
Gelapnya malam telah berganti dengan terangnya sinar mentari yang sudah muncul dari ufuk timur. kedua sepasang manusia masih juga belum terbangun dan setia bersembunyi di balik selimut tebal.
Tok
Tok
Tok
"Mom, Dad." Panggil Maura dari balik pintu.
Agatha terbangun begitu mendengar suara ketukan pintu dari luar. Kemarin malam Agatha tak bisa tidur dan sepertinya baru saja terlelap namun suara ketukan pintu dan panggilan dari luar menaksanya untuk bangun. Tangan kekar yang melingkar di perutnya membuatnya terperanjat.
"Bilangnya tidak akan macam-macam lalu apa ini dia memelukku seperti ini dasar lelaki."
Ia memindahkan tangan kekar perlahan lalu segera bangkit dari ranjang berjalan menuju pintu.
"Morning, sudah bangun rupanya anak mom." Agatha membawa Maura dalam gendongannya.
"Sudah mandi juga," Cicit Maura dengan wajahnya yang dipenuhi bedak tabur. begitu sangat menggemaskan.
"Hmm Wanginya." Agatha mencium kedua pipi Maura berulang kali.
"Jangan hanya Maura saja yang di cium, aku juga mau." Ucap Juli yang baru saja bangkit dari ranjang. Sebenarnya Juli tadi sudah bangun lebih awal lalu ia berpura-pura tidur memeluk Agatha.
"Kenapa? Iri?" Tanya Agatha tersenyum miring.
"Tentu." Balasnya tersenyum nakal, lalu menujuk pipinya dengan jarinya agar mendapatkan kecupan juga dari Agatha.
Wanita yang ada di hadapannya bukannya menanggapi permintaan Juli malah lebih memilih pergi meninggalkan kamar.
"Sayang." Panggil Juli namun Agatha lebih memilih menulikan telinganya dan terus saja berjalan menjauh.
"Mom, apa kita akan pulang hali ini?" Tanya Maura.
"Ya, Dad bilang akan pulang siang ini."
"Sudah bangun?" Tanya Mayang.
"Baru saja, maaf saya terlambat bangun." Agatha merasa sungkan. Tamu namun seperti majikan sungguh tidak sopan!
"Tak apa, ini semua juga ART yang masak. Saya paling hanya membantu menata di meja makan." Ucap Mayang tersenyum seraya menyiapakan bekal untuk putranya di bawa ke sekolah.
"Duduklah, kita sarapan bersama."
"Di mana Tuan Juli?" Tanya Mayang.
"Iya terima kasih, saya panggil Dadnya Maura dulu." Agatha menurunkan putrinya di kursi lalu kembali ke kamar memanggil Juli.
Keluarga Maura dan Gavin menikmati sarapan bersama sebelum akhirnya mereka kembali ke rutinitas mereka dan Juli berserta Agatha kembali ke Jakarta.
__ADS_1
"Kami pamit pulang. terima kasih sudah mengijinkan kami beristirahat semalam di sini." Pamit Juli.
"Sama-sama Tuan, lain kali berkunjunglah lagi kemari." pintanya lagi .
Agatha dan Juli mengangguk lalu masuk ke dalam mobil.
"Lula."
"Jangan lupakan aku." Gavin mengeluarkan kotak kecil lalu memakaikan kalung pada Maura. Ia merasa sedih dan berat hati di tinggalkan oleh Maura.
"Iya, Nanti kakak gantian main ke lumah Lula."
"Iya." Gavin mengangguk.
"Bagus kalungnya, Telima kasih." Ucap Maura tersenyum menyentuh kalung yang sudah melingkar di lehernya.
"Dadah..." Maura melambaikan tangan tanda perpisaha. Keduanya saling berpelukan, mereka juga saling berharap kembali bertemu di suatu hari nanti.
"Hati-hati." Gavin ikut melambaikan tangannya saat mobil yang Maura naiki mulai melaju meninggalkan halaman rumahnya.
**
"Kau ingin langsung ke Semarang atau di Jakarta dulu?" Tanya Juli seraya menggendong Maura yang sudah terlelap saat masih di dalam pesawat.
"Di Jakarta dulu, aku mau mampir ke rumah Papi."
"Baiklah terserah kau saja."
"Biar aku antar sekalian."
"Tidak usah, kau pasti lelah dan butuh istirahat." Tolaknya.
"Apa kau takut tunanganmu akan cemburu jika melihatku mengantarmu?" Tebak Juli yang sepertinya sedang mode cemburu.
"Dari mana kau tau aku sudah bertunangan?" Tanya Agatha kaget karena Juli sudah mengetahui jika dirinya sudah di miliki pria lain. Padahal tunangan yang ia langsungkan sangat sederhana. Dan tak memberikan kabar pada Mami beserta Ayah Sambungnya.
"Nyonya." Panggil supir taxi dari dalam yang membuat Agatha mengakhiri perbincangannya dengan Juli.
"Ah iya pak, tunggu sebentar."
"Aku pulang dulu." Ucap Agatha, ia masuk ke dalam taxi lalu menutup pintunya.
Juli masih terdiam menatap kepergian Agatha hingga taxi yang membawanya hilang dari pandangan matanya.
Setibanya di halaman kediaman Papi Samuel Agatha mengulurkan beberapa uang lembaran untuk membayar ongkos taxi lalu segera turun dan menggendong putrinya.
"Ale." Jonathan yang terlihat akan pergi menghentikan langkahnya saat ia melihat adiknya yang baru saja turun dari taxi.
"Kakak mau berangkat?" Tanya Agatha basa basi.
__ADS_1
"Iya, biar kakak yang gendong." Jonathan mengambil alih Maura ke dalam gendongannya.
"Kakak berangkat saja, sepertinya kau sedang terburu-buru." Tolaknya, ia melihat pakaian Jonathan yang sudah rapi.
"Tidak papa Le."
Agatha mengekori kakaknya berjalan menuju biliknya.
Agatha mengedarkan pandangannya melihat siapa saja penghuni di rumah ini, tapi sepertinya sepi sekali.
"Papi ke mana?" Tanya Agatha.
"Ke Singapure, mengurus usaha Restoran di sana." Balasnya seraya menurunkan Maura perlahan.
"Buka usaha lagi di sana?"
"Iya, peluangnya besar." Agatha mengangguk mengerti.
"Kau sudah menemukan Maura tapi tak mengabari Kakak." Tanyanya mengintrogasi.
"Aku belum menyentuh ponselku keliwat bahagia Kak, Orang suruhan Juli yang menemukannya."
"Ketemu di mana?"
"Di Medan Kak."
"Jauh sekali, kau sudah mencari tau siapa orang yang sudah mencelakai putrimu?" Tanya Jonathan lagi.
Agatha menggeleng, "Belum, Tapi Juli sudah menyuruh orang untuk menyelidiki kasus ini." Balasnya seraya melepas sepatu yang di pakai Maura.
"Kau tidak curiga pada mantan istri Juli?" Tanya Jonathan tiba-tiba.
"Entah Kak, Ale belum mempunyai bukti apapun." Balas Agatha mengedikan kedua bahunya.
"Jaga Maura lebih ketat lagi Le, bisa jadi kalian akan mengalami hal serupa lagi." Ujarnya memberikan pesan.
"Iya Kak, aku akan lebih waspada lagi untuk menjaganya." Agatha mengangguk mengerti.
Bersambung. . .
Mohon berikan dukungan kalian dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
Jangan lupa masukan ceritaku ke dalam cerita favort kalian ya ❤
__ADS_1
Mampir juga je Novel keduaku yang berjudul Senja di Atas Pelangi