One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 14


__ADS_3

Saat ini Juli sedang berada si sebuah Coffee Food and bar di pusat kota hanya seorang diri. ia sedang ada janji bertemu dengan seseorang wanita. ia menikmati secangkir kopi yang baru saja di antar pelayan ke mejanya. seorang wanita seumuran dengannya berlari tergopoh-gopoh menghampiri juli. ia menarik salah satu kursi untuk di dudukinya.


"Maaf sudah menunggu lama." ucap nadia tersenyum.


"No problem."


Pandangan keduanya bertemu, wajah nadia terlihat bersemu ia berharap pertemuan kali ini bisa membuat hubungan mereka kembali membaik seperti semula. mereka masih bergeming belum ada yang memulai untuk mengawali obrolan mereka. karena sudah terlalu lama diam nadia akhirnya buka suara.


"Ehm." nadia berdehem.


"Apa maumu?" tanya juli langsung pada inti pembicaraan masih dengan wajah datarnya.


"Maksudmu?" tanya nadia mengerutkan dahinya bingung dengan pertanyaan juli.


"Aku sudah pernah bilang padamu jangan pernah MENGUSIK apa lagi MENYENTUH miliku apapun itu!" ucap juli memberikan penakanan pada setiap kata yang ia lontarkan pada nadia.


"Kau tidak lupa kan?" imbuh juli mengingatkan.


Nadia mematung masih tidak percaya dengan apa yang juli katakan padanya. ia mengira juli mengajaknya bertemu untuk meminta dirinya kembali merajut kasih, namun ini kebalikannya ia malah mendapat tamparan keras walau tidak secara fisik yang ia terima. namun sangat terasa hingga ke uluh hati.


"Apa wanita itu mengadu padamu?" tanya nadia mengulum senyum.


"Kau fikir kekasihku wanita pengadu?" juli melipat tangannya di dada.


"Nadia kau tau kan aku punya banyak mata di mana-mana jadi aku akan tau semua kelakuanmu tanpa agatha mengadu padaku." imbuh juli masih dengan tatapan tajamnya pada nadia.


Sudah terlalu lama juli duduk berhadapan dengan si ulat bulu membuat dirinya Naik Pitam. ia memutuskan pergi dari sana.


"Ini peringatan terakhir untukmu, jangan membuatku kembali menemuimu lagi dengan berbagai cara licikmu." juli memberhentikan langkahnya menoleh ke belakang dengan raut wajah dingin sambil menunjuk nasia dengan jari telunjuknya.


Nadia berlari menyusul juli yang sudah sampai di parkiran. ia langsung memeluk juli dari belakang.


"Nad lepas." teriak juli.


"Jul aku mencintaimu, Kembalilah padaku." ucap nadia sambil menahan isak tangis.


"Aku mau melakukan apapun itu asal kau kembali padaku jul, aku mohon." nadia tetap bergeming ia tak menghiraukan teriakan juli yang menyuruhnya untuk melepaskan pelukannya.


"Sampai kapanpun semua tak akan pernah berubah masih tetap sama hatiku hanya untuknya, maaf." ucap juli tegas.

__ADS_1


Banyak pasang mata yang melihat ke arah kedua pasangan tersebut, mereka merasa iba melihat nadia yang sedang mengemis cinta pada seorang lelaki.


Agatha yang baru saja keluar dari Coffee bersama oma Yunita mendadak menghentikan langkahnya. melihat Juli dan Nadia sedang berpelukan hatinya meringis sakit dadanya terasa sesak.


"Dasar buaya kau bilang sudah tak punya rasa padanya, tapi mengumbar kemesraan di depan umum." agatha mengumpat dalam hati.


*********


Hujan yang turun di pagi hari membuat siapa saja enggan untuk beranjak dari ranjangnya. untung hari ini agatha libur dari kampus, ia masih bergulung dengan selimut tebalnya. kedua matanya masih saja terpejam walau jam beker yang sudah sejak tadi berbunyi ia abaikan. ya ia lupa mengatur kembali jam bekernya kesemula.


Dengan langkah terburu-buru agatha bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi. di setiap harinya ia selalu rutin memuntahkan seluruh isi perutnya. namun tidak seperti biasanya ini lebih parah dari hari biasanya.


"Hoek."


Agatha teringat kembali dengan Jenny sahabatnya yang sudah berkali-kali menyuruhnya untuk memeriksakan diri ke dokter. malah sampai ingin menemaninya ke dokter namun tetap saja agatha dengan tegas menolaknya. padahal ia merasa khawatir kenapa sakit agatha sampai saat ini belum juga membaik.


"tha sudah lama sakitnya tapi kau masih belum memeriksakan diri ke dokter, aku khawatir sakit yang kau alami bukan magh tapi asam lambung." ucap jenny sambil mengusap minyak kayu putih pada perut dan kening agatha.


Agatha hanya terdiam mendengarkan jenny berceloteh panjang lebar. ia enggan untuk menjawab perkataan jenny waktu itu biar saja ia terus mengomel sepanjang hari.


"Hoek. .Hoek."


Cukup lama agatha berada di dalam kamar mandi, setelah dirinya lebih baik ia bangkit berdiri. dengan bersusah payah ia berjalan pelan rasanya ia ingin pingsan saja saat ini. agatha memutuskan akan mengunjungi dokter setelah hujan reda.


Kini agatha sudah berada di Rumah Sakit, tepatnya di Poli Umum. ia duduk di kursi pendaftaran menunggu giliran nomor antriannya di panggil. terlihat pasien yang memeriksakan diri di dampingi sanak keluarga, sangat berbeda dengan dirinya yang hanya datang seorang diri.


"Nomor antrian 30." agatha bangkit dari duduknya ketika nomor pendaftarannya dipanggil.


"Nama nona?" tanya asisten dokter dengan tag name Lusi.


"Valerina." agatha menunjukan identitas KTP.


Suster Lusi menuliskan identitas ke dalam data diri pasien.


"Apa yang nona rasakan?"


"Perut saya suka mual, kepala pusing, nafsu makan berkurang, sedikit demam sus." jelas agatha dengan nada lirih.


"Sudah berapa hari sakit yang nona rasakan?"

__ADS_1


"Kalau mual dan kepala pusing sudah sekitar 3 mingguan sus, kalau demam baru kemarin."


"Sebelumnya sudah pernah berobat?"


"Belum, dari kemarin hanya minum obat dari apotik sus."


Suster Lusi meraih tangan agatha mulai mengecek tekanan darah agatha berlanjut ke pengecekan suhu tubuh agatha.


"Tekanan darah 100/10 Normal dan suhu tubuh 37,06." suster Lusi mencatat hasil pemeriksaan agatha.


"Nona Valerina silahkan tunggu di kursi tunggu. nanti di panggil lagi untuk pemeriksaan."


Agatha mengikuti perintah suster Lusi duduk bersama pasien lain. sedangkan suster Lusi masuk ke dalam ruangan periksa dengan membawa map di tangannya.


Kini agatha sedang berbaring di atas brankar pemeriksaan. dokter bertag name Hilda sedang melakukan pemeriksaan pada perut dan detak jantungnya dengan stethoscope yang menggantung di lehernya.


Dokter duduk di kursinya dengan membaca kertas keluhan pasien secara menyeluruh.


"Kapan nona terakhir haid?"


"Tanggal 3 tepatnya bulan lalu dok."


"Berarti bulan ini nona terlambat haid?"


"haid saya memang tidak lancar dok."


"Saya sudah memberikan rujukan untuk nona ke dokter kandungan supaya lebih jelas di sana dokter Gery akan menjelaskan semuanya pada nona." dokter Hilda memberikan kertas rujukan pada agatha.


Agatha terkejut saat dokter Hilda tak memberikannya obat malah merujuk dirinya ke dokter kandungan. agatha merasa khawatir kalau sakitnya akan parah nantinya. apa rahimnya mengalami suatu penyakit atau ada hal lain.


bersambung. . .


biasakan meninggalkan jejak dengan memberikan


Like


Comen


Vote

__ADS_1


terima kasih yang sudah mampir ke lapakku.


__ADS_2