One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 56


__ADS_3

Maura yang baru selesai mandi kini sedang di urus oleh bu dewi. rambut panjangnya di ikat dua. cukup sulit untuk mendandaninya, tidak anteng begitu aktif kakinya berlari ke sana ke mari.


"Sayang berhenti sebentar nenek mau mengikat rambutmu." ucapnya mencekal pergelangan tangan maura dan mendudukannya di lantai.


"Nda mau tantik gini lambutna." ucapnya menggoyangkan kepalanya mengibaskan rambut panjangnya. bu dewi terkekeh dan geleng-geleng kepala mendengar celotehan gadis kecil di depannya, percaya diri sekali maura menganggap dirinya cantik.


"Eh pakai ini biar rambutnya rapi, biar tambah cantik." maura berhenti memberontak ia mendadak anteng namun terlihat jelas bibirnya mengerucut merajuk. bu dewi jadi gemes melihatnya ingin rasanya mencium pipinya yang gembul karena merasa gemas sendiri.


"Nah sudah cantik kan." selesai bu dewi mengikat rambut maura ia menyisiri poni yang menutupi dahinya. terakhir ia menaburkan bedak ke wajah maura. jika untuk anak kecil menambah kesan lucu dengan taburan bedak di wajahnya.


Di depan cermin maura menatap dirinya yang sudah selesai di dandani oleh ibu panti. ia berputar-putar mengibaskan drresnya seperti orang dewasa. bu dewi yang melihatnya terkekeh sendiri.


"Maura jadi cantik kan sayang." puji bu dewi, kedua mata maura berkedip-kedip dan pipinya terlihat merah merona menatap pantulan dirinya di cermin mendengar pujian untuknya.


"Tantik sepelti mommy." ucapnya menatap bu dewi.


"Lebih dari itu sayang, maura lebih cantik." maura terkekeh ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Tok


Tok


Tok


Terdengar Daun pintu di ketuk, ia menduga tamu yang datang kemari pasti ayahnya maura. sudah menjadi rutinitasnya setiap hari juli mengunjungi putrinya. bu dewi segera menuntun maura menuju ruang tamu. pintu terbuka lebar menampakan dua lelaki di teras rumah.


"Daddy." Maura berhambur memeluk kaki jenjang ayahnya.


"Wah sudah cantik, sudah wangi juga putri daddy." juli mengangkat putrinya ke dalam gendongannya. lalu mencium kedua pipi gembil maura.


"Iya nenek iwi juga tadi bilang lula tantik, ya kan nek?" ucapnya seraya melingkarkan kedua tangannya ke leher juli.


"Mari silahkan masuk tuan sean dan tuan juli, silahkan duduk." ajak bu dewi mengajak tamunya masuk.


"Iya terima kasih."


"Sayang, mommy mana?"


"Mommy kelja." ucapnya masih duduk di pangkuan juli. ia terus saja berceloteh menceritakan segala hal pada juli lalu di sela-sela mereka asyik bercerita terdengar tertawa di antara keduanya.

__ADS_1


Kedua matanya menatap ke arah lelaki yang duduk di samping ayahnya. sean juga sama halnya sedang menatap ke arah maura yang terlihat akrab dengan putranya. ia melihat jelas kemiripan di wajah cucunya dengan juli putranya bagai pinang di belah dua. sean seperti melihat juli di usia 4 tahun, ia jadi tak merasa ragu lagi jika maura memang benar cucunya.


"Siapa itu?" bisik maura ke telinga juli.


"Oh iya daddy lupa, daddy mau ngenalin oppanya maura."


Maura mengerutkan dahinya masih bingung dengan ucapan juli.


"Oppa itu siapa?"


"Oppa itu ayahnya daddy." ucapnya menjelaskan. maura mengangguk paham.


"Kemari sayang duduk di sini, duduk sama oppa." ucap sean menepuk pahanya agar cucunya mendekat.


Maura menatap pada juli meminta persetujuan, juli mengangguk mengijinkan.


Maura turun dari pangkuan juli, ia melangkah mendekat dan duduk di pangkuan sean, ia termasuk anak yang mudah beradaptasi jadi ia tak merasa takut ketika ia sedang bersama orang yang baru di temuinya.


Sean dan maura mengakrabkan diri bercerita dan bersenda gurau. terlihat kedua sudut bibir juli tertarik membuat lengkungan.


"Maura oppa di periksa, oppa kepalanya pusing ini. kira-kira sakit apa ya?" sean mengajaknya bermain dokter-dokteran dan ia sendiri menjadi pasiennya.


"Badanna panas, Minum ini abis makan. nanti sembuh." ujar maura memberikan butiran obat-obatan ke tangan oppanya.


"Ia langsung sembuh ya, sudah tidak pusing lagi kepalanya. hebat cucu oppa bisa ngobatin orang sakit. nanti kalau sudah besar mau jadi dokter?" ujar sean pada cucunya yang masih sibuk meracik obat-obatan.


Maura mengangguk mengiyakan.


**


Agatha barusaja siuman menatap ke sekeliling kamar berwaran putih khas rumah sakit. ia memegangi kepalanya yang sedikit pusing. ia menatap sosok lelaki di sampingnya yang tengah tertidur pulas. dengan segera ia menyingkirkan tangannya dari genggaman lelaki itu. jason terbangun dari tidurnya merasakan pergerakan di tangannya, ia segera menutup mulutnya karena menguap.


Rasa kantuk itu segera lenyap setelah kedua matanya melihat wanita yang ia tunggu tersadar.


"Kau sudah bangun? tadi pagi kau mengalami kecelakaan di jalan."


Agatha terdiam ia memiringkan tubuhnya ke samping kanan.


"Ale." panggilnya. suara yang sudah lama tak di dengarnya mampir ke telinganya. ia sendiri belum siap untuk bertemu keluarganya tapi kenapa kini di pertemukan secepat ini.

__ADS_1


"Apa kau tak merindukanku?" tanya jason dengan suara parau.


"Aku tak pantas menjadi bagian dari keluarga kalian lagi." ucap agatha menahan isak tangisnya agar tak keluar. jujur saja 5 tahun ia berpisah dari keluarga itu menyakitkan tapi mau bagaimana lagi ia harus pergi jauh meninggalkan orang-orang terkasih.


"Kenapa kau berkata seperti itu?"


"Jangan lagi menganggapku keluarga, aku hanyalah aib untuk kalian." hatinya sebenarnya sakit mengucapkan kata itu pada kakaknya tapi keadaan yang memaksakan ia harus melakukan hal ini.


Jason masih duduk terdiam ia hanya mendengarkan ucapan aneh yang keluar dari mulut adiknya.


"Setelah ini pulanglah bersamaku papi merindukanmu ale setiap hari ia menangis sampai menyewa orang untuk mencarimu." ucapnya seraya memegang bahu agatha.


Agatha menoleh pada kakaknya. sudut matanya mulai menggenang. bohong jika ia tak merindukan keluarganya. jason segera membantu agatha untuk duduk. kedua tangan agatha merentang sedangkan jason menaymbut pelukan itu. agatha menumpahkan segala kerinduannya pada kakaknya. tangan jason terulur mengusap punggung agatha lembut.


"Maafkan aku kak, maafkan aku." ucapnya air matanya meringsek memaksa keluar.


"Pulang ya." ucap jason mengurai pelukan. ibu jarinya mengusap air mata yang menetes ke kedua pipinya.


Agatha menggelengkan kepala menolak.


"Kenapa? apa kau tak merindukan keluargamu?" sekali lagi jason bertanya ia merasa heran kenapa adiknya masih saja menolak.


"Kapan aku bisa pulang dari rumah sakit?" bukannya menjawab ia malah menanyakan kepulangannya pada jason. sungguh jika ia terlalu lama di sini pasti putrinya akan mencarinya. dan seisi rumah panti akan mengkhawatirkannya.


"Besok tunggu dokter mengijinkan, kalau boleh pulang." balasnya mengusap kepala agatha.


Malam harinya agatha tak bisa tidur. berulang kali jason menyuruhnya untuk tidur namun kedua matanya tak merasa kantuk ia sendiri sedang memikirkan putrinya. apa dia sudah makan apa belum? sudah tidur apa belum? maura mencarinya atau tidak? hatinya terus bertanya.


Bersambung. . .


Tetap biasakan setelah membaca meninggalkan jejak dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan


Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya ❤

__ADS_1


Terima kasih kepada pembaca yang masih setia mampir ke lapakku mantengin ceritaku dan memberikan dukungan sampai saat ini.


__ADS_2