
"Ada apa mengajakku bertemu?" Tanya Desi seraya bersidekap.
"Sudah berubah pikiran mau mengajakku bekerja sama?" Cibir Desi.
"Percaya diri sekali. Memangnya kau pikir aku mengajakmu bertemu untuk bekerja sama?" Chen memutar bola mata malas.
"Jika bukan mengajakku bekerja sama lalu apa tujuanmu mengajakku bertemu huh?" Tanya Desi lagi yang merasa penasaran dengan tujuan pria di hadapannya.
"Di mana putri Ale?" Todong Chen.
"Kau mengajakku bertemu hanya untuk menanyakan di mana putri Ale?" Desi tertawa mendengar pertanyaan yang Chen lontarkan.
"Mana buktinya jika aku yang melakukan itu semua?" Tanya Desi.
"Aku bukan menuduhmu, Guru yang mengajar Maura bilang Maura di bawa pergi seorang wanita dan aku berpikir wanita itu dirimu. Siapa lagi jika bukan kau pelakunya. Kau satu-satunya wanita yang ingin menghancurkan Ale."
"Aku bisa membuatmu di penjara dengan laporan tuduhan dan pencemaran nama baik Chen." Gertak Desi merasa geram.
"Lakukan saja, tapi aku pastikan kau yang akan lebih dulu masuk bui saat semua bukti sudah aku dapatkan." Wajah Desi mendadak sedikit pucat namun persaannya dibuat setenang mungkin.
Sedangkan Chen tersenyum sinis.
"Karena kau pernikahanku di tunda. Jika saja kau tak berulah seperti ini kau bisa mendapatkan dia kembali."
"Kau tak memberi tahuku kalau kau mau menikahinya, jadi kau jangan terus menerus menyalahkanku." Balas Desi bersungut.
"Kau saja yang tidak sabaran, gegabah mengambil keputusan." Ucap Chen sedikit geregetan menghadapi sikap rubah betina.
"Jika sudah seperti ini sampai kapanpun kau tak akan bisa mendapatkan pria idamanmu kembali." Chen merutuki kelakuan Desi.
"Ck, Jika saja kau mau di ajak kerja sama aku tak akan membuang Ma.." Desi menggigit bibirnya hampir saja dia keceplosan mengatakan kebenarannya pada Chen.
"Jadi kau yang menculiknya? Kau bilang tadi akan melaporkanku pada polisi atas laporan tuduhan dan pencemaran nama baik. Ternyata dalang di balik semua ini adalah kau des." Desi yang percaya diri sejak tadipun kini menjadi gugup. Sedangkan Chen tersenyum sinis padanya.
"Di mana Maura?" Tanya Chen sekali lagi.
"Tidak tau." Balasnya ketus lalu Desi memalingkan wajahnya.
"Bohong."
"Tak apa jika kau masih tak percaya."
"Sangat sulit untuk bisa mempercayai wanita sepertimu."
"Memangnya hanya aku orang yang membenci Ale, lalu bagaimana dengan Ayah Sean dan Mamin Niken. Bukankah mereka juga tak menyukai Ale." Desi masih mengelak tuduhan yang di layangkan Chen padanya.
__ADS_1
"Jasi menurutmu mereka yang melakukan semuanya?"
"Ya mungkin saja."
"Bagaimana jika Mantan suamimu tau kau menculik putrinya. Apa dia masih mau kembali padamu?" Chen tersenyum miring.
"Benar juga yang di katakan Chen jika Juli sampai tau dia pasti akan marah dan mungkin saja aku di masukkan ke dalam bui. Kenapa aku tak berfikir sampai ke arah sana ya. Chen juga akan menikahi Ale jadi kemungkinan juli akan kembali padaku. Jika sudah begini aku harus bagaimana." Desi merasa frustasi sekarang. Sesal memang pasti akan datang di akhir.
Desi masih memejamkan kedua matanya dan menyandarkan kepalanya di sofa. kepalanya rasanya seperti ingin meledak.
Berkas yang sudah menumpuk di atas meja ia abaikan. Pikirannya bercabang dengan segala masalah yang sudah ia buat. Jam makan siang juga ia lewati. Sudah beberapa kali sang Asisten mengingatkan akan makan siangnya namun perempuan yang baru genap berusia 27 tahun ini masih asyik bergulat dengan pikirannya.
"Des siapa pria yang baru saja keluar dari ruanganmu?" Tanya Papah Davit pada putrinya saat masuk ke dalam ruangan putrinya.
"Dia temanku pah." Kilahnya.
"Teman? Papah baru pernah melihatnya." Papah Davit menyatukan alisnya. Apa putrinya sudah mulai dekat dengan seorang pria.
"Ya kami belum lama saling kenal Pah."
"Ooh." Papah Davit mengangguk mengerti.
"Ada hal apa yang membuat Papah datang kemari?"
"Apa Papah berkunjung harus mempunyai tujuan?" Tanya Papah Davit.
Setelah Desi berpisah dari Juli Papah Davit mendudukan putrinya di kursi CEO di Perusahaan cabang agar ia tak larut terus menerus dengan kesedihannya.
"April bilang kau melewatkan makan siang? Apa pekerjaanmu yang membuatmu sangat sibuk?"
"Iya pah maaf terlalu sibuk jadi Desi tak sempat makan siang." kilahnya padahal ia sangat malas makan.
Tok
Tok
Tok
"Masuk." Titah Davit.
Terlihat sang Asisten menarik gagang pintu dengan membawa 2 kotak box berisi makanan dan 2 minuman di tangan sebelahnya.
"Pak ini makan siang yang tadi bapak minta. Dan ini uang kembaliannya." April meletakan box makanan di atas meja beserta uang kembalian.
"Terima kasih ya April. Uang kembaliannya untukmu saja." Ucap Davit tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih Pak." April mengambil kembali uang yang tadi ia letakan di atas meja sambil tersenyum mereka di bibirnya. Lalu beranjak keluar dari ruangan.
"Saya permisi Pak." Pamitnya undur diri.
"Makan dulu." Papah Davit menggeser box yang berisi hamburger di hadapan Putrinya.
Akhirnya keduanya makan siang bersama. Hingga makanan keduanya habis tak tersisa.
"Kau sudah dengar Putri Ale hilang?" Tanya Papah Davit. Desi yang sedang makanpun tersedak makanan yang sedang ia makan.
"Pelan-pelan Sayang." Ujarnya seraya mengelus punggung putrinya pelan. Sedangkan Desi meraih minuman di hadapannya lalu meminumnya sampai habis.
"I..iya Desi sudah mendengarnya Pah dari temanku yang tadi datang kemari." Balas Desi tergagap. Gugup yang Desi rasa saat ini.
"Menurutmu kira-kira siapa dalang di balik ini semua?" Papah Davit meminta pendapat pada Putrinya.
"Em em mungkin saja Mami Niken dan Ayah Sean Pah, yang Desi tau mereka berdua membenci putrinya." Desi pura-pura berpikir.
"Bisa Jadi." Papah Davit manggut manggut.
"Papah takutnya kau yang nantinya di tuduh terlibat dalam masalah ini Des." Mendadak wajah Papah Davit terlihat Cemas.
"Mana mungkin Desi terlibat Pah. Desi saja tak ada waktu untuk bersantai pekerjaan Desi menumpuk Pah apalagi untuk menculik Maura mana ada waktu." Desi berbohong.
"Papah kan hanya bilang di tuduh terlibat bukan mengatakan kau terlibat sayang." Papah Davit merasakan aneh pada bahasa bicara putrinya. Seperti ada hal yang ia sembunyikan darinya.
"Aku tak melakukan apapun Pah. Jadi Papah tak usah mencemaskanku." Ucap Desi mengusap lengan Papah Davit agar perasaannya lebih tenang.
"Papah harap kau tak terlibat dalam masalah ini. Papah sudah tak ingin berurusan dengan mereka lagi." Tegurnya mengingatkan.
Desi hanya mampu menelan salivanya. Bagaimana jika Papah tau dia yang menjadi dalang penculikan apa yang akan Papahnya lakukan padanya. Kini Desi menyesal telah membuat semua masalah menjadi sangat rumit.
Bersambung. . .
Mohon dukungannya dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤
Mampir Juga ke Novelku yang kedua yang berjudul Pelangi Di Atas Senja
__ADS_1