
Agatha Duduk di kursi pinggiran kolam berenang memantau kedua putrinya Maura dan Alika yang sedang bermain air. Walau tak satu ibu tapi Alika terlihat begitu akrab dengan Maura. Jika tak sedang hamil mungkin juga Agatha akan ikut terjun ke air bersama mereka. Agatha membidikan kameranya mengambil beberapa gambar dengqn ponselnya ke arah kedua bocah kecil yang sedang sibuk bermain air. Setelahnya memposting ke akun media sosialnya.
"Sudah dulu berenangnya sayang, ayo naik!" Titah Agatha melambaikan tangan pada kedua putrinya yang nampak masih asyik bermain.
"Nanti Mom, aku masih mau berenang." Jawab Maura.
"Iya Al juga Mom." Jawab Alika.
"Biarkan saja Le, baru sebentar kan berenangnya." Timpal Wita yang muncul dari arah dalam sembari membawa nampan berisi jus jeruk. Setelah menikah dengan kak Jo Wita dan putranya ikut tinggal bersama Agatha.
"Sudah sejak tadi kak, bisa masuk angin jika mereka terlalu lama di dalam air."
"Biarkan sebentar lagi Le, mereka terlihat senang."
"Mommy aku mau minum jus." Maura keluar dari dalam air berjalan menghampiri Agatha.
"Kakak Al juga mau." Seru Alika yang masih ada di kolam. Apa yang Maura lakukan selalu Alika ikuti mereka jadi terlihat seperti anak kembari. Sampai pakaian juga mereka harus sama terkadang Agatha merasa kelimpungan jika membeli sesuatu hanya ada satu ia harus mencari baju ataupun sepatu yang sama untuk kedua putrinya.
"Kemari, kalau tidak mau kakak habisakan milikmu." Maura malah menggoda Alika, ia suka sekali membuat adiknya menangis tapi sebenarnya ia sangat menyayangi Alika.
"Iya tunggu sebental."
"Sssssss..." Agatha meringis merasakan sakit di perutnya.
"Kau kenapa Le?" Tanya Wita merasa cemas melihat wajah Agatha yang sedang kesakitan.
"Mules Mbak." Jawabnya seraya mengelus perutnya yang sudah semakin besar.
"Sepertinya bayimu sudah ingin keluar Le."
"HPLnya masih minggu depan mbak tanggal 18."
"Bukannya HPL terkadang suka nggak pas kadang maju kadang mundur, kaya nggak pernah lahiran aja." Cerocosnya di sela-sela kepanikannya.
"Sebentar aku panggil Mami dulu."
Wita masuk ke dalam rumah memanggil Mami Niken. Tak berselang lama Wita kembali lagi dengan Mami Niken yang terlihat berwajah cemas berjalan tergopoh-gopoh mendekati putrinya.
"Sayang bagaimana keadaanmu?"
__ADS_1
"Sudah nggak sakit Mi."
"Apa?"
"Kontraksi palsu, dari semalam suka tiba-tiba mules Mi terus sembuh sendiri."
"Astaga Mami sudah panik eh taunya hanya kontraksi palsu." Ucap Mami Niken sembari menghela nafas.
"Maaf ya." Agatha meringis menunjukan deretan giginya yang putih.
Wita dan Mami Niken yang baru berjalan beberapa langkah hendak masuk ke dalam berhenti lalu menoleh ke belakang saat cucunya berteriak memanggilnya.
"Arrghhhhh....." Agatha kembali meringis saat perutnya merasakan mules.
"Oma! Mommy."
Mami Niken dan Wita dengan langlah terburu-buru.
"Wit, ini kotraksi palsu atau melahirkan sungguhan?"
"Sepertinya sungguhan Mi." Balas Wita.
"Sakit Mi, Argghhhh." Agatha memejamkan kedua matanya merasakan nikmat yang luar biasa di dalam sana.
"Aku panggil supir dulu Mi." Imbuh Wita setelahnya ia berjalan cepat menuju halaman depan tempat biasa pak Rusli duduk bersama security agar cepat menyiapkan mobil untuk membawa Agatha ke Rumah Sakit.
**
Tak butuh waktu lama kereta besi yang membawa mereka sampai di pelataran Rumah sakit Griya Medika tepatnya di depan ruang IGD. beberapa perawat segera berlarian menyambut datangnya pasien pemilik Rumah Sakit.
Brankar yang membawa Agatha melaju cepat menuju ruang IGD.
Terlihat dari wajah Mami Niken dan Wita menampilakan mimik khawatir. Wita merogoh ponsel yang ada di dalam tas untuk menghubungi adik iparnya. Sudah berulang kali ia menelpon dan memberikan pesan padanya namun belum satupun di baca apalagi mendapatkan tanggapan.
Mami Niken terus saja duduk sembari merapalkan doa untuk keselamatan anak dan cucunya ini pertama kalinya ia menemani putrinya melahirkan. Suami dan mantan suaminya masih dalam perjalanan setelah ia mengabarkan perilah Agatha yang akan melahirkan siang ini.
"Keluarga Valerina." Dokter keluar dari ruang IGD lalu menghampiri keluarga pasien.
Mami Niken yang sedang duduk bangkit untuk mendengarkan apa yang akan Dokter sampaikan.
__ADS_1
"Begini Bu, Nyonya Valerina harus mendapatkan penanganan melahirkan secara cesar karena ketubannya sudah pecah, dan Nyonya Valerina ingin melahirkan di temani Ibunya. Silahkan ikuti kami menuju ruang Operasi Nyonya." Ucap wanita berjas putih pada Mami Niken.
"Operasi? apa tidak bisa melahirkan secara normal?"
"Seperti di awal Nyonya Agatha melahirkan secara cesar juga karena pinggulnya yang kecil." Jelasnya. Mami Niken mengangguk paham.
"Oh jadi begitu ya Dok, tunggu sebentar saya panggil menantu saya dulu."
"Wita." Panggilnya pada menantunya yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Iya Mi."
Wita berjalan cepat menghampiri Mami Niken.
"Mami mau menemani Ale lahiran. Kau jaga di depan ruang operasi nanti. Mami sudah menghubungi Ayah dan Papi Sam, kalau mereka sudah datang arahkan untuk ke ruang operasi."
"Iya Mi." Jawab Wita sembari menganggukan kepala.
Mami Niken mengekori Bu Dokter menuju ruang operasi, Dokter sudah siap melakukan tindakan operasi, ini kedua kalinya Agatha melahirkan dan entah mengapa perasaannya masih sama ada rasa takut terselip di hatinya. Ia takut tak bisa selamat atau anaknya yang tak selamat.
Mami Niken terus membisikan kata penyemangat untuk menguatkan dirinya.
"Sayang Tuhan bersamamu, kuatkan dirimu untuk anakmu dan suamimu sayang." Ucap Mami Niken lalu mencium kening Agatha.
"Iya Mi, terima kasih sudah mau menemani Ale." Ucap Agatha, kedua matanya berkaca-kaca melihat kehadiran Maminya di ruang operasi. Sangat berbeda dengan melahirkannya yang pertama ia hanya di temani Ibu panti.
"Sudah seharusnya Mami ada untukmu."
Obat bius lewat jarum suntik sudah menyatu di tubuh Agatha. Mami Niken tak hentinya bersuara di telinga putrinya menyerukan kata-kata penyemangat untuknya.
Bayi berjenis kelamin laki-laki baru saja keluar dari rahim wanita hebat. Terdengar suara tangis dari bibir bayi mungil yang baru saja melihat dunia.
Oeekkk oekkkk
Kedua mata Mami Niken berkaca-kaca melihat cucunya.
Kini sang cucu sedang dalam penanganan perawat. Sedangkan Agatha masih dalam penanganan jahit di perutnya.
"Selamat sayang anakmu sudah lahir, kau wanita dan ibu yang luar biasa." Mami Niken kembali membisikan kata-kata pujian untuk putrinya. Walau putrinya tak menjawab karena obat bius yang membuat kesadarannya hilang. Kembali ia mencium kening putrinya lalu mengucap syukur atas kebahagiaan yang Tuhan limpahkan pada keluarganya.
__ADS_1