
Agatha terbangun saat jarum jam sudah menunjuk di angka 16.00. Tangannya meraba ke sisi ranjang namun ia tak menemukan siapapun.
"Mas, Kau di mana?" Agatha mengedarkan pandangannya menatap ke sekeliling ruangannya. Ia baru menyadari bahwa dirnya tak berada di kamarnya.
Agatha meregangkan otot kedua tangannya. Tubuhnya terasa sakit semua apa lagi yang di bawah sana ah rasanya sungguh nano nano, malas melakukan pergerakan dan aktivitas, semua ini karena kelakuan suaminya yang tak bisa menahan diri.
Agatha lekas membersihkan diri di kamar mandi lalu memakai kembali pakaiannya. Namun sebelumnya ia urungkan niatnya saat melihat lemari yang berdiri kokoh di dalam kamar, Agatha membuka pintu dan tepampanglah pakaian pria dan wanita yang menggantung di sana. Agatha nampak berpikir apa pakaian yang ada di sini milik mbak Desi mantan istri suaminya.
"Bingung memilih pakaian yang akan kau pakai?" Suara sang suaminya mampu membuat Agatha tersadar dari lamaunannya. Ia menole ke arah pintu. Juli berjalan mendekat lalu memilihkan salah satu pakaian untuk Istrinya.
"Yang ini bagus." Juli mengambil dress berwarna navy panjang selutut pada Agatha lalu menempelakan pakaiannya di tubuh Istrinya.
"Aku pakai baju yang tadi saja, lagian itu masih bersih kok mas." Tolak Agatha lalu berjalan ke arah kamar mandi.
"Ini baju milikmu bukan milik Desi, aku sengaja membelikannya untukmu. Jaga-jaga kalau sewaktu-waktu istriku mandi di kantor." Ucapnya hingga membuat kaki Agatha berhenti melangkah. Ia masih mematung tak menoleh tak juga beranjak dari tempatnya.
"Kenapa Mas Juli bisa tau apa yang ada di dalam pikiranku." Batin Agatha.
"Kau ingin pakai sendiri atau Mas pakaikan?" Tanya Juli sembari tersenyum nakal.
"Bisa pakai sendiri. Dasar mesum!" Balas Agatha dengan wajah merah merona karena malu, Ia meraih dress dari tangan suaminya lalu segera masuk ke dalam kamar mandi. Lebih aman jika mengganti pakaian di sana bisa-bisa di terjang lagi.
"Bukan masalah kalau mesum dengan istri sendiri." Agatha yang mendengar ucapan Juli hanya berdecak kesal. Sedangkan Juli terkekeh melihat kelakuan istrinya yang sedang menahan malu.
**
"Mommy kita mau ke mana?" Tanya Maura yang sudah penasaran sejak tadi.
"Mau jalan-jalan sayang, kita ke mall."
"Yey jalan-jalan." Maura bersorak gembira saat tau dirinya akan pergi.
Sesampainya di pekarangan rumah bergaya eropa milik mantan mertuanya Juli lekas menghentikan laju mobilnya lalu turun dari mobilnya.
"Mas, apa sebaiknya aku ikut turun?"
"Tidak usah, lagian aku hanya sebentar menjemput Alika." Jawabnya sebelum ia menutup pintu mobilnya.
Terlihat Ibu Sintia menatap tajam ke arah mobil seperti akan menerkam mangsanya. Namun Agatha tersenyum menanggapinya. Entah sedang bicara apa terlihat dari wajah keduanya saling bersitegang. Mungkin saja Juli mendapatkan penolakan namun Agatha tetap berdoa agar semuanya berjalan dengan baik.
"Kaka Maura pindah di belakang sayang, temani Dede." Titah Juli.
Maura menoleh di mana Alika yang baru saja masuk dan duduk di dalam mobil di belakang.
"Daddy dia siapa?"
"Adik Maura, namanya Alika sayang." Bukan Juli yang menjawab melainkan Agatha.
"Kok sudah besal, Kenapa tidak kecil sepelti Dedek Mutia?" Tanya Maura dengan polosnya.
"Sayang semakin tahun Adik bayi pasti akan semakin besar sayang, Dede Mutia juga pasti sudah tumbuh besar." Jawab Juli memberikan Maura pengertian.
__ADS_1
"Benelan Mom Dede Mutia akan besal?" Tanyanya pada Mom Agatha memastikan.
"Iya sayang Dad benar." Agatha mengangguk membenarkan.
Maura hanya manggut-manggut, entah paham atau tidak yang jelas Agatha dan Juli sudah memberikannya pengertian.
Maura terlihat mengobrol ala anak-anak. sesekali terdengar suara gelak tawa dari keduanya. Agatha melirik ke spion ia menarik sudut bibirnya kala melihat keakraban kedua gadis kecilnya.
Keduanya turun di tuntun Agatha di tangan dan kirinya menuju playzone.
Kedua bocah kecil ini tampak antusias dengan banyaknya zona permainan mereka berlari ke sana ke mari. Agatha yang mengawasi keduanya merasa kewalahan kala Alika dan Maura terlihat memainkan permainan yang berbeda.
"Nambah satu lagi anak laki-laki biar tambah rame." Cletuk Juli yang kini duduk di sebelah Agatha seraya merengkuh pundak sang istri.
"Aku menolak, tunggu mereka besar Mas." Balas Agatha.
"Maura dan Alika sudah besar. Lihat mereka sudah bisa berjalan, berlari dan juga bermain sendiri."
"Aku tetap menolak. Nanti mereka bisa kurang perhatian Mas."
"Mereka tidak akan kurang perhatian, rasa sayang yang kita berikan pada mereka akan sama rata."
"Sayang Satu lagi, aku janji." Juli masih saya mengeluarkan jurus rayuannya. Agatha masih saja bergeming tak menanggapi ucapan suaminya.
"Minggu depan kita pergi honneymoon." Ajak Juli berbisik pelan di telinga Agatha.
"Akhir bulan saja mas."
"Itu jatah tamu bulananmu."
"Mommy Lula haus mau es klim." Rengek Maura di ikuti putri sambungnya Alika.
"Aunty Al juga mau es klim, lasa coklat."
"Iya, Ayo kita beli." Agatha menuntun keduanya menuju etalase es krim agar mereka bisa memilihnya sendiri es krim yang mereka inginkan.
**
Setelah lelah bermain Maura dan Alika terlihat tertidur di ranjang yang sama. Keduanya tidur saling memeluk bonekanya masing-masing.
"Tidur yang nyenyak sayang." Agatha mengusap kepala Agatha dan Alika lalu mengecupnya.
Agatha menyelimuti keduanya lalu segera pergi meninggalkan kamar putrinya menuju kamarnya.
"Sudah tidur?"
"Sudah, apa Mas sudah meminta izin pada Bu Sintia mengajak Alika menginap di sini?" Tanya Agatha seraya membuka lemari lalu mengambil pakaian tidurnya.
"Sudah."
"Di izinkan?"
__ADS_1
"Ya awalnya memang tidak di izinkan, tapi aku memaksa. Aku juga merindukan Alika." Jawabnya seraya menutup laptopnya lalu meletakannya di atas nakas.
"Jadi tadi kalian sempat bedebat?"
"Iya sedikit." Juli bangkit dari ranjang mendekati sang istri. Ia melingkarkan kedua tangannya di perut Agatha. Menjatuhkan dagunya di bahu istrinya. Mengendus aroma tubuhnya seraya memejamkan kedua matanya.
Cup
Agatha merasakan geli pada tengkuknya.
"Mas. Hentikan geli." Agatha menggeliat saat leher jenjangnya mendapat serangan bertubi membuat beberapa tanda merah di sana.
"Aku mau tidur ngantuk, cape juga mas." Ujarnya dengan nada memelas memohon agar suaminya melepaskannya malam ini.
"Hanya sebentar."
"Tadi siang kan sudah."
"Itu jatah siang malam kan belum." Balasnya sedikit ngelunjak.
"Eh kok bisa begitu?"
"Sebentar saja." Ucapnya masih memohon.
"Besok saja."
"Kalau cape di bawah saja, biar Mas yang bekerja." Juli mengerling nakal.
"Oh Astaga harus dengan cara apa aku menolaknya." Batin Agatha meronta ingin melarikam diri namun apalah daya.
"Baiklah, hanya sebentar." Balas Agatha pada akhirnya.
Juli terlihat berbinar kala mendengar jawaban sang istri. "Iya sayang." Janjinya.
Juli segera menggendongnya lalu menurunkan tubuh sang istri perlahan ke atas ranjag. Di tatapnya lekat wajah istrinya mengikis jarak. Membuai wajah sang istri lalu mengecup lembut bibirnya sekilas, Tangannya bergerilnya bergerak menyusuri setiap lekuk tubuh sang istri. Menuntaskan haarat yang sejak tadi sudah bergelora dalam diri ini. Agatha nampak menikmati setiap setiap sentuhan yang di lakukan sang suami lembut yang membuatnya candu.
Tok
Tok
Tok
Bersambung. . .
Mohon dukungannya semua dengan memberikan
Like
Comen
Vote
__ADS_1
Hadiah dan
Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤