu tidak tahu bagaimana keadaan Anggun sekarang. "Dengarkan aku, jangan keluar. Dan kunci pintu ini," ucap Al sekali lagi yang melihat air mata Ranum sudah tumpah. "Aku keluar dulu, jaga Agna."
Sesaat setelah kepergian Al, Ranum langsung menggendong Agna dan dengan cepat mengunci pintu itu atas permintaan Al. Dan ia yang penasaran malah diam di balik pintu itu demi mendengar apa yang akan dibicarakan oleh Al dan Daniel. "Semoga Ayah kamu tidak berdebat dengan Kakek kamu Agna, Bunda sangat takut jika itu sampai terjadi," gumam Ranum pelan, dan pada saat itu juga suara gelas pecah terdengar begitu nyaring membuat Ranum menutup telinga putrinya. "Tuhan, apa yang sedang terjadi di luar sana? Aku mohon lindungilah Tuan Al dan Tuan besar Daniel. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mereka." Ranum berdoa dengan sungguh-sungguh. Karena ia tahu kali ini Al dan Daniel pasti akan adu mekanik di luar sana. "Tuan Al, semoga Anda bisa mengontrol diri Anda. Mengingat penyakit Anda masih sering kumat." Ranum menghela nafas. "Itu yang sering aku dengar dari Sonia," kata Ranum yang berbicara kepada dirinya sendiri sambil mengusap air matanya.
Sedangkan di luar Daniel terlihat datang sendiri dengan raut wajah yang merah padam. "Ternyata disini kamu menyembunyikan Mamamu, sekarang dimana dia?!" Suara Daniel melengking di saat ia melihat Al hanya diam saja sambil berdekap tangan. "Anak kurang ajar! Katakan dimana Mama kamu!" bentak Daniel dengan rahang yang mulai terlihat mengeras. "Bisa-bisanya kamu menyembunyikan istriku!" desis Daniel dan untuk yang kedua kalinya pria paruh baya itu melempar gelas ke bawah kaki Al. "Jangan diam saja, Al!"
__ADS_1
"Pintu masih terbuka lebar, jadi, lebih baik Papa pulang saja. Karena percuma Papa akan mencari Mama sebab Mama tidak ada di rumah ini," kata Al santai dan tidak ikut-ikutan terbawa emosi meskipun di matanya Daniel mulai terlihat sangat menyebalkan. "Agna, cucu Papa juga sedang tidur saat ini. Jadi, aku minta Papa pergi saja dari sini, karena disini bukan tempat Papa berteriak-teriak tidak jelas," ujar Al tanpa menggeser sedikitpun posisinya berdiri saat ini.
"Papa akan pergi jika Papa berhasil membawa Mama kamu ikut pulang bersama Papa!" Daniel masih saja berbicara dengan intonasi yang sangat tinggi pada putranya itu. "Anggun! Anggun ... Anggun! Dimana kamu bersembunyi? Ayo kamu harus pulang sekarang, dan ikut denganku! Sudah dua minggu lamanya kamu meninggalkan aku seorang diri."
"Baguslah, Mama tidak pulang karena Mama tidak akan sakit hati dan tidak akan mengeluarkan air mata lagi. Di saat melihat Papa dan si gatel itu bermesraan. Di depan mata kepala Mama," kata Al setelah laki-laki itu sempat terdiam. Karena ia ingin memberikan ruang untuk Daniel berbicara seperti saat ini. "Bila perlu, Papa ceraikan saja Mama. Karena aku putranya masih akan sanggup memberikan wanita yang telah membesarkan dan merawatku sehingga menjadi seperti sekarang ini, segudang kebahagiaan. Bukan seperti Papa yang hanya akan memberikan Mama kesedihan." Al menyunggingkan senyum simpul. "Sudah cukup! Aku muak melihat tingkah laku Papa, yang hanya membuat bola mata indah Mama mengeluarkan air mata, hampir setiap malam aku mendengar suara tangisan wanita yang paling aku sayangi di dunia ini."
Tiba-tiba saja Al tertawa dengan sangat kencang sambil bertepuk tangan. "Papa tidak ingin menceraikan Mama karena perusahaan Ezza Fashion masih atas nama Mama, bukan begitu Tuan Daniel yang terhormat?" Al terkekeh-kekeh saat laki-laki itu bertanya seperti itu kepada sang ayah. "Semakin tua, otak Papa semakin licik! Hanya karena Morea, wanita yang sebentar lagi akan merebut semua harta Papa. Dan setelah itu berhasil, maka Papa bersiap-siap saja akan di singkirkan oleh wanita yang sama-sama licik seperti Pa--" Belum usai kalimat Al, Daniel sudah melayangkan tam paran kepada putranya itu.
__ADS_1
"Mulutmu semakin lacang saja Al! Kamu sengaja mengatakan itu semua hanya untuk membuat Morea jelek di mata Papa dan apa yang kamu katakan tentang Papa yang tidak ingin menceraikan Mama karena perusahaan Ezza Fashion masih atas namanya, kamu salah besar!" seru Daniel yang mengelak meskipun kenyataanya memang benar seperti itu. Dimana Daniel mencari Anggun hanya untuk membujuk wanita itu supaya perusahaan itu berubah menjadi nama pemiliknya dia. Dan dengan begitu pria paruh baya itu akan dengan sangat mudah membalik nama itu lagi menjadi pemilik Morea. Agar Morena istri keduanya itu tidak meragukan cintanya lagi yang tulus dan sangat besar.
"Angkat kaki dari sini, Pa. Sebelum aku sendiri yang akan menyeret Papa keluar dari sini. Karena aku tidak mau barang-barang di rumahku ini akan hancur di buat Papa. Laki-laki yang telah tega menduakan wanita yang selama ini selalu ada di dalam keadaan apapun." Al sekarang menatap sang ayah sinis. "Percaya atau tidak, suatu saat nanti Papa akan menyesali ini semua. Semua yang telah Papa lakukan kepada Mama, Papa juga akan membayar ini semua. Aku akan memastikan itu semua akan terjadi," sambung Al.
"Katakan saja dimana Mama, kamu? Tanpa perlu berbasa basi seperti saat ini!"
"Baiklah, jika Papa ingin tahu. Dimana keberadaan Mama." Pada saat itu juga Al menunjuk pintu yang berwarna putih tepat di paling ujung. "Disana, Mama saat ini sedang tertidur lelap," jawab Al dengan mata yang mulai memancarkan kesedihan. Dan entah pergi kemana wajah datar dan tatapan sinis pada Daniel yang tadi. "Lihatlah, di sana Mama saat ini sedang beristirahat."
__ADS_1
"Awas saja, jika kamu bohong Al. Maka Papa akan membuat perhitungan denganmu," balas Daniel sambil berjalan ke kamar yang telah ditunjuk oleh Al tadi.