One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 104


__ADS_3

Setelah pemeriksaan kehamilan kemarin Agatha dan Juli pergi ke baby shop untuk membeli keperluan untuk calon anaknya. Sebelum ke baby shop Agatha menjemput Maura terlebih dahulu di sekolahnya. Supir yang mengantar berhenti tepat di depan sekolahnya. Wita sang pengasuh terlihat sedang berdiri di samping Maura.


"Mommy." Maura menghambur ke pelukan Agatha saat melihat Mom Agatha datang menjemputnya, karena biasanya dirinya hanya di jemput oleh supir.


"Apa anak Mom menikmati sekolahnya hari ini?" Tanya Agatha setelah mengecup puncak kepala putrinya.


"Senang Mom, tadi Maura dapat nilai 100." Adunya, kedua matanya berbinar saat memberi tahu bahwa di sekolah ia mendapat nilai bagus.


Agatha kembali mengecup singkat kedua pipi putrinya.


"Good Job Girl." Agatha mengacungkan ibu jari pada putrinya.


Di perjalanan Maura tak hentinya berceloteh menceritakan kegiatannya di sekolah dengan teman-temannya. Sebagai pendengar yang baik Agatha mendengarkannya sembari tertawa saat putrinya menceritakan hal yang lucu.


Mobil yang membawa mereka hampir sampai di tempat tujuan. Baby shop yang lumayan besar di pusat kota. Kereta besi berhenti tepat di halaman toko.


"Ayo turun, kita sudah sampai." Agatha turun dari mobilnya.


"Wita aku bisa membuka pintunya sendiri." Agatha menolak saat Wita akan membuka pintu mobil.


"Tidak papa Mbak."


Maura mengikuti Agatha turun dari mobilnya. Ia berjalan di samping Agatha di tuntun oleh ibunya, sedangkan Wita berjalan di belakang Agatha.


"Jalan di depan Wit, jangan di belakangku." Pinta Agatha, Ia merasa tidak enak jika Wita bersikap layaknya atasan dan bawahan.


"Eh iya Mbak, saya di belakang saja." Tolaknya sungkan.


Agatha menghela nafas berat, Wita memang wanita yang susah di beritahu. Tapi, ya sudahlah terserah dia saja Agatha tak ingin ambil pusing.


Agatha berjalan mengelilingi toko, Maura terlihat senang melihat banyaknya pakaian dan pernak pernik untuk anak.


"Wita menurtmu bagus yang ini atau yang ini?" Tanyanya sembari menunjukan pakaian anak panjang berwana kuning dan biru.


"Menurut saya yang ini." Jawabnya seraya menunjuk pakaian bayi di tangan kiri Agatha.


"Oke saya ambil yang ini." Putusnya, lalu menggantungkan kembali pakaian yang tak jadi ia ambil.


Maura juga begitu antusias ikut memilih sepatu untuk adiknya.


"Dia seperti suami jenny atau hanya mirip ya?" Tanya Agatha dalam hatinya.


Agatha terus saja menoleh menatap dalam lelaki yang sedang memilih pakaian di sampingnya.


"Eh Mbak kalau punya mata itu di jaga. Sadar diri dengan perutmu yang sudah membesar dong." Ucapnya seraya berkacak pinggang.

__ADS_1


"Astaga." Agatha mengurut dadanya mendengar omelan seorang wanita yang terlihat lebih tua darinya. Perutnya juga terlihat menonjol sama sepertinya.


"Menatap suami orang sampai segitunya. Tidak ingatkah suami sendiri." Cibirnya lagi dengan melirik sengit pada Agatha.


"Eh Mbak kalau bicara bisa dengan nada rendah kan? Lagian suami wajah pas-pasan saja di lirik sedikit sudah cemas begitu takut di taksir atasan saya? Mana mungkin atasan saya suka dengan lelaki model suamimu." Ucap Wita dengan emosi menggebu.


"Kau pasti takut di pecat ya kalau tidak membela majikanmu yang murahan?" Ucapnya menaikan sebelah bibirnya mengejek pengasuh putrinya.


Agatha sedikit geram mendengar ocehan wanita di hadapannya. Ingin sekali merobek mulutnya agar ia tak lagi bisa bicara seenaknya. Tuduhannya sangat berlebihan dan tak masuk akal juga mana ada wanita hamil selingkuh. Jika tidak ingat ini di tempat umum sudah ia bibirnya ya suka asal bicara.


"Wita tidak usah di ladenin, kita langsung saja ke kasir aku sudah tidak mood untuk belanja." Agatha berjalan meninggalkannya seraya menenteng belajaannya menuju kasir.


"Sudahlah sayang jangan cemburu begitu, aku juga tak tertarik dengan wanita seperti dia." Ucapnya merayu, Agatha mendengar jelas apa yang ia katakan pada wanitanya.


Memangnya dia pikir Agatha akan tertarik dengan lelaki sepertinya. Suaminya saja lebih tampan darinya.


Witapun mengekori mengikuti ke mana Agatha pergi.


"Bu saya cari Maura sebentar." Pamitnya.


"Iya, saya tunggu di sini."


Wita kembali berjalan menuntun Maura. Sepatu bayi yang Maura pilihkan langsung diberikan pada kasir untuk di hitung jumlah pembayarannya.


"Apa lihat-lihat?" Tanyanya ketus.


Agatha hanya diam saja tak menanggapi perlakuan wanita yang baru saja mengajaknya adu mulut.


"Ingin rasanya menyumpal mulutnya Mbak." Agatha hanya tertawa saat melihat wajah Wita yang sudah hampir memuntahkan mengeluarkan larva amarah.


"Sudah Wit biarkan saja. Bisa kena strok kalau kita terus marah-marah dengannya. Sayang umur Wit." Ucap Agatha begitu menenangkan hatinya. Wita kembali bersikap biasa saja meredamkan amarah yang baru saja ia rasakan.


**


"Kau suka sekali memakai pakaian ini hm?"Juli melingkarkan kedua tangannya di perut istrinya. Dagunya ia jatuhkan di bahu istrinya mengendus menikmati aroma dari tubuh Agatha.


"Nyaman mas." Jawab Agatha apa adanya.


"Dasternya sudah usang, daster yang ku belikan kan banyak kenapa masih pakai yang ini?"


"Aku kan tadi sudah bilang nyaman Mas, ini juga daster saat hamil Maura dulu."


"Masih kau simpan?" Tanyanya hampir tak percaya.


"Sayang kalau di buang kan masih bisa di pakai, ini juga daster di belikan ibu Panti."

__ADS_1


"Baiklah jika kau nyaman memakainya aku tak akan memaksa."


"Jangan marah Mas, aku juga pakai daster yang kau belikan untukku bergantian." Ucap Agatha merasa tak enak hati takut membuat sang suami marah padanya.


"Hanya karena daster Mas marah?" Juli tertawa menanggapi dugaan istrinya.


"Beneran Mas tidak marah padaku?" Tanya Agatha memastikan.


Juli melepaskan pelukannya. Ia membalikan tubuh sang istri menghadapnya. Di tatapnya dalam kedua manik istrinya. Tangannya terulur Membuai pipi Agatha mengikis jarak keduanya.


"Aku menginginkanmu malam ini sayang." Bisiknya di telinga Agatha.


"Mas sudah malam, baru pulang kerja pasti cape." Tolaknya halus.


"Hanya kau yang bisa menghilangkan rasa lelah di tubuhku sayang." Juli mengerling nakal.


"Mas..."


Juli mengikis jarak menyambar bibir sang istri, memagutnya mengabsen setiap inci rongga di dalam mulutnya. Tangannya menangkup kedua pipi Agatha agar memperdalam pagutan mereka. keduanya masih terlena dalam buaian penuh cinta. Memejamkan kedua matanya merasakan setiap sentuhan yang mampu membuat sengatan di tubuhnya.


Pasangan halal ini masih menikmati hingga pagutan keduanya terlepas lalu memasok oksigen sebanyak-banyaknya.


"Manis." Ucapnya seraya mengusap sudut bibirnya akibat perbuatan keduanya.


Juli membopong istrinya lalu merebahkannya pelan ke atas ranjang.


"Mas, aku takut." Ucapnya cemas.


"Kita kan sudah konsultasi pada Dokter. Dan mereka bilang tidak papa dan sangat baik untuk janin." Ucapnya meyakinkan istrinya.


Setelah tahu sang istri hamil Juli sama sekali belum menyentuhnya kembali. Ia takut terjadi sesuatu pada janin istrinya. Setelah konsultasi dengan dokter kandungan barulaj ia meminta haknya lagi.


"Iya Mas, tapi pelan-pelan ya." Pesan Agatha.


"Iya sayang Mas akan melakukannya pelan."


Juli membimbing tangan sang istri menuju ladang pahala bagi keduanya. meneguk manisnya madu yang membuat keduanya semakin candu. Menyusuri setiap lekuk tubuhnya menjelajah hingga meninggalkan banyaknya tanda sayang di tubuh indahnya. Agatha meringis saat area sesitifnya mendapatkan serangan dari sang suami.


Peluh membanjiri wajah keduanya, padahal hawa malam ini terasa sangat dingin menusuk tulang.


Hentakan beritme sedang mereka mainkan. Tak ingin membuat wanitanya tak nyaman. Erangan yang terdengar indah di dengar membuat Juli semakin bersemangat menyelesaikan misinya.


Juli segera mengakhiri aktivitasnya setelah ia mencapai pelepasan. Nafas keduanya masih terngah, Juli tersenyum melihat wajah sang istri.


"Terima kasih sayang, kau luar biasa. Aku mencintaimu." Ucapnya lalu menjatuhnya bibirnya di kening sang istri. Setelahnya ambruk di samping tubuh sang istri. Juli menyelimutu tubuh polos keduanya menyambangi peraduan.

__ADS_1


__ADS_2