
"Mommy." Maura turun dari gendongan Dadnya lalu berlari kecil mendekati Agatha yang sedang duduk di ruang keluarga bersama jason.
"Sudah pulang sayang." Agatha memangku Maura memberikan ciuman bertubi ke wajah putrinya. hingga Maura terkekeh merasakan geli di wajahnya.
"Mom geli." Agatha berhenti menciumi putrinya.
Maura sejak siang tadi di bawa pergi jalan-jalan oleh Juli. wajahnya terlihat ceria, ia menceritakan hal apa saja yang ia lakukan saat pergi bersama Dadnya. Maura meletakan kantong kresek entah berisi apa di atas meja.
"Apa ini?" Tanya Agatha penasaran.
"Tadi Dad ajak Lula ke Mall telus beli ini tepung buat dede bayi." Terang Maura bersemangat.
"Mas." Agatha melirik Juli yang sedang duduk berhadapan, yang di lihat malah tersenyum tanpa dosa.
"Maura kata siapa buat dede bayi pakai tepung?" Tanya Jason sembari tertawa.
"Kata Mom, buat dede bayi sepelti buat kue pakai tepung." Ucapnya dengan polos.
"Le kau salah bicara?" Jason tersenyum mengejek pada adiknya.
"Waktu itu aku keceplosan Kak."
"Bukan dengan tepung buatnya sayang, hanya Mom and Dad yang bisa buat dede bayi."
"Kakak stop." Cegah Agatha agar Jason tak melanjutkan ucapannya yang mungki saja akan meracuni putrinya.
"Uncel belalti Mom bohong?" Kedua mata Maura sudah berkaca-kaca, bibirnya juga sudah mengerucut tanda kekesalannya pada Agatha.
"Iya." Jason mengangguk.
"Caranya Mom and Dad tidur bersama sayang." Jason semakin gencar menambah Agatha semakin pusing di buatnya.
"Astaga aku dalam masalah." Jason segera bangkit dari duduknya meninggalkan ketiganya. Jika Jason masih ada di sana bisa saja ia di terkam Agatha yang sedang marah.
"Awas ya, aku akan beri perhitungan nanti." Teriak Agatha mulai di buat kesal.
"Kenapa Mom malahin Uncle Jas? kan Uncle ngga bohong sepelti Mom yang bohongin Lula." Ujar Maura yang kini merajuk.
"Jangan dengarkan Uncle Jas sayang, Uncle bohong itu."
"Nanti Mom buat dengan Uncle Chen ya." Balas Juli duduk di samping Agatha membantunya menghadapi putrinya yang sedang marah.
"Kenapa ngga buat baleng sama Dad Aja." Nego Maura.
"Dad ngga bisa buat sayang, yang bisa buat Dedek bayi Mom and Uncle Chen." Juli mendekati Maura yang masih berada di pangkuan Momnya.
"Ngga Mau, Ngga mau, Pokoknya maunya Mom and Dad yang buat. Huaaaa......" Rajuk Maura. Ia menangis sampai sesenggukan, Maura masih bersikeras agar yang membuat Adik bayi Mom and Dadnya bukan dengan yang lain.
Agatha mendesah pelan. Ia sedikit merasa frustasi mendengar permintaan putrinya. Entah dengan cara apa lagi ia akan membujuk Maura.
"Aku akan terus memberikannya pengertian lagi nantinya." Ucap Juli seraya mengangkat tubuh Maura ke dalam gendongannya.
__ADS_1
"Sayangnya Dad jangan nangis terus, nanti cantiknya hilang." Maura masih saja terisak seraya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Juli.
"Lula Mau adik bayi tapi jangan Uncle Chen yang buat." Cicitnya mengulang ucapannya terus menerus.
"Iya nanti Dad and Mom buatkan yang banyak dan lucu untuk putri Dad."
Juli masih setia membuat putrinya tenang. Ia mengelus rambut putrinya hingga ia pun akhirnya terlelap karena lelah menangis.
"Berikan Maura padaku Mas."
"Tidurnya belum pulas Tha." Cegahnya.
"Biar aku yang nanti membawanya ke kamar." Imbuh Juli.
"Baiklah." Agatha mengangguk.
Juli menurunkan Maura lalu merebahkan tubuh mungil putrinya perlahan. Ia meregangakan kedua tangannya yang lelah menggendong Maura sedari tadi.
"Aku sudah buatkan kopi." Ucap Agatha saat melihat Juli menuruni tangga.
"Ini sudah malam, aku harus pulang." Tolak Juli.
"Menginap saja di sini, kau bisa tidur di kamar tamu." Ujar Kak Jonathan memberi penawaran.
"Tapi Kak..."
"Sudah malam lebih baik menginap di sini dan jangan menolak ajakan tuan rumah." Pangkas Jason seraya mengangkat tangannya lalu menujukan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baikalah." Juli kembali duduk bersama dengan di temani secangkir kopi dan cemilan.
Mereka terlihat serius menonton bola sesekali terdengar suara teriakan saat salah satu pemain dapat mencetak gol. Jason dan Jonathan sudah tak lagi memiliki dendam setelah mendengar pencerahan dari Papinya beberapa hari yang lalu agar tak menyimpan hal buruk terlalu lama begitu katanya.
Terukir senyum di bibir Agatha melihat keakuran kedua kakaknya dengan adik sambungnya.
**
Pagi ini Agatha sudah berada di kantor polisi. Ia segera turun dari taxi setelah mengeluarkan selembar uang pembayaran pada pak supir. Agatha berjalan masuk lalu menemui polisi yang berjaga di sana. Setelah ia memberitahu kedatangannya ke sana ia duduk di kursi tunggu.
Tak berselang lama ia melihat wanita yang masih terlihat cantik mengenakan pakaian tahanan berjalan mendekat. Agatha mencoba menenangkan hatinya agar ia tak terbawa suasana.
"Mbak Desi, apa kabar?" Sapa Agatha saat Desi duduk di hadapannya.
"Langsung saja, aku tidak suka basa basi." Desi menatap malas pada Agatha.
"Ya Tuhan redamkanlah kemarahanku." Batin Agatha.
"Apa motifmu mencelakai putriku?"
"Aku hanya menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalanku." Jawabnya kalem.
"Kenapa tak kau lenyapkan saja aku dan putriku agar kalian bisa hidup tenang. Aku kira kepergianku ke kota lain bisa membuat hidup kalian bahagia. Aku sudah mengalah kalian bisa bersama, aku juga sudah mengalah hanya putrimu yang mendapat akuan negara memiliki Ayah apa itu tidak cukup mbak?" Agatha mengeluarkan segala unek-unek dalam hatinya.
__ADS_1
"Kau tidak tau walaupun raganya bersamaku tapi hatinya hanya ada namamu Le." Wajah Desi berubah sendu.
"Seiring berjalannya waktu rasa cintanya pasti akan tumbuh untukmu mbak." Balas Agatha.
"Tapi sampai kapan? Berapa lama lagi aku harus menunggu?" Ucapnya menggebu. Deru nafasnya terdengar tak beraturan.
"Aku bukan Tuhan yang tau kapan hari itu tiba, setidaknya kau lebih mendekati Tuhan dan sering berdoa agar Dia yang kau harapkan lekas kembali." Balas Agatha memberi nasihat.
"Kau bisa bicara seperti itu karena kau tak ada di posisiku. Jika kau ada di posisiku pasti kau akan melakukan hal yang sama denganku."
"Aku juga memiliki putri, aku tidak akan tega untuk melakukan hal buruk pada anak orang lain." Balasnya begitu tenang.
"Besok hari pernikahanku mbak dengan Chen teman kecilku, aku mohon doanya agar pernikahanku berjalan lancar." Ucap Agatha sebelum akhirnya ia bangkit dan pergi.
"Ale." Panggil Desi.
Ia bangkit berdiri mendekat di mana Agatha bediri, sedangkan Agatha berhenti lalu menoleh.
"Maafkan aku." Desi memeluk Agatha. Agatha mengusap punggung Desi saat ia mendengar isak tangis yang keluar dari bibir Desi.
Desi tak bisa membayangkan jika Alika putrinya berada di posisi Maura ia pasti akan sangat marah. Wajar jika Agatha nampak marah padanya namun ia masih bisa mengontrol emosinya. Ia sangat menyesal tak mendengarkan nasihat Papahnya waktu itu agar ia melupakan Juli dan menjauhinya. Namun karena rasa cintanya yang begitu besar hingga membuatnya dibutakan oleh cinta
"Kembali pada Juli Le, aku sudah ikhlas jika kalian bersama. Mungkin jodohku bukan Juli." Ucap Desi.
"Maaf Mbak, aku tidak bisa." Tolak Agatha.
"Kenapa?"
"Bukankah aku tadi sudah bilang kalau aku akan menikah dengan Chen teman masa kecilku." Jelas Agatha.
"Kau tak ingin bersama Juli demi Maura?"
"Chen juga memiliki sifat kebapakan, aku yakin dia bisa menjadi ayah yang baik untuk putriku."
"Kau yang akan menjalaninya jadi pilihan ada di tanganmu. Aku hanya bisa berdoa semoga pernikahanmu lancar dan bahagia."
Agatha mengaminkan doa yang Desi panjatkan.
Waktu jenguk sudah selesai, Agatha pamit pulang. Ia sangat bersyukur jika Desi sudah menyesali kesalahannya. Hasil pertemuannya mendapatkan hasil yang baik. Jika sudah begini hatinya kini merasa tenang.
Bersambung. . .
Berikan dukungan kalian dengan cara meninggalkan jejak dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
Jangan lupa masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤
__ADS_1