One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 71


__ADS_3

Flash Back On


"Ale kau lihat, Chen terlihat begitu akrab dengan Maura. Dan Kakak lihat juga Chen sepertinya menyayangi Putrimu." Ucap Jonathan menatap ke arah Chen yang sedang bermain dengan Maura.


"Iya Kak, Maura juga anaknya mudah akrab dengan siapapun." Balas Agatha.


"Kakak akan setuju jika Chen menjadi Ayah untuk Maura." Ucap Jonathan.


Uhuk


Uhuk


Uhuk


Agatha tersedak makanan yang sedang ia makan mendengar ucapan Kakaknya. Jonathan lekas membantu adiknya mengusap punggung Agatha lembut.


"Hati-Hati." Saran Jonathan seraya menyodorkan segelas air pada Agatha.


Agatha lekas meneguk minuman yang Jonathan berikan hingga tandas.


"Kau tidak papa?" Tanya Chen khawatir, ia langsung berlari menghampiri Agatha saat mendengar Agatha terbatuk.


"Aku baik-baik saja Chen." Balas Agatha meyakinkan.


"Sudah minum?" Tanya Chen.


"Sudah baru saja." Balas Agatha menunjukan gelas kosong yang ada di tangannya pada Chen.


"Lain kali hati-hati." Ucap Chen perhatian.


"Perhatiannya calon adik iparku." Seloroh Jonathan. Chen menggaruk lehernya yang tak gatal. Ia merasa malu kedapatan memberikan perhatian pada Agatha.


"Kakak." Agatha mendelik, ia memukul lengan Kakaknya agar Jonathan berhenti menggodanya.


"Ha..ha..Ha..ha...." Jonathan malah tertawa.


Flash Back Off


Agatha masih menatap lekat wajah ayu milik putrinya. Wajah yang mirip dengan Juli selalu mengingatkannya pada Lelaki yang sangat ia cintai. Agatha lekas mengusap air matanya yang lolos membanjiri kedua pipinya.


Agatha sedang berpikir Apa dirinya menikah saja dengan Chen agar semua masalah bisa selseai. Lagi pula Chen memiliki sifat kebapakan. Tapi sepertinya Agatha masih harus memantapkan hatinya untuk mengambil keputusan. karena menurutnya menikah itu sama seperti ibadah yang panjang. jadi ia berharap pernikahan yang ia jalani bisa bertahan hingga ajal menjemput.


"Daddy, Hua...." Teriak Maura mengigau.


"Hey Sayang Cup Cup." Agatha mengusap lengan Maura lembut.


"Hua Mommy daddy mana?" Tanya Maura saat kedua matanya membuka sempurna.


"Daddy kan lagi kerja sayang, Maura lupa ya?" Balas Agatha. ia mengusap air mata yang jatuh di pipi Maura dengan ibu jarinya.

__ADS_1


"Lula mau sama daddy." Ucap Maura, ia membenamkan wajahnya di dada Agatha.


"Mommy telpon daddy ya." Agatha mengambil ponselnya lalu mencari nomor telepon Juli.


Juli yang baru saja selesai mandi lekas meraih ponselnya kala ia mendengar ponselnya berdering.


Terlihat senyum mengembang di wajahnya saat melihat nama pemanggil di layar ponselnya. Ia segera menggeser tombol hijau untuk mengangkatnya.


"Daddy." Suara gadis kecil yang sudah mengganggu pikirannya sejak kemarin membuat rasa rindunya kini terobati.


"Hallo sayangnya Daddy?" Tangan Juli melambai.


"Daddy kapan pulang Lula kangen."


"Nanti sore Daddy ke sana. Mau di belikan oleh-oleh apa Sayang?"


"Ngga mau apa-apa, Lula mau bobo bareng daddy lagi."


"Iya nanti kita bobo bareng lagi ya." Juli mengangguk setuju.


"Yey..." Maura berjingkrak senang, kakinya melompat ke sana ke mari.


"Daddy mau siap-siap kerja dulu sayang, sampai bertemu nanti sore."


"Iya Dad." Maura memberikan ponselnya pada Agatha.


"Ada apa Mom?" Tanya Juli tersenyum menggoda.


"Pakai bajumu!" Titah Agatha. sedangkan Juli malah terkikik melihat ekspresi wajah Agatha yang memerah menahan malu dan kesal.


"Maura saja tidak papa melihatku seperti ini."


Bukannya menjawab Agatha malah mematikan ponselnya secara sepihak.


"Dasar mesum." Ujar Agatha menggerutu.


Ya siapa yang tidak terpesona melihat roti sobek dan pahatan indah yang Tuhan ciptakan pada postur tubuh Juli. Agatha sendiri tak bisa membohongi dirinya jika ia mengaguminya.


**


"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu ingin menikah dengan sahabat kecilmu itu?" Tanya Bang Gani memastikan.


"Sudah, dan menurutku Chen juga terlihat memiliki jiwa kebapakan." Ucap Agatha menyandarkan punggungnya ke tembok.


Agatha sedang berkunjung ke rumah Beni paman dari Bang Gani, orang yang sudah Agatha anggap sebagai Kakak. mereka duduk di teras rumah sambil menikmati terpaan angin yang bertiup.


"Bukankah hatimu masih ada dia?"


"Sudah tak ada lagi harapan untuk kami bersama bang." Ucap Agatha lirih. wajahnya berubah sendu.

__ADS_1


"Akan ada banyak orang yang terluka jika aku terus memaksa bersama." Imbuhnya lagi.


Agatha menceritakan kembali pertemuannya dengan ayah sambungnya saat di Rumah Sakit. Bang Gani terkejut mendengar alasan Ayah sambung Agatha ingin tetap bertahan walau harus mengorbankan kebahagiaan anak dan cucunya.


"Apa mereka seegois itu?" Tanya Bang Gani merasa heran. Ia menggelengkan kepalanya masih merasa tak percaya dengan sikap Ayah sambung Agatha.


"Mungkin ini memang sudah jalan takdirku bang." Ucap Agatha pasrah.


Gani menatap kagum pada sosok Agatha, ia tahu betul bagaimana lika liku hidup Agatha. Wanita ini begitu kuat saat banyaknya masalah menerpa hidupnya.


"Ke mana saja tak pernah mampir ke rumah paman?" Tanya Paman Ben yang muncul entah dari mana dengan sepeda motornya.


"Sibuk paman, paman apa kabar?" Tanya Agatha menyalami Paman Ben dengan takzim.


"Alhamdulilah sehat, apa Maura tidak ikut ke mari?" Tanya paman Ben lagi.


"Ada di dalam sedang bermain bersama kelin." Balas Agatha menunjuk ke dalam rumah di mana Putrinya berada.


"Jangan di anggurin tehnya dan cemilannya, paman masuk ke dalam dulu." Ucapnya pamit.


"Iya paman." Agatha menganggukan kepala.


Jam sudah menujukan pukul 15.30, Agatha segera pamit pulang.


"Mutia besok gantian main ke lumah Lula ya." Pinta Maura pada gadis kecil berusia satu setengah tahun yang kini berada di gendongan Kelin.


"Iya kapan-kapan Mutia main ke rumah Lula." Balas kelin mewakili putrinya yang yang belum bisa banyak bicara.


"Kami pamit."


"Da dah hati-hati di jalan." Tangan Kelin dan Mutia melambai.


"Ingat pesan Abang Tha, tolong pikirkan lagi semuanya jangan gegabah mengambil keputusan."


"Iya bang, terima kasih sudah mau menjadi pendengar untukku."


"Iya, kalian hati-hati." Bang Gani mengecup pipi Maura sebelum kendaraan roda dua itu melaju meninggalkan halaman rumah paman Ben.


Bersambung. . .


Mohon dukungannya semua dengan cara meninggalkan jejak dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan


Masukan ceritaku ke dalam cerita Favorit kalian ya❤

__ADS_1


__ADS_2