
Serasa hatinya ingin menjerit, saat tahu bagaimana pilunya diabaikan oleh lelaki yang sangat Ia cintai. Sudah ribuan kali Desi menghubungi mantan suaminya entah itu lewat telpon ataupun pesan whatsapp namun tak sekalipun mendapatkan balasan. Dadanya bergemuruh saat mengingat ucapan terakhir kali saat dirinya bertemu dengan Juli bahwa ia tak bisa memberikan cintanya selain pada Agatha mantan kekasihnya.
"Argggghhh." Pekik Desi seraya melempar vas bunga ke arah cermin.
"Tunggu pembalasanku ******!"
PRANG
Wanita paruh baya yang sedang duduk santai di ruang tamu lekas beranjak dari duduknya. Ia berlari menaiki anak tangga menuju kamar milik putrinya. Suara langkah kaki berhenti tepat di depan kamar, tangannya mengayun memukul daun pintu dengan keras.
Tok
Tok
Tok
"Desi sayang, buka pintunya nak." Panggil Sintia dari luar dengan raut wajah cemas.
Sintia semakin panik saat tak ada sautan dari dalam.
"Desi...." Bujuknya lagi.
"Kenapa aku sangat bodoh, kan ada kunci cadangan. Hadehhh..."Gumam Sintia sembari menepuk jidatnya, Ia lekas pergi meninggalkan kamar putrinya menuju di mana tempat ia menyimpan kunci.
Akhirnya pintunya terbuka juga, Sintia segera mendekati putrinya yang sedang duduk meringkuk di atas ranjang.
"Sayang."
Di lihatnya putri semata wayangnya sedang menangis. sejak perpisahannya dengan Juli Desi sudah tak lagi tinggal di rumah pemberian besannya itu. Ia juga memboyong serta putrinya tinggal bersama karena hak asuh jatuh ke tangannya. Dirinya juga kembali tinggal bersama kedua orang tuanya.
"Mah kenapa dia sejahat ini padaku?" Tanya Desi membenamkan wajahnya di dada Ibunya.
"Suatu saat mereka akan menerima hukumannya. Juli dan wanita ****** itu tidak akan pernah bisa bersatu dan hidup bahagia." Ucapnya menenangkan, tangannya terulur mengelus punggung putrinya.
"Papah bilang Sean tak memberikan restu untuk mereka. Jadi sampai kapanpun mereka tak bisa menikah."
Desi mendongakan wajahnya menatap wajah Ibunya lekat.
"Benarkah?" Tanya Desi.
Sintia mengangguk mengiyakan.
Ibu mana yang tega melihat putri kesayangannya terpuruk seperti ini. Apapun akan ia lakukan demi membahagiakan anaknya.
Flashback On
"Ternyata wanita ****** Itu putri sambungmu Sean?" Tanya Davit sinis.
"Wanita ******? Maksudmu Ale?" Sean menautkan kedua alisnya merasa bingung.
"Memangnya kau punya putri sambung berapa?"
"Hanya satu."
"Bagus sekali, kau menikah dengan ibunya dan anakmu dengan anaknya." Ucap Davit seraya bersidekap.
"Itu tidak akan terjadi. aku tidak akan pernah memberikan restu pada mereka."
"Jadi mereka.."
"Tidak ada pernikahan yang akan terjadi di antara mereka selama restuku belum ku berikan pada mereka."
Flashback Off
Sintia teringat kembali saat suaminya menemui Sean di kantornya beberapa hari yang lalu. Desi masih menangis dalam dekapan ibunya. Sintia mengelus punggung putrinya berharap agar tangisnya lekas reda.
**
Suara deru mesin sepeda motor berhenti tepat di pekarangan Rumah Panti. Teman kerja Agatha berniat menjenguknya yang sudah beberapa hari tidak berangkat bekerja. Bu Yosi yang sedang menggendong bayi di teraspun menatap ke arah segerombolan orang yang baru saja turun dari sepeda motor yang terparkir di halaman Rumah Panti.
__ADS_1
"Selamat Sore Bu." Sapa semuanya bersamaan.
"Sore, eh ada tamu." Balas Bu Yosi.
"Kami semua datang ke mari ingin menjenguk Agatha, kami dengar Agatha Kecelakaan." Ucap Yerika.
"Ayo masuk dulu, Duduk dulu. Biar Ibu panggil Agatha." Ajak Bu Yosi mengajak tamunya masuk.
Agatha baru saja menidurkan Maura di kamarnya. Ia hendak pergi ke Dapur untuk minum menghilangkan rasa dahaga yang melanda karena cuaca sore ini yang terasa panas namun baru membuka pintu dirinya di kejutkan dengan adanya Bu Yosi yang sudah berdiri di depan Kamarnya.
"Ya Tuhan." Agatha terkesiap lalu mengusap dadanya terkejut.
"Teman-temanmu datang."
"Teman-teman siapa Bu?" Tanya Agatha bingung.
"Teman kerjamu." Jelas Bu Yosi.
"Temui dulu mereka, biar Ibu yang buatkan minum untuk mereka." Ucap Bu Calista.
Agatha mengangguk mengiyakan.
Di sana terlihat ada Agnes, Yerika, dan Mas Gani sedang duduk di ruang tamu.
"Agatha." Panggil Yerika.
"Duduk sini." Agnes bangkit dari duduknya lalu menuntun Agatha dan mendudukannya di antara Yerika dan Agnes.
"Maaf ya baru sempet jenguk." Ucap Agnes.
"Tidak papa, besok juga aku sudah mulai berangkat."
"Memangnya sudah yakin sehat?" Tanya Mas Gani.
"Sudah lebih baik." Balas Agatha sungguh-sungguh.
"Wah ngga bener ini, yang nabrak kabur begitu saja." Ucap Agnes merasa kesal.
"Dia ngga tanggung jawab sama sekali?" Tanya Yerika keheranan.
"Ya namanya musibah ya seperti ini, kadang orang yang menabrak menolong kadang juga melarikan diri." Ucap Bu Calista seraya meletakan teh di atas meja.
"Ya Tuhan, benar-benar tidak habis pikir dengan orang yang bersikap tidal manusiawi begitu." Ucap Agnes menggebu.
Tanpa di sadari mereka sudah terlalu lama mengobrol hingga waktu sudah menunjukan pukul 17.20.
Akhirnya mereka berpamitan pulang.
**
Pesawat yang membawa Jason dan Chen sudah landing di Kota Semarang. Ia berjalan meninggalkan bandara dan lekas mencari taxi untuk mengantarkannya ke tempat tujuan.
Matahari sudah bergerak ke arah Barat, senja juga sudah mulai terlihat kemerahan di langit sana.
"Macet sekali kak." Ucapnya menilik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kenapa? sudah tidak sabar ingin bertemu adikku?" Goda Jason.
Chen yang mendengarnya membuang wajah ke samping menatap ruko dan pepohonan yang berjejer di pinggir jalan. Rasanya ia ingin menengelamkan wajahnya ke laut yang dalam, ia merasa malu dengan godaan kakak dari sahabatnya sekaligus wanita yang selama ini ia cintai. Sedangkan Jason terikik melihat tingkah laku Chen yang menurutnya saat ini mungkin sedang menahan rasa malu.
"Kakak bicara apa si." elaknya.
"Kenapa harus di tutupi seperti itu. Jangan di kira kakak tak tau perasaanmu pada adikku Chen." Jason terus saja menggodanya.
"Iya aku sudah sangat merindukan Adikmu." Ucapnya jujur pada akhirnya.
Hingga tidak sadar Taxi yang mereka tumpangi sudah sampai di pekarangan Rumah Panti.
"Kak ini benar tempatnya?" Tanya Chen mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling Rumah Panti. Walau langit sudah terlihat gelap namun matanya masih awas untuk melihat.
__ADS_1
"Iya, ayo turun." Ajak Jason.
Jason mengulurkan beberapa lembar uang kepada supir taxi sebelum turun dari kendaraan roda empat tersebut, di ikuti Chen yang kini sudah berdiri di sampingnya.
Mereka melangkah menuju pintu kayu dengan ukiran sederhana yang menghiasi setiap tepinya, iya itu adalah pintu utama rumah yang mereka tuju.
Tok
Tok
Tok
Agatha yang baru berjalan beberapa langkah menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah pintu. Baru saja ia mengantarkan temannya ke depan teras untuk melepas kepulangan mereka pintu depan berbunyi ada yang mengetuk kembali. Ia lekas berjalan mendekat ke arah pintu.
"Mungkin di antara mereka ada barang yang tertingal tadi." Agatha menduga jika yang mengetuk pintu adalah teman kerjanya yang tadi sore berkunjung menjenguknya.
Baru mau memegang handel pintu suara tangis putrinya terdengar memanggilnya.
"Hua Mommy."
"Biar Ibu yang buka pintu tha, Maura memanggilmu." Ucap Bu Dewi.
Agatha kemudian berjalan menuju kamar di mana Maura memanggil, sebelumnya ia menganggukan kepala tanda setuju dengan perintah Bu Dewi.
Bu Dewi segera membuka pintu dan melihat siapa yang bertamu menjelang petang.
"Bu." Panggil Jason mengulas senyum.
"Eh nak Jason, dengan.."
"Saya Chen calon suaminya Ale." Sergah Chen menjelaskan.
"Ayo masuk dulu. Silahkan duduk," Bu Yosi mempersilahkan dengan ramah "Sebentar Ibu panggilkan Agatha." Ucapnya lagi.
Chen dan Jason duduk di kursi ruang tamu.
Di dalam Agatha sedang berusaha menenangkan putrinya yang masih menangis.
Tok
Tok
Tok
"Tha."
"Iya Bu sebentar." Ucapnya setengah berteriak.
"Sebentar sayang, Nenek manggil mommy."
Agatha segera bangkit dan membuka pintu.
"Kakakmu datang bersama calon suamimu."
Bersambung. . .
Aku ucapkan terima kasih pada teman-teman yang sudah setia menunggu dan terus mengikuti ceritaku sampai saat ini.
Mohon dukungannya dengan cara memberikan
Like
Comen
Vote dan
Jangan lupa masukan ceritaku dalam cerita Favorit kalian ya ❤
Mohon maaf berhubung kondisi fisik sedang kurang baik baru bisa Up. Mohon doanya teman-teman semoga keadaanku lekas membaik. amiinnn. . . .
__ADS_1