
"Daddy." Panggil Maura saat ia melihat sosok lelaki duduk di teras rumahnya bersama Aksa asisten pribadinya.
Maura lekas turun dari sepeda motornya berlari menghampiri Juli.
"Anak daddy dari mana sayang?" Tanya Juli seraya membawa tubuh Maura ke pangkuannya.
"Dari lumah om Kemal."
"Kenapa tak mengajak daddy ke sana?"
"Daddy lama datengnya."
"Maaf ya membuat Kesayangan daddy menunggu lama." Ucap Juli penuh sesal. Ia mengecup puncak kepala Maura.
"Kalian sudah lama sampai?" Tanya Agatha.
"Belum lama, kami juga baru sampai."
"Mau minum apa biar ku buatkan?"
"Sedang di buatkan Bu calista, kau duduk saja di sini." Titah Juli.
Agatha duduk di kursi bersebrangan dengan Juli.
"Daddy tante Kelin bilang kalau mau punya dede bayi minta di buatkan Mommy sama daddy. Lula mau juga di buatkan dede bayi sepelti dede Mutia." Juli terlonjak mendengar celotehan putrinya.
"Bagaimana ya cara buatnya? daddy belum tau resepnya." Juli menyugar rambutnya ke belakang mencoba berpikir.
"Nanti dady cari tau dulu di yutube. setelahnya daddy buatkan untuk Maura." Jawab Juli enteng.
Sedangkan Agatha menyorot tajam pada Juli. Bagaimana bisa dia menjanjikan pada putrinya membuatkan Adik untuk Maura.
"Apa?" Tanya Juli menatap balik pada Agatha.
"Jangan memberikan harapan apapun pada Maura Jul."
"Maura meminta adik lalu aku harus jawab apa?" Tanya Juli menaikan satu alisnya.
"Ck, belikan saja tepung dan buat adonan." Jawab Agatha asal.
"Jadi membuat adik bayi sepelti membuat kue mom?" Tanya Maura, ternyata dari tadi putrinya mendengarkan perdebatan kedunya. Agatha lupa jika Maura masih di antara mereka.
"Jul..." Juli tersenyum mengejek melihat kebingungan Agatha menghadapi putrinya.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu, berdua." Ajak Juli.
Aksa membawa Maura bermain dengan kelincinya di belakang rumah.
Kini Juli dan Agatha hanya berdua, posisi mereka juga saling berhadapan.
"Mau bilang apa?" Tanya Agatha.
__ADS_1
"Ayo kita menikah." Ajaknya membawa tangan Agatha ke dalam genggaman.
Agatha terdiam, sedangkan Juli menatap penuh harap dengan jawaban yang Agatha berikan.
"Ayo kita menikah, dan hidup menua bersamaku Valerina Agatha Lee." Ulangnya lagi.
Kedua mata Agatha sudah berkaca-kaca kala ia di ajak menikah oleh lelaki yang di cintainya.
Agatha masih saja bungkam, ia tak sanggup untuk menolak tapi dirinya juga tak mungkin bisa menerima lamarannya. Akan ada banyak hati yang terluka jika Agatha memaksa bersama.
Agatha segera menepis tangan Juli.
"Maaf, Aku tidak bisa." Jawab Agatha menundukan kepala. kedua matanya tak mampu menatap mata Juli.
"Apa aku tidak salah dengar, Katakan sekali lagi Tha." Juli mengangkat dagu Agatha hingga pandangan keduanya bertemu.
"Kita sudah jadi saudara, dan selamanya akan tetap seperti itu." Tolak Agatha, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Setidaknya kau memikirkan Maura Tha dia membutuhkan kita berdua."
"Aku tak pernah melarangmu untuk menemui anak kita, tapi maaf aku tidak bisa menikah denganmu." Juli menarik tubuh Agatha ke dalam pelukannya.
"Kau menolakku bukan karena kita saudara, dan aku tau itu. Tapi karena kau akan menikahi lelaki pilihan keluargamu kan." Agatha terkejut mendengar ucapan Juli. Dari mana ia tau Jika dirinya akan menikah dengan Chen.
Apa mungkin Kakaknya sudah mengatakannya pada Juli.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu." Juli menangkup kedua pipi Agatha lalu menjatuhkan bibirnya di kening Agatha cukup lama.
**
"Mas Aku bisa makan sendiri." Tolak Niken menggeleng.
"Sayang menurutlah atau aku akan marah padamu." Ucap Sean masih menyendokan makanan ke dalam mulut istrinya.
"Baiklah." Balas Niken pasrah.
Tok
Tok
Tok
Terdengar ketukan dari luar. Pasangan suami istri yang sedang romantis-romantisnya mendapat gangguan, keduanya menoleh ke arah sumber suara.
"Masuk." Titah Sean pada Asisten Rumah Tangganya.
"Tuan Besar di luar Ada Tuan Jas." Ucapnya seraya menunjuk dengan Ibu jarinya.
"Putraku datang, suruh dia ke kamar." Titahnya lagi.
Munculah Jason dari balik pintu lalu melangkah masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Jas apa kabar nak?" Tanya Sean memeluk Putra sambungnya yang ke dua.
"Kabar baik Yah, Ayah apa kabar?" Tanya Jas melepas pelukan keduanya.
"Kabar Ayah baik."
"Mami, bagaimana keadaan Mami?" Tanya Jason beralih memeluk Ibu kandungnya yang sedang duduk di ranjang.
"Kondisi Mami semakin baik." Balasnya tersenyum.
"Kau tak mengajak Jo kemari, Mami merindukannya." Tanya Niken.
"Mami tau kan Kak Jo orang yang sangat sibuk." Balas Jason.
Jonathan sudah menceritakan pada Jason pertemuannya dengan Ayah Sean dan alasan Sebenarnya Jonathan kini enggan datang berkunjung ke kediaman Sean karena tak ingin bertemu dengan Ayah sambungnya. Semenjak pertemuannya di kantor waktu itu dan menyalahkan Papinya lalu menganggap Agatha sebagai alat pemuas, Jonathan menjadi benci dengan lelaki yang kini berstatus Suami dari Maminya. Namun Jason tetap ingin bertemu Maminya karena ingin menghormatinya. walau bagaimanapun juga beliau tetap Ibunya, wanita yang sudah melahirkannya.
"Katakan padanya jangan gila kerja, pikirkan untuk menikah. Mami ingin punya cucu dari kalian."
"Mami kan sudah mendapatkan cucu dari Ale."
"Dia bukan lagi anak Mami, Dia sudah membuat malu keluarga kita." Balasnya dengan amarah yang meletup-letup.
Jason tersentak mendengar ucapan Maminya yang sudah tak mengakui Ale sebagai anaknya lagi. dirinya jadi berpikir alasan Jonathan menolak untuk ikut ke rumah Ayah sambungnya mungkin karena ia kecewa pada sikap Mami.
"Kenapa Mami sepenuhnya menyalahkan Ale?" Tanya Jason.
"Lalu Mami harus menyalahkan siapa jika tak menyalahkannya?" Tanya Niken balik, "Mami?" Niken menunjuk dirinya sendiri.
"Apa Mami tau kepergian Ale setelah dia hamil? itu semua agar kalian tetap bisa bersama. Apa kalian tau Ale sangat sulit mendapatkan tempat tinggal karena dia hamil sampai terusir dari kontrakan, mereka kira Ale bekerja sebagai pelacur hingga di kira jadi wanita simpanan." Amarah jason memuncak tak terima Mami terus-terusan menyalahkan Adiknya.
"Sampai pada akhirnya Ale tinggal di panti asuhan melahirkan dan membesarkan putrinya di sana, Untuk menghidupi anaknya Ale sampai bekerja di pabrik berangkat pagi pulang malam. Dan dengan teganya Mami bilang Ale anak yang memalukan?" Jason geleng-geleng kepala merasa heran dengan sikap Maminya.
"Itu semua akibat dari perbuatanya. Jika Ale tidak semurah itu dia tak mungkin bisa hamil." Balasnya enteng.
Jason menarik nafas panjang meredamkan emosi dalam dirinya agar tak keblabasan memaki wanita di depannya. "Jika bukan karena kebesaran hati Ale mendonorkan darah untuk Mami mana mungkin Mami lekas membaik, bersyukurlah Mami memiliki putri sepertinya." Ucap Jason sebelum ia benar-benar meninggalkan kediaman Ayah Sean.
Jason sudah tak tahan lagi mendengar Hinaan untuk adiknya. Seburuk apapun Agatha dia tetap Adiknya dan menurutnya ia termasuk wanita hebat yang mampu melahirkan dan membesarkan anaknya tanpa suami di sisinya.
Niken mematung mendengar ucapan putranya. sedangkan Sean menjadi penonton yang baik mendengar perdebatan di antara keduanya.
"Niken." Panggil Sean menggenggam tangan Istrinya.
"Mas aku ingin bertemu dengan Ale." Ucapnya usai merenung.
Bersambung. . .
Mohon dukungannya dengan cara memberikan
Like
Comen
__ADS_1
Vote dan
Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤