
"Aku?" Jonathan menuding dirinya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Ya kau yang membuatku berubah! Kau bilang ingin melanjutkan kuliahmu di luar negeri tapi nyatanya kau malah menjalin hubungan dengan Nency."
Jonathan terdiam, ia membiarkan Wita meluapkan segala amarahnya. Baru setelahnya ia akan mengatakan kenyataan yang terjadi.
"Kenapa diam ha! Apa kau terkejut kalau aku mengetahui semuanya?"
"Siapa yang bilang aku menjalin hubungan dengan Nency?" Tanya Jonathan lagi.
"Siapapun dia kau tidak perlu tau." Ucapnya ketus lalu berbalik ingin meninggalkan Jonathan.
"Aku dan dia hanya berteman. Dia memang kuliah di negara yang sama denganku tapi beda kampus. Dan harus kau tau aku tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun termasuk Nency. Hanya kau yang ada di hatiku Re." Jelasnya.
Wita menghentikan langkahnya tapi sama sekali tak menoleh ke belakang. Hatinya bimbang ingin mempercayainya atau tidak.
"Re apa kau sudah menikah? Kenapa anak laki-laki di dalam sana memanggilmu dengan panggilan Bunda?" Tanya Jonathan penasaran.
"Iya." Wita berdusta.
"Jadi penantianku sia-sia menunggumu bertahun-tahun dan kau sudah menjadi milik lelaki lain." Jawabnya lirih, bibirnya terdengar bergetar.
"Re apa dia Jo kekasihmu dulu?" Tanya Bibi Hasna menatap keduanya yang masih terlihat perang dingin. Ia keluar dari bangsal saat mendengar suara gaduh dari luar.
"Pergilah dari sini Jo, jangan mencari tau lagi tentang aku. Aku akan segera mengundurkan diri jadi pengasuh keponakanmu." Usirnya seraya mendorong tubuh Joanthan.
"Berhenti!" Titah Bibi Husna menghentikan langkah Jo yang akan pergi.
"Re selesaikan masalah kalian secepatnya. Bibi akan menjaga Galen di sini."
Akhirnya Wita dan Jonathan duduk berdua di taman. Keduanya duduk dalam satu kursi namun tak saling berdekatan. Wita menceritakan semua yang ingin Jo ketahui. Betapa terkejutnya Jo saat dirinya tau jika anak lelaki yang ada di dalam bangsal adalah buah cintanya dahulu sebelum ia pergi ke luar negeri.
Jonathan mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa tak menghubungiku jika kau dulu hamil? " Jo menoleh menatap Wita yang masih memandang lurus ke depan.
"Setelah aku mendengar kau dekat dengan Nency aku tak lagi berniat mengabarkan kehamilanku pada keluargamu, lagipula aku tak yakin keluargamu akan menerimaku."
"Kenapa bisa sampai berpikiran ke arah sana? Aku pasti akan bertanggung jawab."
"Kau mau kan memafkanku Re?" Tanyanya sekali lagi menatap dalam kedua manik mata berwarna coklat itu, ia bersimpuh di hadapan wanita yang dulu pernah mengisi harinya dan hatinya.
__ADS_1
Wita masih saja diam membisu.
Wita menghela nafas dalam, "Aku sudah memaafkanmu Jo." Jawabnya seraya melepaskan tangannya dari genggaman Jonathan.
"Ayo kita menikah." Ajak Jo.
"Apa keluargamu akan menerimaku yang hanya anak orang biasa?"
"Pasti, keluargaku orang baik. Mereka akan menerimamu dan anak kita Re." Ujarnya meyakinkan Wita.
Wita kembali merenung seraya memejamkan kedua matanya. Ia juga harus menjelaskan dari mana tentang Jo pada Galen putranya. Ia takut jika Galen akan membenci Ayahnya.
**
Pagi ini Agatha membantu menata makanan yang sudah di masak oleh ARTnya di atas meja makan. Juli terlihat berjalan menuruni tangga seraya menenteng tas kerjanya.
"Kau yakin akan menjenguk anaknya Wita hari ini? Tapi aku tidak bisa ikut, ada meeting dengan clien penting." Tanya Juli menarik salah satu kursi dan mendudukinya.
"Iya yakin, aku ingin melihat kondisinya. Aku juga ke sana tidak sendiri Mami akan ikut menemani."
"Lumayan jauh tempatnya?" Ujarnya memastikan.
"Apa kau akan nyaman jika duduk di mobil terlalu lama?"
"Jika lelah duduk yang berhenti sebentar mencari pertamina untuk beristirahat Mas, begitu saja dibuat bingung." Ucapnya seraya menyuapi Maura.
"Ya sudah jika kau tetap ingin pergi, katakan pada Wita aku tidak bisa ikut menjenguk semoga sakit putranya lekas membaik."
"Amiin, nanti aku sampaikan Mas."
Juli menghabisakn sarapannya lalu segera bangun dari duduknya. Ia mengambil tas kerjanya lalu berjalan menuju mobilnya. Sang istri mengekor mengantarkan Juli sampai di teras.
"Hati-hati di jalan Mas." Pesannya.
"Baik-baik di rumah, aku mencintaimu sayang." Juli mengecup kening sang istri cukup lama. Ia tak sadar jika ada Maura di dekatnya.
"Ingat ada anak." Seru Mami Niken yang sedang menyiram tanaman di depan rumah.
"Maaf suka lupa." Juli terkejut mendengar suara Mami Niken, dengan cepat ia melepaskan bibirnya dari kening sang istri, Tangannya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Cium-cium, Maura juga mau Dad." Maura berjalan menghampiri Juli.
__ADS_1
Juli mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh putrinya lalu menghujani wajahnya dengan sayang.
"Dad berangkat, baik-baik di rumah. Jangan nakal." Juli mengacak rambut Maura.
Maura hanya mengangguk.
"Berangkat Mi." Pamitanya pada Mami Niken.
"Hati-Hati di jalan."
Juli masuk ke dalam mobil, duduk di jok samping kemudi lalu melambaikan tangan pada Istri dan anaknya.
**
Hari ini Maura libur semester jadi tak perlu memita izin pada wali kelasnya. Ketiganya sudah berada di dalam mobil dia antar supir menuju Rumah Sakit. Sebelum ke Rumah Sakit Agatha mampir ke toko buah untuk membeli buah tangan. Setelahnya Kerata melaju lagi membelah jalanan kota, cuaca panas membuat Agatha merasa uring-uringan di dalam mobil padahal Ac mobil sudah menyala. Ingin rasanya keluar sebentar untuk mendinginkan badan tapi supir mengatakan sebentar lagi akan sampai.
Mobil telah sampai di Rumah sakit yang tak terlalu besar di kota Bandung.
Agatha keluar dari mobil lalu berjalan menuju resepsionis menanyakan ruang bangsal padanya.
Setelah di beritahu ruang bangsal Agtaha berjalan menuju ke sana menggunakan lift agar menghemat tenaganya. Pintu lift terbuka ketiganya lekas masuk lalu menekan tombol ke lantai 6.
"Embak yang sakit?" Tanya Maura.
"Bukan Embak, anaknya Embak yang sakit." Jawab Agatha.
Maura hanya manggut-manggut.
"Maura mau bawa buahnya Oma." Maura meraih buah yang sedang Mami Niken pegang.
"No! Berat sayang. Biar Oma yang bawa." Jawabnya seraya menggeleng samar.
Maura terlihat merengut saat Mami Niken tak mengijinkannya untuk membawa parselan buah.
"Jangan ngambek sayang, Oma kan tidak mau Maura keberatan." Ucapnya menenangkan putrinya. Ia sangat tau jika putrinya sedang merajuk.
"Sudah sampai, ayo." Ajaknya, Tangan Agatha menuntun putrinya.
Ceklek
Betapa terkejutnya saat ia mendapati lelaki yang tak asing sedang duduk di samping brankar seraya menyuapi buah.
__ADS_1