
Jonathan menoleh saat pintu terbuka. Menampilkan Mami, Adiknya dan keponakannya masuk ke dalam ruang rawat Galen.
"Mami." Gumamnya Jonathan.
"Kakak sedang apa di sini?" Tanya Agatha penasaran.
"A...aku.." Jawabnya gugup, Belum sempat menjawab Wita masuk ke dalam seraya menenteng kresek di tangannya.
"Loh Nyonya muda dan Nyonya besar datang?" Wita terkejut saat ia masuk ke ruang bangsal melihat kedatangan majikannya ke Rumah Sakit.
"Iya Wit ingin menjenguk anakmu, oh iya ini aku bawakan buah untuk anakmu." Agatha mengatakan tujuan kedatangannya ke Rumah Sakit setelahnya ia menyodorkan parselan buah pada Wita.
"Eh, jadi merepotkann. Terima kasih buahnya." Jawabnya sungkan.
"Bagaimana keadaan putramu?"
"Sudah membaik keadaannya, kemungkinan besok sudah boleh pulang Nyonya." Jelasnya seraya meletakan parsel buah di atas nakas.
"Syukurlah kalau begitu." Mami tersenyum sembari Niken mengucap syukur.
"Sakit apa?" Tanya Mamu Niken lagi.
"Kata dokter typus. Mungkin ia kelelahan sering ikut ekskul di sekolahnya."
"Harus jaga pola makan dan istirahat yang cukup agar lekas sembuh sayang." Saran Agatha memberikan perhatian pada putra Wita.
"Iya saya juga sudah memberikan dia wejangan kemarin sore."
"Ayah aku mau pipis." Cicit Galen dengan suara lemah namun masih bisa Agatha dan Mami Niken dengar.
Jonathan lekas menggendong putranya ke kamar mandi, sedangkan Wita membawa selang infus mengekor ke kamar mandi.
"Ale kau dengar tadi?" Tanya Mami Niken tak mengalihkan pandangannya ke arah Kamar mandi.
"Ya, aku mendengarnya dengan jelas." Jawab Agatha.
"Nanti setelah sampai di rumah kita minta penjelasan padanya Mi." Imbuhnya lagi.
Jonathan dan Wita telah kembali, Jo merebahkan tubuh putranya kembali ke atas brankar. Mami Niken masih terus menatap wajah putra Wita lekat. Ia merasa seperti melihat Jonathan saat ia masih remaja. Jonathan dan Wita merasa salah tingkah merasakan sikap Mami Niken dan Agatha yang terus saja menatap Galen.
"Wit, maaf suamiku tidak bisa ikut menjenguk, ia mendoakan semoga putramu lekas pulih." Ucapnya menyampaikan pesan dari suaminya untuk Wita.
__ADS_1
"Amiin, terima kasih doanya Mbak."
"Maura juga ikut jenguk?" Tanya Jonathan menatap keponakannya yang sedang berdiri di apit Mami dan Adiknya.
"Iya Uncle, di ajak Mommy." Maura mendekati Jonathan lalu duduk di pangkuannya.
"Ini apa?" Tanyanya seraya menunjuk selang infus yang tertancap di tangannya.
"Ini infus sayang, cairan agar kak Galen tidak lemes dan lekas sembuh."
"Oh kalau sakit harus pakai ini ya? Maura nggak mau sakit nggak mau pakai ini." Ujarnya seraya menggelengkan kepala lalu menunjuk selang infus.
"Kalau tidak mau pakai ini harus nurut kalau di kasih tau sama Mom apa yang tidak boleh dan yang boleh jadi tidak sakit oke." Ujarnya lagi memberikan pemahaman pada keponakannya.
"Iya Uncle." Maura mengangguk nurut, Sedangkan Galen terlihat menatap keakraban Jonathan dan Maura sedikit merajuk sepertinya ia sedikit cemburu.
"Ayo Sayang kita harus pamit pulang." Ajak Agatha.
"Wita kami pamit, semoga lekas membaik." Agatha mengulurkan salam pada Wita.
"Amiin, Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menjenguk Galen." Jawab Wita.
"Galen lekas membaik sayang." Agatha mengusap puncak kepala anak Wita.
"Iya, Terima kasih tante." Jawab Galen lirih mungkin karena masih lemas.
"Aku tunggu penjelasanmu di rumah mas." Bisik Agatha di telinga Jonathan. Mimik Wajah Jonathan nampak tegang setelah mendengar ucapan Agatha.
Agatha, Mami Niken dan Maura keluar dari bangsal menuju mobilnya. Mami Niken nampak diam mungkin ia sedang memikirkan Kakaknya. Terdengar jelaa helaan nafas yang ia keluarkan lewat bibirnya.
"Kakak pasti akan menjelaskannya nanti sampai di rumah."
"Mami ingin tau rahasia apa yang mereka sembunyikan dari kita. Apa ini yang membuat kakakmu menolak di jodohkan dengan Nency dulu."
"Entahlah aku juga tak mau menduganya." Agatha mengedikan kedua bahunya.
**
Malam harinya Juli mengajak Agatha pergi tapi tak membawa serta Maura putrinya, ia ingin memberikan kejutan di hari pertambahan usia sang istri. Agatha sepertinya lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Agatha nampak cantik mengenakan dress berwarna maroon dengan rambutnya yang ia sengaja gerai.
Agatha duduk di kursi dengan di temani bintang dan bulan yang nampak bersinar terang di atas sana. Keduanya berada di outdoor, Juli sengaja memilih tempat di pinggiran kolam untuk dinner bersama istrinya malam ini. Lilin yang menyala membuat suasana terasa begitu romantis.
__ADS_1
"Seperti anak muda saja." Agatha mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat.
"Kenapa memangnya? apa tidak boleh? Lagian kita juga kan masih muda sayang." Juli meraih tangan Agatha lalu membawanya dalam gemggaman lalu mengecupnya.
"Masih muda tapi sudah mau punya anak dua." Jawabnya mengingatkan sang suami."
Juli tertawa mendengar jawaban istrinya.
"Kau tampak sangat cantik malam ini." Goda Juli.
"Jadi aku cantik hanya malam ini saja? Berarti dari dulu memang aku tidak cantik ya?" Cibir Agatha pura-pura merajuk.
"Astaga aku salah bicara. Maksudku kau cantik setiap hari sayang hanya saja malam ini aura kecantiakanmu semakin bertambah bukan dua kali lipat lagi tapi lima kali lipat. Kalau tidak cantik mana mungkin aku menyukaimu dari dulu." Juli berusaha membuat sang istri tak merajuk padanya.
"Benarkah?" Agatha tersenyum malu-malu. Kedua pipinya memerah bak kepiting rebus mendengar pujian dari suaminya.
Juli mengangguk membenarkan.
"Happy birthday honney ." Juli bangkit dari duduknya saat pelayan restoran membawakan cake ulang tahun.
"Mas..." Kedua mata Agatha nampak berkaca-kaca terharu mendengar ucapan ulang tahun untuknya. Cake yang di bawa pelayan ia letakan di atas meja.
"Make wish dulu sayang." Titah Juli, Agatha memejamkan kedua matanya lalu meniup lilin di bantu suaminya.
"Mas terima kasih ya, aku bahagia memilikimu." Ungkapnya jujur. Ia bangkit dari duduknya menghambur ke pelukan suaminya karena keliwat bahagia.
"Aku juga bahagia memilikimu, terima kasih sudah mau menjadi bagian dari hidupku." Juli mengusap punggung istrinya lalu mencium puncak kepalanya berulang kali.
Air mata bahagia kembali turun membasahi pipinya. Juli yang melihatnya langsung mengusapnya dengan ibu jarinya
"Kenapa menangis hm?"
"Aku tidak menangis Mas air matanya keluar sendiri." Elak Agatha. Juli mengendorkan pelukannya, menatap manik mata istrinya dalam.
"Keluar sendiri?" Juli terkekeh mendengar jawaban sang istri.
"Kenapa tertawa Mas? Apa ada yang lucu?" Tanya Agatha bersidekap dada. Ia begitu gemas melihat wajah kesal sang istri.
"Tidak ada yang lucu, ayo makan sudah malam kita harus cepat pulang." Juli mengajak istrinya untuk duduk kembali.
Keduanya menikmati makan malam romantis ala anak muda. Bulan dan bintang yang ada di atas langit sana menjadi saksi sepasang suami istri yang sedang berbahagia. Berulang kali Agatha mengucap syukur di dalam hatinya di satukan kembali dengan lelaki yang sangat ia cintai. Hidup bersamanya adalah harapan dalam doa yang selalu ia panjatkan kepada sang Tuhan.
__ADS_1