
Desi baru saja terbangun dari tidurnya, Ia mengedarkan pandangannya di kamar yang terasa asing baginya. Ia baru ingat jika semalam ia menginap di Apartemen milik Mantan Suaminya, Ia memegang keningnya yang terasa sedikit pusing. Mungkin saja karena kemarin ia kebanyakan minum.
Desi merasakan hal aneh pada tubuhnya, Ia mengintip ke dalam selimut yang sedang ia pakai. Ia terkejut melihat tubuhnya sudah polos tanpa busana. Jadi tadi malam Desi tidur bersama dengan Juli. Benar-benar Tuhan mengembalikan mantan suaminya padanya. Ah bahagia sekali rasanya.
Desi menoleh ke sisi ranjangnya namun tak mendapati orang yang sedang ia cari.
Dengan perlahan ia bangkit dari ranjangnya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Jual mahal padahal dia masih mencintaiku. Dasar pria." Desi terus saja tersenyum sendiri saat air shower membasahi tubuhnya.
"Kenapa dia pergi tak meninggalkan pesan." Desi mendadak merasa aneh. Namun ia membuang jauh pikiran negatif dalam dirinya.
Selesai membersihkan diri ia di kejutkan lagi mendapati Juli sudah ada di dalam kamar sedang duduk di tepi ranjang di tinggal srbrntar sudah ada lagi orangnya seperti hantu saja.
"Juli." Desi mengurut dadanya karena terkejut.
"Kau dari mana?" Tanya Desi.
"Membeli makan untuk kita, kau pasti lapar kan?" Setelah bertemu dengan Jonathan untuk menunjukan hasilnya ia segera kembali ke Apartemen.
"Tadi malam apa kita melakukan..." Desi menanyakan kejadian semalam seraya menautkan jari manis sebelah kanan dan kiri.
"Kau benar-benar tidak ingat?" Juli berjalan mendekati Desi yang sedang berdiri.
Desi hanya menggelengkan kepala.
"Aku tidak bisa menahannya, maafkan aku des." Ucapnya dengan wajah sesal. Namun dalam hatinya ia menertawakan kebodohan Mantan Istrinya. Padahal Juli tak melakukan hal apapaun Ia hanya melucuti pakaian Desi lalu melemparnya ke lantai lalu menyelimuti tubuhnya yang polos dengan selimut. Pasti Desi berpikir jika tadi malam ada kejadian yang di lakukan pasangan suami istri.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Desi.
"Aku mengingat dirimu yang begitu liar tadi malam." Balasnya mengerling nakal seraya menatap wajah Desi lalu membelainya.
"Oh ya." Wajah Desi memerah karena malu.
"Aku sungguh tidak ingat apapun."
__ADS_1
"Tadi malam Kau mabuk berat." Jelasnya lagi.
"Ah Iya ya mana mungkin aku ingat kemarin aku minum terlalu banyak ya." Desi tertawa kecil.
Desi lekas berpamitan untuk kembali ke rumahnya mengganti pakaiannya dengan yang baru sebelum ia berangkat ke kantor. Jangan di tanya Desi sendiri sedang menyusun rencana bagaimana nanti setelah sampai rumah menjawab banyaknya pertanyaan dari kedua orang tuanya karena semalam tak pulang.
**
"Maura sayang lihat apa yang Oma bawa." Mami Niken keluar dari mobil lalu membuka bagasi belakang dan mengeluarkan barang bawaannya.
Maura yang belum mengenal wanita yang baru saja keluar dari mobil hanya diam mengamati pergerakannya dari teras rumahnya.
"Ayo di buka." Mami Niken meletakan kotak berbentuk segi emlat di hadapan Maura.
"Ini apa?" Tanya Maura yang masih menatap wajah Mami Niken bergantian dengan barang bawaannya.
"Mom, Mommy." Maura lekas bangkit berdiri lalu berlari masuk ke dalam rumah memanggil Agatha. rupanya ia merasa takut dengan orang asing setelah kejadian beberapa minggu lalu akibat penculikan setelah pulang sekolah.
"Iya Sayang ada apa?" Agatha yang tadinya akan memasak makan siangpun langsung menghentikan aktivitasnya berlari menghampiri putrinya tergopoh-gopoh.
"Takut kenapa sayang?" Agatha mendadak merasa cemas.
"Ale." Panggil Mami Niken.
"Mami." Agatha menoleh ke arah di mana seorang wanita berdiri sedang tersenyum.
"Apa Maura takut melihat Mami." Batin Agatha.
"Maura Oma bawakan hadiah untukmu sayang." Mami Niken terlihat tengah menenteng sebuah kotak di tangannya.
Maura menggeleng, wajahnya mendadak pucat. Apa Maura trauma dengan orang asing. Agatha belum pernah mengenalkannya pada Maminya mungkin saja kata takut itu ia tunjukan pada Mami.
"Sayang Itu Oma Niken." Ucapnya lagi seraya membawa tubuh Maura dalam gendongannya lalu berjalan ke arah Mami Niken berdiri. Ya kini Agatha sudah mulai membuka hati sejak Papinya memberikan siraman rohani padanya kemarin malam.
"Bukan olang jahat sepelti tante Lusi?"
__ADS_1
"Bukan sayang, Oma Niken Maminya Mom orang yang sudah melahirian Mom." Terangnya pelan agar putrinya dapat memahami setiap penjelasan Agatha.
"Oma dengar Maura suka kelinci, ini Oma belikan kelinci." Ucapnya seraya menurunkan kotak itu lalu membukanya.
"Untuk Lula?" Tanyanya sekali lagi memastikan.
Mami Niken mengangguk membenarkan.
"Mau main sama Oma dan kelinci?" Tanya Mami Niken seraya menuntun sebelah tangan mungil cucunya dan tangan satunya membawa kotak mini.
"Lula jadi punya banyak kelinci." Wajah Maura terlihat berseri.
"Memangny Maura punya berapa banyak kelinci sayang?" Tanya Mami Nike di sela mereka berjalan ke taman belakang.
"Satu dua tiga empat, banyak Oma." Balas Maura seraya mencoba menghitung kelinci yang ia miliki di dalam kandangnya.
"Wah banyak ya, Kalau di tambah punya Oma jadi enam ya."
Keduanya terus saja mengobrol mengakrabkan diri. Dan Maura juga sudah tak lagi merasa takut dengan Oma Niken.
Bersambung. . .
Mohon dukungannya dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
Masukan kembali ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤
Jangan Lupa juga mampir ke Novel keduaku yang berjudul Pelangi Di Atas Senja
__ADS_1