
Jonathan mengangkat tubuh Maura membawanya dalam gendongan. "Turunkan Maura Uncle, aku sudah besar sudah tidak mau di gendong lagi." Maura merosot menolak untuk di gendong. Semenjak Maura bisa mengatakan huruf R ia tak mau lagi di gendong.
"Hahaha maaf Uncle lupa, Uncle kira Maura masih kecil. lihat pakaianmu masih pakai seragam TK." Ejek Jonathan.
"Sebentar lagi Maura masuk SD Uncle."
"Wah keponakan Uncle sudah semakin besar rupanya, sudah mau punya adik juga." Ucapnya seraya mencubit hidung Maura karena gemas.
"Adik?" Jawabnya dengan wajah bingung.
"Iya adik bayi."
"Maura kan sudah punya adik Alika Uncle."
"Kalau Alika kan adik yang sudah besar, Yang ini masih kecil." Jelasnya.
"Jo sarapan dulu sayang." Seru Mami Niken dari dapur.
"Sudah sarapan Mi. Aku mau antar Maura ke sekolah."
"Iya kebetulan Juli masih di Rumah Sakit." Jawabnya seraya menyeduh kopi untuk suaminya.
"Iya setelahnya aku mau mampir ke sana."
"Memangnya kau tak pergi ke kantor?"
"Aku berangkat agak siangan Mi."
"Nyonya saya pamit berangkat." Pamit Wita.
"Iya, Jo juga sudah siap."
"Bu..bukan berangkat dengan supir saja Nyonya?" Tanya Wita gugup.
__ADS_1
"Tidak, Jo bilang ingin mengantar keponakannya."
"Oh iya Nyonya, saya permisi." Pamitnya sekali lagi.
"Oma Maura berangkat." Maura mengulurkan tangan mencium punggung tangan Omanya.
"Iya, belajar yang pinter sayang." Ucap Mami Niken setelahnya mencium kening cucunya.
"Siap Oma." Maura mengacungkan jempolnya pada Omanya.
"Jo juga pamit." Jonathan.
Ketiganya berjalan menuju halaman depan lalu masuk ke dalam mobil. Maura duduk di depan, sedangkan Wita duduk di belakang.
Wanita berseragam khas perawat itu hanya diam sejak tadi, Berkali-kali Jonathan melirik ke spion depan terlihat pengasuh Maura membuang pandangannya menatap ke luar jendela.
"Aku lupa namamu, bisakah kau sebutkan namamu kembali?" Tanya Jonathan pada Wita.
"A..aku Wita Tuan." Jawabnya gugup.
"Mungkin wajah saya pasaran Tuan, jadi banyak yang mirip." Ucapnya tersenyum tipis.
Entah mengapa Jonathan merasa Wita adalah wanita di masa lalunya. Hanya penampilannya yang terlihat berbeda.
**
Sudah di nyatakan sehat kembali Agatha di perbolehkan untuk pulang ke rumah siang ini. Kabar baik ini sudah di dengar seluruh keluarga Hansen dan Lee. Mereka kini sedang bersiap-siap menyambut kepulangan Anak dan Menantu mereka.
Maura dan Alika tampak antusias saat tau Mom Agatha akan pulang hari ini.
Suara deru mobil berhenti tepat di depan kediaman Lee. Maura dan Alika berlari menghampiri kereta besi yang terparkir di halaman depan.
"Maura, Alika jangan lari-lari nanti jatuh." Seru Ayah Sean pada kedua cucunya.
__ADS_1
Keduanya tak mengindahkan peringatan yang Oppanya katakan.
"Mommy." Panggil Maura dan Alika. keduanya saling memeluk kaki Agatha yang baru saja turun dari mobil.
"Hati-hati Mom baru sembuh sayang." Saran Dad Juli.
"Uncle bilang Mom bawa pulang Adek bayi mana adek bayinya?" Tanya Maura.
"Iya Al juga mau lihat adek bayinya Mom." Alika juga tidak mau kalah ia mendongak menatap wajah Agatha yang lebih tinggi darinya.
"Adek bayinya masih di dalam perut sayang, belum keluar." Jawab Agatha seraya mengusap kepala kedua putrinya.
Maura dan Alika melepaskan pelukan di kaki Agatha lalu menatap perut Mom Agatha.
"Suluh kelual Al mau ajak main." Pinta Alika dengan wajah polosnya.
"Belum saatnya keluar sayang, tunggu delapan bulan lagi baru keluar." Jawab Agatha menjelaskan. Kedua bocah di hadapannya masih saja tak mengerti walau sudah di beritahu.
"Kenapa harus tunggu delapan bulan?" Tanya Maura penasaran.
"Iya tunggu adek bayi berkembang menjadi besar di dalam sini." Jawab Dad Juli menunjuk perut Istrinya dengan jarinya.
"Nanti pelut Mom akan jadi besal sepelti balon?" Tanya Alika. menggambarkan dengan kedua jari telunjuknya membentuk balon.
"Hahaha balon terlalu besar sayang, perutnya tak akan besar seperti balon milik Alika." Agatha tertawa mendengar berbagai pertanyaan kedua putrinya.
"Kemari sayang Mom kangen." Agatha menepuk kedua sebelahnya yang kosong agar kedua putrinya mendekat.
"Maura juga kangen." Ucap Maura duduk di sisi kiri, sedangkan Alika duduk di sisi kanan.
"Al juga kangen Mommy." Ucapnya seraya bergelayut manja di lengan Agatha.
"Sudah makan?" Tanya Agatha.
__ADS_1
"Sudah, di suapi Mbak tadi." Jawab Maura.
"Anak pintar." Agatha memberikan kecupan di puncak kepala kedua putrinya bergantian.