
Rasa khawatir dalam hati agatha saat maura putrinya yang sedang terlelap tidur tiba-tiba terbangun dan menangis dengan suara kencangnya. agatha segera mendekati ranjang dan segera menggendong putrinya. tanganya menempel pada kulit putrinya ia merasakan panas di tubuh maura ternyata putrinya mengalami sakit demam. sebagai seorang ibu jelas agatha merasa khawatir dan cemas.
"Cup cup sayang yang tenang ya." ucap agatha mencoba menenangkan tangis putrinya.
Bu dewi yang mendengar suara tangis maura segera menghampiri agatha yang sedang menggendong maura di dalam kamarnya.
"Maura kenapa tha?" tanya bu dewi yang baru saja membuka pintu kamar agatha.
"Badan maura panas bu jadi rewel." bu dewi menempelkan punggung tangannya di kening maura.
"Apa di kompres dulu bu?" tanya agatha meminta saran.
"Iya panas. Pakein jaket sama kaos kaki tha, mending kita langsung bawa ke tempat bidan Umi aja takut demamnya tambah tinggi." ucap bu dewi mengambil jaket milik maura di keranjang baju. agatha segera memakaikannya. agatha keluar dari kamar mengekor mengikuti langkah bu dewi.
"Mau ke mana?" tanya bu yosi yang sedang menggendong Fahri di teras rumah.
"Badan maura panas mau ke bidan bu." ucap agatha. raut wajah bu yosi mendadak khawatir. ia langsung menghampiri maura menempelkan punggung tangannya di kening maura.
"Buruan di bawa ke dokter, semoga panasnya lekas turun." ucap bu yosi mendoakan.
Kini agatha sudah sampai di klinik bidan Umi di temani bu dewi, Agatha membaringkan maura di atas brankar pasien sesuai perintah bu bidan, segera bu bidan memeriksa kondisi tubuh maura.
"Oek oek oek." usai di periksa agatha langsung mengakat tubuh maura menggendongnya agar tenang.
"Iya sayang sayang cup cup."
"Bagaimana bu bidan keadaan anak saya?"
__ADS_1
"Tidak perlu khawatir, mudah-mudahan setelah di berikan obat penurun panas nantinya lekas membaik mba." ucap bu bidan umi kembali ke mejanya menuliskan resep obat untuk maura.
"Mudah-mudahan bu."
Kini maura sudah berada di dalam kamarnya merasa tenang tak menangis lagi setelah minum obat dari bu bidan. wajahnya begitu tenang saat ia terlelap.
"Bagaimana kondisi maura apa demamnya sudah turun?" tanya bu dewi seraya mengusap keringat maura yang membasahi wajah maura dengan tisu.
"Sudah lebih baik bu." ucap agatha.
"Syukurlah kalau sudah mendingan ibu jadi tenang." bu dewi menarik nafas lega.
**
Kini Maura sudah berusia 1 tahun lebih 2 bulan, ia sudah bisa berjalan walau masih seringkali terjatuh, agatha merasa khawatir dengan lutut putrinya takut luka namun agatha memeriksa lutut maura tak ada luka di sana.
"Kemari sayang mom di sini." ucap agatha bersimpuh mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh putrinya. agatha merentangkan kedua tangannya agar putrinya mendekat.
"Ayo maura ayo." teriak lintang bertepuk tangan.
Maura berjalan pelan terjatuh lalu bangkit kembali menghampiri mommynya.
"Hap." ucap agatha saat putrinya sudah ada di hadapannya.
agatha segera mengangkat tubuh maura menggendong putrinya ia mencium seluruh wajah maura yang begitu menggemaskan hingga maura merosot memaksa turun dari gendongannya.
Agatha segera menurunkan putrinya dan mendudukannya di lantai.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 saatnya maura untuk mandi, air hangat untuk maura sudah agatha siapkan namun maura masih saja menolak untuk mandi. ia masih terlalu asyik bermain dengan banyaknya mainan bersama anak-anak.
"Ayo mandi dulu sayang." maura menggelang tak mau mandi, namun agatha segera mengangkat tubuh mungil maura membawanya ke kamar mandi.
"nda nda." maura terus saja meronta saat tubuhnya sudah dalam gendongan agatha. dengan gerakan cepat agatha segera melepaskan pakaian maura.
"Mandi dulu biar wangi."
"Eh segernya." ucap agatha saat gayung yang berisi air hangat menyiram tubuh maura. maura mengusap wajahnya yang terkena air dengan telapak tanganya. agatha selalu merasa kesulitan mengajak maura mandi tapi jika sudah mandi maura betah untuk bermain air dan tak mau keluar dari dalam air. agatha memakaikan handuk ke tubuh putrinya lalu segera mengangkat paksa maura dari dalan air jika ia membiarkan putrinya terlalu lama bermain air bisa masuk angin.
"Aaaa nda nda mom hua. .hua." maura berteriak menangis memukul agatha agar menurunkannya. namun agatha tak menghiraukan teriakan putrinya.
"Ga boleh main air lama-lama nanti masuk angin." ucap agatha memberikan pengertian pada maura putrinya.
Maura sudah cantik dan wangi. taburan bedak di wajahnya juga membuat wajahnya lucu dan begitu menggemaskan. agatha mengeringkan rambut maura dengan handuk lalu menyisirnya. maura yang lelah bermain seharian kedua matanya terlihat merah sepertinya maura mengantuk. agatha membaringkan di ranjang menyusuinya hingga kedua mata maura terpejam dan menyambangi alam mimpi.
Bersambung. . .
Jangan lupa setelah selesai membaca biasakan meninggalkan jejak dengan memberikan
Like
Comen
Vote
Terima kasih pada para pembaca yang masih setia mampir ke lapakku dan mantengin ceritaku.
__ADS_1