
Agatha masih terlelap dalam tidurnya padahal sang fajar sudah muncul dari persembunyiannya. maura si gadis kecil juga sudah terbangun ia menggoyangkan tubuh agatha dengan keras agar mommynya terbangun. kedua mata agatha yang tadinya tertutup sempurna kini terbuka lebar. agatha mendapati putrinya sudah duduk di sebelahnya.
"Good morning honey."[Selamat pagi sayang.] sapa agatha seraya menarik tubuh agatha dalam pelukannya dan mencium seluruh wajah agatha.
"Mom eli." maura meronta menjauh dari agatha.
"Mom ndong." ucap agatha mengulurkan kedua tangannya pada agatha. entah mengapa maura pagi ini manja sekali tak seperti biasanya.
Jika sudah seperti ini bagaimana agatha pergi ke jakarta hari ini untuk ziarah ke makam opanya. agatha bangkit dari ranjang mengikat rambutnya yang terurai lalu menggendong putrinya.
Kemarin malam setelah melihat berita di yutube berita duka opanya meninggal dunia. perasaannya sedih tak berada di sisi opanya sebelum pergi kembali ke pangkuan Tuhan beberapa hari yang lalu.
Setelah bangun dari tidurnya maura tak mau turun dari gendongannya. agatha membawa maura ke kamar mandi membasuh wajah maura dengan air dingin.
"Turun ya." ucap agatha.
"Nda mom, liat ici." ucap maura menggelengkan kepala lalu menunjuk ke arah luar.
"Naik sepeda ya jalan-jalan di depan." ucap agatha lagi masih berusaha menurunkan putrinya. sungguh pundaknya terasa pegal menggendong tubuh putrinya yang semakin hari semakin berat karena pertambahan usia maura. maura tetap saja tak mau turun.
Tin tin
Suara klakson mobil yang berhenti membuat maura menoleh ke arah sumber suara. suara deru mobil berhenti tepat di depan halaman rumah panti. terlihat bang kemal keluar dari mobil menghampiri agatha.
"Lihat siapa yang datang?" tanya agatha menunjuk ke arah datangnya bang kemal dengan dagunya.
"Om emal." panggil maura sumringah.
"Selamat pagi anak manis." sapa bang kemal. "Em bau acem belum mandi ya." seloroh bang kemal setelah mencium kedua pipi maura lalu menutup hidungnya dengan jarinya.
"Nda ailnya dingin." maura menggelengkan kepala.
"Bang maura sejak bangun tidur sangat manja dan tak mau turun, bagaimana kita bisa pergi?" tanya agatha menampilkan raut wajah bingung.
"Loh ada tamu, kenapa ngga di suruh masuk tha?" ucap bu yosi yang muncul dari samping rumah mengintrupsi.
"Eh ibu selamat pagi." sapa bang kemal mengulum senyum.
" Pagi." sapa bu yosi balik.
__ADS_1
"Kalian jadi berangkat hari ini?" tanya bu yosi pada agatha dan bang kemal. agatha sudah menceritakan kepergiannya pada bu yosi dan yang lain tadi pagi.
"Iya bu tapi sepertinya maura tak mau turun dari gendonganku." ucap agatha mengeluarkan keresahannya.
"Bagaimana jika maura ikut bersama kita saja." saran bang kemal.
"Apa maura tak rewel nantinya. mengingat kalian akan melakukan perjalanan jauh ke ibu kota?" ucap bu yosi merasa khawatir.
"Aku akan membuat maura anteng nanti." ucap bang kemal meyakinkan bu yosi. bu yosi mengangguk setuju walau ada sedikit keraguan di hatinya.
Kini agatha sudah siap berangkat, barang yang di perlukan untuk maura saat perjalanan sudah di masukan ke dalam mobil. maura tampak antusias saat dirinya tau jika ia akan ikut pergi menggunakan mobil.
"Dadah nenek." seru maura dari dalam mobil seraya melambaikan tangannya duduk di depan di pangkuan agatha.
"Hati-hati di jalan." ibu calista, bu dewi, bu yosi dan anak-anak panti melambaikan tangan melepas kepergian agatha dan maura.
Di perjalanan maura hanya berceloteh dan bernyanyi. saat melihat kendaraan yang lebih besar dan becak maura begitu heboh. suara yang tadinya berisik seperti ada di pasar kini mulai melemah lama kelamaan anak ini mulai terlelap tidur mungkin karena kelelahan. bang kemal yang menyadari hilangnya suara maurapun menoleh ke kiri bang kemal menarik kedua sudut bibirnya tersenyum.
"Sudah tidur rupanya pantesan sepi." ucap bang terkekeh mengusap lembut pipi gembul maura.
"Iya ini kecapean dari tadi ngomong terus." balas agatha seraya membenarkan posisi tidur maura.
**
"Mau makan di mana terus mau makan apa?" tanya bang kemal saat berhenti di lampu merah. sebelum agatha mencari hotel bang kemal yang tau ini jamnya makan malam dan mencari warung makan untuk mengisi perut mereka yang kosong.
"Sayang mau makan Ayam bakar apa ayam goreng?" tanya agatha pada putrinya.
"Bakal mom." balas maura.
"Bang ayam bakar aja." agatha mengulang ucapan putrinya.
"Okey let's go." ucap bang kemal kembali tancap gas meluncur ke tempat makan yang mereka inginkan.
Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di rumah makan, perasaan agatha mendadak resah ia sendiri belum siap jika nantinya bertemu orang yang di kenalinya atau bertemu keluarganya sekarang. ia sangat tidak siap dan belum menyiapkan jawaban apa yang akan di berikan pada mereka ketika mereka bertanya ke mana agatha pergi selama ini.
"Kita udah sampai, ayo turun." ucap bang kemal membuka sabuk pengaman dan membuka pintu mobil. sedangkan agatha masih bergeming tak bergerak sedikitpun dari duduknya.
"Ayo turun." ajak bang kemal lagi seraya melongok ke dalam mobil. agatha yang tadinya sedang melamun tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Em bang gimana kalo aku nunggu di mobil aja, makanannya di makan di hotel aja nanti."
"Kenapa?" tanya bang kemal bingung.
"Em males gerak udah pewe begini bang." kilah agatha. bang kemal percaya saja dengan ucapan agatha.
"Ya udah ngga papa." ucap bang kemal mengerti.
"Om itut." ucap maura malu-malu.
"Ayo sini." ucap bang kemal langsung menggendong tubuh maura.
Bang kemal melangkah meninggalkan parkiran menuju rumah makan dan segera memesan makanan. terlihat padatnya pengunjung yang memenuhi sudut ruangan, ada yang lesehan ada juga yang duduk di kursi.
"Bu paket ayam bakarnya tiga, di bungkus." bang kemal menghampiri ibu penjual.
"Iya mas, sebentar." balas ibu penjual tersenyum ramah.
Di ujung ruangan seorang pria sedang duduk dan menikmati makanan yang tersaji di atas meja.
"Ada apa tuan?" tanyanya seraya mengamati pergerakan kedua mata atasannya menatap ke arah anak kecil perempuan dalam gendongan seorang pria.
"Tidak papa." balas juli masih belum mengalihkan pandangannya menatap seorang anak yang begitu mirip dirinya saat masih kecil.
" Anak itu, kenapa wajahnya seperti diriku saat kecil walau hanya berbeda kelamin saja." gumam juli dalam hati. ada perasaan aneh muncul di hatinya.
Bang kemal merasa aneh saat tatapannya bertemu dengan seorang pria yang sedang duduk di sudut ruangan. yang sedang terlihat menatap dirinya dan maura.
"Kenapa laki-laki itu menatapku dan maura terus, apa yang dia inginkan dariku." ucap bang kemal dalam hati.
Setelah pesanan makanan siap bang kemal segera membayar dan pergi meninggalkan warung makan.
Dari jauh terlihat seorang pria yang sedang mengamati maura yang baru saja masuk ke dalam mobil. tatapannya belum terputus hingga mobil itu terlihat menjauh. makanan yang belum selesai di santap ia tinggalkan saat melihat maura pergi keluar warung makan.
Bersambung. . .
Terima kasih pada pembaca yang masih setia mantengin ceritaku, Tetep berikan dukungan dengan meninggalkan jejak dengan memberikan
Like
__ADS_1
Comen
Vote