One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 80


__ADS_3

"Jangan, jangan aku mohon jangan tangkap aku pak polisi, aku tidak bersalah." Desi mengigau berteriak bak orang kesetanan.


Mama Sintia menoleh ke arah di mana putrinya tidur, Ia sedang menggendong Alika untuk menidurkannya karena Baby sister yang mengurus Alika sedang ijin pulang kampung dengan alasan Ibunya sedang sakit. Jadi mau tidak mau ia juga harus turun tangan mengurus cucunya di bantu asisten rumah tangganya.


Alika hampir saja terbangun sepertinya merasa terganggu dengan suara teriakan Ibunya.


"Iiisss Sayang." Ucapnya menenangkan cucunya seraya menepuk bokong Alika pelan agar kembali tenang.


Wajah Alika tampak sangat tenang. Ia lekas berjalan menuju ranjang dan duduk di tepi ranjang.


"Pak saya mohon lepaskan saya, saya tidak bersalah." Terlihat wajah Desi yang benjir di penuhi oleh peluh.


"Sayang bangun Nak." Mamah Sintia menepuk pelan lengan kanan putrinya perlahan.


"Sayang." Ulangnya lagi agar putrinya lekas bangun.


"Mamah." Nafas Desi terdengar naik turun. Ia duduk dan menyandarkan kepalanya di headbad, Wajahnya terlihat pucat.


"Mimpi buruk?" Tanya Mamah Sintia.


"Iya Mah."


Mamah Sintia menuangkan air putih dan memberikannya pada putrinya, Kemudian tangannya meraih tisu yang tergeletak di atas nakas lalu mengusapkannya ke wajah putrinya.


"Sebelum tidur baiknya baca doa dulu jangan langsung tidur." Ucapnya memberi saran.


"Sudah Mah."


Saat sarapan pagi wajah Desi masih terlihat Sedikit Pucat.


"Sayang apa kau sakit?" Tanya Papah Davit merasa khawatir.


Desi hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Ada apa des? Apa ada yang sedang kau pikirkan?" Tanya Papah Davit penuh selidik.


"Tidak ada pah." Balas Desi berdusta.


"Mungkin masih memikirkan mimpi buruknya tadi malam Pah."


"Mimpi apa sayang?"


"Bukan hal besar Pah, hanya bunga tidur."


"Tapi Mamah melihat ekpresi wajahmu saat mengigau seperti orang yang sedang ketakutan dan kau juga mengigau menyebutkan polisi." Desi terlihat gugup saat Mamah Sintia mengatakan rancauannya tadi malam.


Papah Davit menyorot dengan tatapan tajam pada putrinya, Desi yang di lihat terlihat menjadi salah tingkah.


"Katakan des, kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu kan dari kami?" Papah Davit terus saja mencecar putrinya dengan pertanyaan yang sama. Ia harap putrinya akan berterus terang dengan apa yang sedang Ia rasakan saat ini.


Namun lagi-lagi Desi menyanggah ucapan lelaki di hadapannya, "Pah tak ada yang Desi sembunyikan dari kalian. Kenapa kalian begitu memaksaku agar mengatakan hal lain. Apa kalian sudah tak mempercayai Desi lagi?" Ujarnya dengan berpura-pura merajuk agar kedua orang tuanya percaya dengan dirinya.

__ADS_1


Papah Davit hanya mendesah pelan mendengar jawaban putrinya. Percuma saja ia mendesak agar putrinya mau bicara jujur padanya tapi masih saja memberikan jawaban yang tak ingin mereka dengar.


"Ya sudah jika tak ingin bercerita, Papah harap kau tak pernah melakukan hal yang aneh di luar sepengetahuan Papah." Ujarnya pada akhirnya.


"Iya Pah Desi tau batasan." Desi segera merampungkan sarapannya lalu berganti menyuapi putrinya yang kini sedang asyik menonton kartun di televisi.


"Aku harus bagaimana lagi? Sepertinya Papah sudah mulai curiga denganku." Gumamnya dalam hati mencoba memutar otaknya untuk bepikir.


Papah Davit memperhatikan dari Jauh semua gerak gerik putrinya yang kini mulai bertingkah aneh akhir-akhir ini.


"Jika kau tak mau berkata jujur pada Papah biar Papah yang akan menyelidiki sendiri." Batinnya.


**


Juli : [Kabar apa yang akan kau berikan padaku max?]


Maxim : [Saya baru saja menemukan petunjuk di rumah sakit di kota medan Tuan, Nona kecil beberapa hari yang lalu di temukan hanyut di sungai dan dilarikan ke Rumah Sakit Harapan.]


Juli : [Max Kali ini kau tak salah informasi kan?]


Maxim : [Tidak Tuan, informasi kali ini benar adanya. Saya sudah berulang kali bertanya pada resepsionis di ruang pendaftaran dan jawabannya tetap sama.]


Juli : [Ya Tuhan, Lalu bagaimana sekarang keadaannya?]


Maxim : [Orang Rumah Sakit bilang Nona kecil sudah di pulangkan dan di bawa oleh orang yang menolongnya Tuan.]


Juli : [Tetap di sana! Aku akan segera menyusul.]


Juli mematikan teleponnya dan bergegas keluar dari ruangannya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu putrinya.


"Aksa tolong kau handel semuanya, Aku akan pergi menjemput putriku di Medan." Titahnya seraya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku jasnya lalu mengetikan pesan pada Agatha agar bersiap-siap untuk menjemput putrinya.


"Syukurlah jika Nona kecil sudah di temukan, saya turut berbahagia Tuan." Ucap Aksa mengucap syukur.


"Max baru saja memberi kabar baik ini padaku, aku ingin memastikan bahwa kabar yang ia berikan tak mengecewakanku lagi." Ucap Juli penuh harap.


"Max memang sangat bisa di andalkan Tuan." Balas Aksa.


[Sayang orang suruhanku sudah menemukan putri kita, bersiaplah aku akan sampai di Rumah Panti sekitar 20 menit lagi.]


Juli kini sudah dalam perjalanan menuju Rumah Panti. Ia menyandarkan kepalanya di jok samping kemudi seraya memijit keningnya. Sang supir melirik ke arah di mana Tuannya duduk dan ia merasa sedikit cemas.


"Apa Anda ingin saya antar ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memeriksakan diri Tuan? Sepertinya anda terlihat sedang tidak sehat." Tanya Anton supir pribadinya.


"Tidak usah, aku baik-baik saja ton."


Jalanan yang tak terlalu padat kendaraan membuatnya bisa tepat waktu dengan ucapannya pada Agatha. Mobil sudah sampai di pekarangan Rumah Panti. Anton segera melepas sabuk pengaman lalu segera keluar mengitari depan mobil membukakan pintu samping untuk Tuannya.


"Silahkan Tuan."


"Mas, kau sudah sampai?" Panggil Agatha yang terlihat berlari kecil dari dalam rumah menghampiri Juli.

__ADS_1


"Baru saja, kau sudah siap?" Balas Juli menatap Agatha dari atas sampai bawah.


"Sudah, mau berangkat sekarang?" Tanya Agatha.


"Iya." Juli mengangguk mengiyakan.


"Tunggu sebentar aku ambil tas lalu pamit dengan Ibu panti." Agatha berjalan masuk ke dalam rumah. Agatha terlihat kembali dengan berjalan cepat ke arah mobil.


Mobil yang mereka tumpangi sudah membelah jalanan. Melewati banyaknya ruko gedung pencakae langit dan pohon besar yan berjejer do tepi jalan. Mobil berhenti di Bandara. Agatha melirik ke samping di mana Juli duduk.


"Kenapa kita berhenti di sini Mas?" Tanya Agatha.


"Akan lama jika kita naik mobil lalu naik kapal." Balasnya tertawa kecil.


"Loh memangnya kita mau ke mana?" Tanya Agatha menaikan satu alisnya.


"Kita mau ke Medan."


"Me..medan?" Tanya Agatha terkejut.


"Iya Maura di sana."


Kereta besi berbentuk segi empat juga sudah sampai di Bandara. Mereka lekas turun dari mobil. Mereka berjalan beriringan menuju pesawat.


"Kau yakin Maura ada di sana?" Agatha kembali bertanya setelah keduanya sudah berada di dalam pesawat.


"Aku menyewa orang untuk mencari Maura dan dia bilang Putri kita ada di kota Itu." Terang Juli.


"Apa Mas sudah menyelidiki orang yang terlibat dalam penculikan Maura?" Tanya Agatha menoleh menatap Ayah kandung dari putrinya. Ia berharap bahwa Juli juga sudah mulai bergerak menyelidiki kasus ini tanpa ia suruh.


"Tentu, aku tak akan membiarkan siapapun orang mengganggu dan mencelakai orang yang aku sayang." Juli mengusap kepala Agatha lalu mengecup puncak rambutnya.


"Mas." Agatha memukul pelan lengan Juli.


"Kenapa, aku hanya mencium tidak lebih." Juli tertawa kecil melihat wajah Agatha yang sedikit bersungut.


Bersambung. . .


Mohon dukungannya dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan


Jangan lupa Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤


Jangan lupa juga mampir ke Novel keduaku yang berjudul Pelangi Di Atas Senja


__ADS_1


__ADS_2