One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 101


__ADS_3

Agatha masih terbaring lemas di atas ranjang. Juli juga setia membantu dan menemani keseharian sang istri. Ia sampai menyerahkan urusan kantor pada Aksa asitennya sedangkan ia hanya mengecek pekerjaan kantor dari rumahnya.


"Susunya kenapa belum di minum?" Tanya Juli yang baru saja muncul dari balkon, ekor matanya menatap gelas berisikan susu di atas nakas yang masih terisi penuh.


"Perutku enek Mas." Keluhnya.


"Atau mau ganti rasa?" Tawar Juli.


"Tidak usah Mas." Agatha menggeleng menolak penawaran sang suami.


Juli menghela nafas berat melihat keadaan istrinya yang kini sangat susah makan dan minum membuatnya semakin bingung.


Juli menatap wajah istrinya yang sudah satu minggu terlihat pucat.


"Biar Mas pijitin kaki dan tanganmu." Juli duduk di tepian ranjang lalu mulai memijit kaki istrinya.


"Nggak usah Mas, Nanti Mas capek." Tolak Agatha.


"Sudah diam dan Nikmati!" Ucapnya tegas tak ingin di bantah.


Agatha bersyukur kini merasakan dirinya bagaikan seorang ratu yang di layani dengan baik oleh dayangnya. Sungguh kehamilannya yang kedua sangat berbeda. Hamil pertama tak di dampingi suami tapi si jabang bayi tak begitu rewel berbeda dengan kehamilannya yang ke dua ada suami malah rewel.


"Enak banget pijatan suami sendiri, Mending beralih profesi saja jadi tukang pijat Mas." Seloroh Agatha.


"Nanti kau akan cemburu jika aku menyentuh banyak wanita."


"Bicara apa Mas?" Tanya Agatha dengan tatapan tajam.


"Tadi Kau menyuruhku jadi tukang pijat berarti harus siap berbagi dengan yang lain!" Jawabnya keliwat santai.


"Awas saja kalau berani!" Gertak Agatha.


"Berani! Kan sudah di kasih lampu hijau tadi sama istri." Ucapnya dengan angkuhnya.


"Malam ini tidak usah tidur di kamar." Ancam Agatha.


Skakmat!

__ADS_1


"Maaf Sayang, Mas hanya bercanda." Juli menjatuhkan dirinya di sebelah sang istri lalu merusuh menciumi seluruh wajah Agatha. Dengan cepat Agatha mendorong sang suami agar menjauh.


"Mas lepas, geli."


"Maafin Mas dulu baru nanti Mas lepas." Tutur Juli yang masih agresif menciumi wajah sang istri.


"Iya aku Maafin." Juli menghentikan aksinya. Tangannya kembali memijit kaki sang istri hingga ia tertidur karena merasa nyaman dengan sentuhan tangan suaminya.


Tok Tok Tok


"Ale." Panggil Mami Niken seraya mengetuk pintu.


Juli segera bangkit dari duduknya menuju pintu.


"Iya Mi, ada apa?"


"Bagaimana keadaan Ale?" Tanya Mami Niken seraya melongok ke dalam kamar.


"Baru saja tidur Mi, Ale susah sekali minum susu." Curhatnya.


"Coba ganti rasa susunya mungkin Ale tidak suka dengan rasanya." Saran Mami Niken.


"Coba saja dulu ganti rasanya, nanti buatkan lagi lalu berikan padanya."


"Nanti Juli coba Mi." Pustusnya pada akhirnya.


**


Perjalanan ke supermarket tak membutuhkan waktu lama, hanya 15 menit kereta besi yang membawanya sudah sampai. Juli keluar dari mobilnya bersama Maura seraya menuntun tangannya.


Juli mengambil salah satu troly lalu mendorongnya. Berjalan ke rak yang tersusun susu ibu hamil.


"Daddy Maura mau ambil es krim, boleh?" Tanya Maura hati-hati. Ia cukup takut setelah kejadian makan es krim banyak waktu itu membuat dirinya batuk.


"Boleh, tapi jangan banyak-banyak nanti batuk." Balas Dad Juli setelahnya memberikanya peringatan.


"Yeeyyy...." Maura bersorak riang setelah Dad Juli memberikannya izin.

__ADS_1


Maura bergegas mengambil tiga es krim rasa coklat, stowbery dan Vanila.


Saat kakinya melangkah ia tak sengaja menabrak seorang wanita yang sedang berdiri di rak susun mi instan.


"Aduh." Maura terjatuh bersamaan juga dengan es krim yang ada di genggaman tangannya.


"Oh Maaf saya tidak sengaja." Ucapnya seraya membantu Maura berdiri dan memunguti es krim yang berserakan di lantai.


"Aunty Jen." Jenny menatap gadis kecil yang baru saja ia tolong.


"Maura, dengan siapa ke sini sayang?"


"Dengan Dad nty, beli susu bayi untuk Mom."


"Susu bayi?" Gumam jenny mencerna apa yang di katakan Maura.


"Iya susu buat adik Maura." Jawab Maura menjelaskan, rupanya ia mendengar gumaman Jenny.


"Oh Maura akan punya adik?" Tanya Jenny tersenyum mendengar kabar baik sahabatnya.


Jenny merutuki nasibnya yang tak seperti nasib kedua sahabatnya setelah menikah langsung mendapat momongan.


"Jen." Panggil Juli, Jenny menoleh ke belakang di mana suami sahabatnya berjalan seraya mendorong troly menghampiri keduanya.


"Belanja juga?" Tanya Juli melihat troly Jenny yang berisikan belanjaan.


"Iya, kebutuhan rumah sudah habis."


"Kau sendiri?" Tanya Juli lagi.


"Iya, kebetulan suami sedang tugas di luar kota, Agatha tidak ikut?"


"Dia sedang tidak enak badan. Sudah sore aku duluan. Mainlah ke rumah istriku pasti senang jika sahabatnya datang berkunjung." Ucap Juli setelah melirik jam di pergelangan tangannya.


"Iya kapan-kapan aku main ke rumah kalian. Selamat atas kehamilan keduanya." Ucap Jenny sebelum akhirnya keduanya berpisah.


"Terima kasih, semoga kau lekas menyusul." Doa Juli tulus.

__ADS_1


"Dadah Aunty." Maura melambaikan tangannya pada Jenny. Jenny juga sama melambaikan tangannya sembari tersenyum.


Tak bisa di pungkiri ia sangat menginginkan seorang anak dalam kehidupannya namun Tuhan belum mengijinkannya.


__ADS_2