
Guys aku hadir lagi dengan novel terbaruku loh yuk mampir ke profilku lalu pilih novel yang baru.
"Saya Nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Malik Nayaka Ajie bin Edi Malik Ahmad dengan putri saya Jingga Yulia Azzahra bin Ismail Hasan Basri dengan Mas kawin uang sebesar 10 juta rupiah dan seperangkat alat shalat di bayar tunai." Ucap Hasan menjabat tangan Aji untuk menikahkan putrinya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Jingga Yulia Azzahra bin Ismail Hasan Basri untuk diri saya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap Aji lantang dengan satu tarikan nafas.
"Saksi sah?"
"Sah." seruan para keluarga dan tamu undangan menggema di masjid tempat berlangsungnya acara.
Semua orang membaca Hamdalah bersama.
Jingga masih menundukan kepala, jari jemarinya masih menaut satu sama lain untuk menguatkan dirinya sendiri. kedua matanya sudah berkaca-kaca entah perasaan bahagia atau sedih yang harus ia ungkapkan saat ini.
Menikah memang harapan semua orang. Apalagi menikah dengan orang yang kita cintai akan terasa bahagia. Tapi berbeda rasanya jika kita menikah dengan pria asing yang barusaja kita kenal.
Aji mengulurkan tangannya ke arah Jingga agar ia mencium punggung tangannya. Jingga segera meraih tangan suaminya lalu mencium punggung tangannya dengan takzim.
Setelahnya Aji mengecup singkat kening Jingga di hadapan seluruh tamu undangan. jantung Jingga mendadak berdetak kencang saat bibir Aji menyentuh keningnya.
Jingga dan Aji berdiri di pelaminan menyalami para tamu undangan yang hadir. banyak dari mereka menganggumi ketampanan dan kecantikan keduanya. Walaupun kepala Jingga tertutup oleh hijab namun tak bisa di ragukan lagi aura kecantikan yang di pancarkan dari wajah pengantin wanita.
Balutan kebaya adat sunda yang di pakai Jingga sangatlah pas di tubuhnya yang langsing. Dengan riasan wajah yang tak terlalu menor membuatnya cantik natural. Jingga sendiri meminta kepada tim MUA memoles wajahnya agar tak berlebihan.
Setelah Tamu undangan selesai mengucapkan kata selamat atas pernikahan kami dan mendoakan kebaikan pada rumah tangga kami mereka lekas meninggalkan acara.
"Selamat dan semoga berbahagia Jingga." Ucap Salma sahabat Jingga, mereka saling berpelukan lalu cipika cipiki.
"Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk datang Mbak." Balas Jingga melepas pelukan mereka. Ia tahu betul kesibukan sahabatnya itu seperti apa.
"Tentu saja harus bisa datang di hari bahagia sahabatku." Balasnya tersenyum.
"Semoga lekas menyusul." Ucap Jingga mendoakan.
"Amiin." Balas Salma mengaminkan.
Setelah kepulangan sahabat Jingga, ia melihat Kedua orang tua dan mertuanya terlihat sedang mengobrol bersama. Tidak seperti Jingga yang kini hanya saling diam saat berdua di kursi pelaminan bersama Aji lelaki yang kini berstatus suami.
"Selamat Kakak Ipar, semoga kalian bahagia." Ucap Ajeng mengulurkan tangannya menyalami Jingga lalu memeluknya.
"Terima kasih doanya."
"Buatkan aku keponakan yang banyak ya kak." Seloroh Ajeng menggoda.
__ADS_1
Wajah Jingga memerah merasa malu mendengar pekataan Adik Iparnya.
"Jangan lupa pakai hadiah dariku." Pinta Ajeng pada Jingga.
"Jangan memberikan hadiah yang macam-macam jeng!" Ucap Aji galak.
"Aku hanya memberikannya satu macam tak banyak macam kak."
"Ajeng Kakak tidak sedang bercanda, uang jajanmu kakak potong." Ancamnya lagi yang membuat Ajeng merengut.
"Dasar memang kakak luknat sukanya main potong uang jajan." Gumannya dalam hati.
Ajeng tak hentinya mengumpat pada lelaki yang berstatus kakak kandung.
"Aku harap kak Jingga akan kuat hidup seatap dengan pria seperti dia." Ucapnya melirik ke arah Aji, sebelum akhirnya Ajeng pergi meninggalkan keduanya.
"Jika lelah pergilah dulu ke kamar." Titahnya pada Jingga.
"Iya mas." Jingga bangkit dari kursinya menuju kamar hotel yang tersedia untuk pengantin baru yang di siapakan tim WO.
Aji bangkit dari duduknya berjalan menghampiri temannya yang baru saja datang.
Jingga berjalan ke kamar seorang diri. sesampainya di kamar ia langsung menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang dan melepas high heels yang sudah memenjarakannya seharian. Ia memijit kakinya yang terasa sakit karena lelah terlalu lama berdiri.
"Hasan aku ingin melamar putrimu untuk putraku." Ucap seorang wanita yang bertamu malam itu pada Hasan.
"Aku menyerahkan sepenuhnya pada putriku Jingga, apa dia menerimanya atau tidak. karena menurutku bahagianya bahagiaku juga." Balas Hasan menoleh ke samping di mana Jingga duduk.
"Bagaimana Jingga apa kau menerima lamaran tante nak?" Tanya Bu Heni mengulang lagi ucapannya barusan.
Jingga masih bingung, ia sendiri masih menundukan kepalanya belum berani menatap semua orang yang ada di sana. Kedua tangannya mengeluarkan keringat dingin, ia mermas roknya erat lalu memberanikan diri mengangkat kepalanya mengangguk setuju.
"Alhamdulilah, terima kasih nak sudah mau menerima lamaran putra tante." Ucap Heni mengucap Syukur.
Jika saja ia tak mengingat kebaikan Ayah dan Ibu angkatnya ia ingin menikah dengan lelaki yang ia cintai bukan menikah dengan pria asing.
Flash Back Off
Jingga menoleh ke arah pintu saat suaminya membuka pintu.
Ada rasa gugup menggelayuti perasaannya saat ia menyadari bahwa di dalam kamar hanya ada dirinya dan suaminya.
"Kau belum mengganti pakaianmu?" Tanya Aji seraya melepas tuxedo yang sejak tadi di pakainya.
__ADS_1
"Belum."
"Kalau begitu aku duluan, nanti gantian." Aji meraih handuk lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Jingga mengambil oksigen sebanyak-banyaknya untuk bernafas. Perasaannya berubah menjadi gugup dan takut. Ia membayangkan malam pertamanya yang akan ia lalui bersama suaminya nanti.
Pintu kamar mandi terbuka Jingga ternganga melihat Aji yang hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya dan dada bidang milik Aji, ciptaan Tuhan yang terlihat indah di pandang mata. Jingga segera menetralkan perasaannya yang tadi sudah mengagumi tubuh sixpack suaminya.
Jingga segera mengambil handuk dalam kopernya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
"Ya Tuhan." Jingga memegang dadanya, Jantungnya kini tak berdetak beraturan semenjak sah menjadi seorang Istri.
Usai membersihkan diri Jingga keluar dari kamar mandi. Di lihatnya Aji berdiri di dekat jendela kaca. Jingga mendengar samar ia sedang menghubungi seseorang. Entah dengan siapa Aji bicara, suara dari sang penelpon tak begitu jelas namun Jingga mendengar suara wanita dari seberang sana.
Aji : [Kau jangan khawatir, aku sudah mengatur ke mana kita akan pergi berlibur besok.]
Wanita : [. . . . . ]
Aji : [Iya, aku tak akan lupa.]
Wanita : [. . . . . .]
Aji : [Aku juga merindukanmu.] Ucapan Aji terakhir di telepon membuat Jingga tersentak. Dadanya mendadak terasa nyeri dan seakan Jingga mendapat hantaman Keras di kepalanya mendengar suaminya bermesraan dengan wanita lain.
Jingga berpura-pura tak mendengar percakapan suaminya dengan Perempuan lain.
Tok
Tok
Tok
"Aku tadi memesan makan malam untuk kita, mungkin saja itu yang datang pelayan. Kau saja yang buka pintu." Ucapnya tak mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya.
Jingga tak menjawab ia segera melangkah ke arah pintu dan membukanya.
"Selamat menikmati makan malam Tuan, Nona." Ucapnya sopan.
"Terima kasih." Balas Jingga mengulas senyum.
Setelah kepergian pelayan keduanya lekas menyantap makan malam dengan tenang. Tak ada suara percakapan di antara keduanya, hanya ada suara denting sendok dan garpu yang saling bersautan.
Jangan lupa mampir novel ke duaku. Happy Reading...
__ADS_1