One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 85


__ADS_3

"Kita perlu bicara Jul." Ucap Jonathan lirih pada Juli yang baru saja tiba di kediaman keluarga Lee.


"Bicara saja."


"Tidak di sini." Ucapnya lagi. Ia menarik pergelangan tangan Juli menjauh dari teras rumahnya menuju gazebo di belakang rumah.


"Jul, apa kau tak merasa curiga pada mantan istrimu?"


"Curiga soal apa?" Tanya Juli menaikan satu alisnya ia bingung dengan arah pembicaraan Jonathan padanya.


"Soal penculikan anakmu." Terangnya.


"Aku juga berpikiran ke arah sana, tapi aku belum punya cukup bukti yang kuat."


"Kita sama-sama kumpulkan bukti, bagaimana?" Ajak Jonathan.


"Caranya?"


Jonathan membisikan rencananya pada Juli.


"Idemu sangat gila." Juli mendengarkan seraya menggelengkan kepala berulang kali.


"Jika dalam keadaan sadar dia tidak akan mungkin bicara jujur." Jawab Jonathan.


"Ia juga, Tapi...." Juli menggantungkan ucapannya lalu menghela nafas dengan kasar.


"Lakukan saja, aku juga akan ikut mengawasi dari jauh. Jadi kau tidak usah khawatir."


Juli mengangguk setuju dengan ide yang di katakan Jonathan.


"Kapan kita akan bergerak?" Tanya Juli.


"Kau mau memulainya kapan?" Bukannya Jonathan menjawab ia malah balik bertanya.


"Lebih cepat lebih baik." Balas Juli.


"Nanti malam." Putus Jonathan pada akhirnya.


"Kakak atur saja."


Teeeettttt Teeettttt


Suara bel berbunyi membuyarkan lamunan pertemuan Juli dan Jonathan kemarin pagi. Juli segera bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.


"Maaf menunggu lama, Ayo masuk" Juli mengajak Desi masuk dan ia memaksakan senyum terbit di bibirnya.


"Tidak papa." Balas Desi berjalan dan menjatuhkan bokongnya di sofa.

__ADS_1


"Kau sendiri?" Tanya Juli basa basi.


"Iya, dari kantor langsung ke mari."


"Kau tampak berbeda, apa kau jarang makan?" Tanya Juli seraya menatap Desi dari atas sampai bawah.


"Iya, aku terlalu sibuk bekerja jadi sering terlambat makan."


"Jangan suka menyiksa dirimu, nanti jika kau sampai sakit bagaimana?" Ucapnya sedikit perhatian.


Desi hanya tersenyum menanggapi perhatian kecil dari Juli. Tubuh Desi terlihat berbeda tampak kurus dan berantakan.


"Ayo makan bersama." Ajak Juli menarik pergelangan tangan Desi. Desi bangkit berdiri lalu ikut berjalan mengekori Juli menuju meja makan. Ia merasakan hal aneh pada mantan suaminya yang tiba-tiba saja bersikap manis padanya.


"Kau yang siapkan semua ini?" Tanya Desi menatap Suaminya yang begitu cekatan mengambilkan nasi beserta lauk pauk.


"Iya, aku kan sudah bilang ingin makan malam denganmu. Sudah lama bukan kita tak makan bersama dan aku rindu."


Desi begitu terhipnotis dengan apa yang baru saja Juli katakan.


"Kenapa melamun?" Juli melambaikan tangan wajah Desi dan dengan cepat Desi tersadar dari lamunannya.


"Ah iya." Desi lekas menyuapkan makanaan ke dalam mulutnya.


"Sini biar aku yang suapi." Juli merebut sendok dalam genggaman Desi lalu makan sepiring berdua.


"Sudah malam Aku pulang dulu." Pamit Desi yang merasa dirinya harus kembali ke rumah lantaran waktu sudah menunjuk di angka 22.20. Mereka berbincang mengenai banyak hal sampai keduanya tak ingat waktu.


"Bagaimana jika menginap di sini." Usul Juli.


"Me...menginap?" Tanya Desi tergagap menjawab ajakan Juli.


"Iya, Kenapa apa kau merasa keberatan?" Tanya Juli berpura-pura memasang wajah sedih.


"Bu...bukan begitu, aku mau menginap." Balasnya cepat.


"Mau minum bersama?" Tawar Juli seraya meletakan wine di atas meja.


Desi mengangguk mengiyakan. Kapan lagi coba dia bisa menghabiskan malam bersama lelaki yang ia cintai. Desi memang merasa aneh dengan sikap mantan suaminya namun ia tak menghiraukan perasaan yang menyelimuti hatinya saat ini.


**


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Jonathan saat Juli baru sampai dan duduk. Juli sedang berkunjung di kantor Jonathan.


"Dengarkan dan lihat sendiri." Balas Juli seraya menyodorkan ponselnya pada Kakak sambungnya.


"Des bagaimana jika kita rujuk kembali, apa kau mau?" Tanya Juli saat Desi sudah mulai mabuk.

__ADS_1


"kau akan menikahiku lagi?" Desi nampak tersenyum senang.


"Ya jika kau mau, tapi aku ingin Maura juga ikut dengan kita." Harap Juli.


"Maura ikut tinggal bersama kita? memangnya dia masih hidup?" Tanya Desi seraya tertawa terbahak-bahak.


"Apa maksudmu bertanya Maura masih hidup?" Tanya Juli dengan jantung berdegup kencang.


"Iya bukannya dia sudah m*ti? Jadi untuk apa membawanya tinggal bersama kita!" Ucapnya dengan jelas.


Juli menatap tajam pada Desi dengan wajah memerah menahan amarah, "Dari mana kau tau jika Maura sudah m*ti?" Tanya Juli masih mencoba menahan diri agar tak terpancing emosi.


"Aku yang menyingkirkannya. Siapapun dia yang menghalangi jalan bahagiaku akan aku leyapkan mereka." Ucap Desi menggebu.


Deg


Tubuh Juli merasa lemas mendengar jawaban Desi. betapa jahatnya wanita yang pernahi a nikahi. Ia begitu berani melakukan segala cara agar keinginannya tercapai sungguh licik sekali dia.


"Di mana kau lenyapkan Maura."


"Apa kau ingin mencari jasadnya?" Bukannya menjawab Desi malah balik bertanya.


"Di mana?" Juli masih mendesak agar Desi bicara.


"Jauh, Di sungai di kota Medan." Ucapnya lagi sebelum tubuhnya ambruk dan tak sadarkan diri karena terlalu banyak minum.


"Dugaanku tidak salah dia memang pelakunya." Ucap Jonathan setelah video berhenti berputar.


"Aku juga tidak menyangka."


"Lalu sekarang bagaimana?" Tanya Juli.


"Biar nanti ini jadi urusanku Jul." Ucapnya setelah ia meneguk minuman dalam gelasnya.


Bersambung. . .


Mohon berikan dukungan kalian dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan


Masukan ceritaku ke dalam ceritaku favorit kalian ya❤


Jangan Lupa mampir juga ke Novel keduaku yang berjudul Pelangi Di Atas Senja

__ADS_1



__ADS_2