
Di sebuah ruangan bernuansa putih khas rumah sakit gadis cilik yang terbaring di atas brankar kini sudah bangun dari komanya. Sudah satu minggu ini dia tak sadarkan diri. Pergerakan jari jemarinya dan membukanya kedua kelopak mata yang sempura membuat Bagaskoro menarik nafas lega.
"Om siapa?" Pertanyaan pertama yang ia dengar saat gadis cilik ini sadar.
"Om Bagaskoro, Panggil saja Om Bagas." Bagaskoro memperkenalkan diri.
"Namamu siapa nak?" Tanya Bagaskoro.
"Lula Om." Balas Maura dengan suara lemah.
"Namanya Cantik seperti anaknya." Pujinya seraya mengusap kepala Maura.
"Lula di mana?" Tanya Maura kedua matanya meneliti ke segala penjuru ruangan.
"Di rumah sakit sayang." Balas Bagaskoro.
"Sebentar ya Lula, Om panggilkan dokter dulu." Ujarnya pamit keluar.
Tak lama kemudian Bagaskoro kembali dengan Lelaki berjas di dampingi perawat di sampingnya.
"Halo cantik, Dokter periksa dulu ya." Sapa Dokter tersenyum ramah.
Dokter dengan cekatan memeriksa bagian dada Maura dengan stetoscope.
"Karena sudah sadar, jadi tinggal tunggu pemulihannya saja. cepet sembuh cantik." Ucapnya seraya merapikan rambut milik Maura.
"Terima kasih Dok." Ucap Bagaskoro.
Setelah kepergian Dokter Yang memeriksa kondisi Maura kini gantian Mayang datang berkunjung. Dia tak sendirian Gavin sang putra juga ikut bersamanya.
"Pah." Panggil anak berseragam sekolah saat masuk ruangan.
"Gaga juga ikut?"
"Iya pah." Balas Gavin. ia duduk sofa sambil memainkan game di ponselnya.
"Iya pulang sekolah langsung kemari pah, Sudah sadar pah?" Balas Mayang seraya meletakan parsel buah di tangannya.
"Sudah mah, baru saja. Dokter juga baru saja dari sini untuk memeriksa kondisinya." Jelas Bagaskoro.
"Mau makan Buah?" Tanya Mayang pada Maura.
"No aunty." Maura mengggleng cepat.
"Om mommy mana?" Tanya Maura yang sejak tadi ingin menanyakan keberadaan ibu kandungnya.
"Mommy." Bagaskoro mendekat dan menceritakan semuanya, "Om menemukan Lula di hanyut sungai. lalu om membawamu ke rumah sakit. Jadi Om belum mengabarkan pada mom Lula." Terang Bagaskoro.
Bagaskoro juga menanyakan perihal kejadian sebelum Maura hanyut di sungai. Dan betapa terkejutnya Bagaskoro dan Mayang tau bila Maura adalah korban dari orang jahat yang ingin melenyapkannya.
"Sayang sini peluk tante nak." Mayang merentangkan kedua tangannya. ia mengelus kepala hingga punggung Maura lembut.
__ADS_1
"Apa Maura ingat orang yang sudah membawamu nak?" Tanya Mayang.
Maura menggeleng. "Hanya ingat namanya, Tante Lusi bilang dia saudalanya dad." Maura mencoba mengingat nama wanita yang pergi bersamanya.
"Apa Lula ingat nama mom and dadmu sayang?" Tanya bagaskoro.
"Mom Atha and Dad Ian."
"Ingat kota asalmu nak?" Tanya Bagaskoro lagi masih mengintrogasi seluk beluk Maura.
"Semalang Om."
"Semarang?" Bagaskoro mengulang ucapan Maura. sedangkan maura hanya menganggukan kepala.
"Pah apa kita harus menyerahkan anak ini ke kantor polisi agar dia bisa bertemu keluarganya lagi?" Tanya Mayang.
"Nanti dulu mah tunggu kondisinya membaik baru kita ke sana." Ucapnya seraya memperhatikan wajah Maura. ia seperti melihat wajah rekan bisnisnya di wajah Maura.
Gavin yang sejak tadi tiduran di sofa terlihat sudah terlelap dengan ponsel yang masih menyala di tangannya. dengan cepat bagaskoro membenarkan posisi tidur putranya.
**
Sudah satu minggu ini Keluarga Lee dan Keluarga Hansen di sibukkan mencari Maura namun sampai saat ini pencarian belum juga membuahkan hasil. Agatha hampir saja di buat gila dan hampir menyerah pada keadaan. Kedua oppa Maura Samuel dan Sean juga sampai mengerahkan orang untuk mencari cucu mereka.
"Aku belum laper Chen." Balas Agatha dengan pandangan lurus ke depan. Untuk tidur saja Agatha tak nyenyak apalagi untuk makan ia tak berselera sama sekali.
"Belum laper bagaimana Le? kau saja belum makan sejak pagi. Bagaimana jika nanti kau malah jatuh sakit?" Ucapnya sedikit gemas melihat tingkah polah Agatha yang mirip bak anak kecil.
Chen menarik nafas ia membawa tubuh Agatha ke dalam pelukannya. Seketika air mata yang sejak tadi sudah mengering kini mulai banjir kembali.
"Bukan hanya kau yang rindu aku juga merindukannya le." Ucap Chen.
Juli yang sejak tadi melihat interaksi keduanya mengalihkan pandangannya tak sanggup melihat keduanya bermesraan.
Ia membalikan tubuhnya berjalan ke luar rumah. Mungkin dengan pergi bisa membuat hatinya sedikit membaik.
"Sore Tuan?" Sapa Bu dewi saat berpapasan dengan Juli yang akan berjalan keluar.
"Sore Bu."
"Tuan mau ke mana?"
"Cari angin bu, Alika tak suka berada di dalam terlalu lama." Kilahnya.
"Mari bu." Juli kembali berjalan.
Agatha menoleh saat telinganya mendengar suara Juli. Seketika ia melepas pelukannya dengan chen lalu bangkit berjalan cepat ke teras.
"Jul, bagaimana apa kau sudah mendapat kabar baik?" Tanya Agatha penuh harap.
"Masih nihil."
__ADS_1
Terlihat kekecewaan di wajah Agatha.
"Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk mencari Maura." Ucapnya mencoba menumbuhkan kembali harapan wanita yang ia cintai.
Agatha mendongakan kepala pandangan matanya mengarah pada jepit rambut yang di pakai putri Desi Alika.
"Jepit rambutnya." Gumamnya lirih, Agatha mendekati Alika.
"Kenapa jepit rambutnya sama persis seperti milik Maura." Gumamnya dalam hati.
"Tapi bukankah di dunia ini banyak jepit rambut yang mirip." Batin Agatha, kedua matanya menatap penuh tanya.
"Tadi kau bilang apa?" Ulang Juli.
"Jepit rambutnya bagus, mom or dad yang belikan sayang?" Tanya Agatha.
"Iya, mom beli ini." Alika mengangguk lalu menyentuh jepit yang terpasang di rambutnya.
"Mungkin saja ini sebuah kebetulan." Agatha mencoba berprasangka baik.
"Tha kenapa melamun?" Juli melambaikan tangannya di depan wajah Agatha.
"Ah iya, Aku melihat Alika jadi rindu dengan Maura mas." Agatha menundukan kepala, wajahnya terlihat sedih. Bagaimana tidak sedih, seorang ibu pasti akan rindu jika berjauhan dengan putrinya.
Juli mengangkat dagu Agatha dengan jarinya hingga pandangan mata keduanyapun bertemu.
"Aku usahakan akan menemukan Maura. aku tak ingin kehilangan Maura lagi. Aku menyayanginya dan menyayangimu Agatha. Kalian hidupku." Ujarnya berjanji dengan penuh kesungguhan.
"Apa aku boleh menggendong Alika sebentar Mas." Ucapnya penuh harap.
"Tentu saja boleh."
"Sama aunty sebentar sayang." Agatha mengambil alih tubuh Alika ke dalam gendongannya setidaknya ia mengobati rasa rindunya pada Maura.
Agatha memberikan beberapa kecupan di kening Alika hingga gadis cilik yang berada dalam gendongannya terkekeh menahan geli.
"Ha..Ha..Ha Geli nty." Alika tertawa saat wajahnya mendapat banyak kecupan di wajahnya.
Juli melihat Agatha bisa tersenyum kembali membuat perasaannya membaik.
Bersambung. .
Mohon dukungannya dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
Masukan kembali ceritaku ke dala cerita favorit kalian ya❤
__ADS_1