One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 89


__ADS_3

Aksa mengetuk pintu ruangan Juli sebelum ia mendorong dan membukanya.


"Tuan ada Tuan Davit ingin bertemu anda." Lapornya seraya menunduk hormat.


Juli menghentikan jemari tangannya yang sedari tadi menari di atas keyboard, ia mengalihkan pandangannya dari laptopnya ke arah di mana Aksa berdiri.


"Suruh beliau masuk." Titahnya.


Aksa kembali ke luar lalu memanggil orang yang akan bertemu atasanya, "Silahkan masuk Tuan." Ajak Aksa seraya membuka pintu mempersilahkan Tamunya untuk masuk.


Davit masuk dengan wajah dinginnya. Juli bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju sofa dan duduk berseberangan dengan Davit.


"Duduklah Om." Ajak Juli ramah.


"Kau tau betul putriku sangat mencintaimu. Tapi kenapa kau membuatnya jatuh berulang kali?" Tanpa basa basi Davit mencecar Juli saat ia baru saja duduk.


"Perasaan memang tidak bisa di paksakan Om, maaf aku mencintai wanita lain." Balasnya lirih.


"Tapi setidaknya kau pikirkan Alika putri kalian." Davit menatap marah mendengar alasan Juli.


"Om tidak usah khawatir, walau aku dan Desi bukan lagi suami istri tapi aku akan tetap memperhatikan Alika."


"Jadi Alika hanya di cukupkan kebutuhan lahirnya saja, lalu bagaimana dengan batinnya? Dia butuh kasih sayang yang utuh Jul." Davit kembali mengingatkan cucunya yang kini menjadi korban atas keegoisan Juli mantan menantunya.


Juli mendadak diam tanpa kata. Ia menunduk hanya terdengar helaan nafas yang sedang ia lakukan.


"Jangan egois Jul Alika butuh sosok Ayah yang selalu ada untuknya." Ucap Davit membuat Juli semakin diam.


"Maaf Om aku tidak bisa kembali. Jika aku kembali pada Desi dia akan lebih sakit hati." Juli akhirnya buka suara.


"Kau lihat bagaimana dia ingin memiliki kau seutuhnya." Ucap Davit.


"Dia menyingkirkan setiap orang yang jadi penghalang untuk mendapatkanmu kembali." Imbuhnya lagi.


"Aku sudah tau dan aku...."


"Jadi kau tetap masih tak ingin kembali?" Davit memotong perkataan Juli dengan deru nafas yang kembang kempis menahan sesak di dalam dadanya.


"Maaf Om." Juli menggeleng.


"Desi pasti akan menemukan sosok lelaki yang bisa mencintai dia dengan tulus." Juli mendoakan hal baik untuk mantan istrinya.


"Desi juga harus mempertanggung jawabkan semua yang ia lakukan." Imbuhnya lagi.


"Jika kau tak menceraikan putriku mana mingkin Desi berbuat gila. Harusnya kau sadar dan intropeksi diri Desi nelakukan semua itu karena apa." Davit di buat geram dengan perkataan Juli. Mengingat semua yang Desi lakukan karena rasa cintanya pada Juli yang begitu besar. Semua nasihat dan bimbingannya pada putrinya tak sedikitpun Desi lakukan. Ia yang di butakan oleh Cinta rela melakukan apapaun agar keinginannya tercapai.


"Maafkan aku Om." Setelah diam beberapa saat lagi dan lagi ia hanya bisa mengucapkan kata maaf.

__ADS_1


Davit sudah melakukan berbagai cara agar putrinya menjauh dan melupakan Juli namun Desi terus saja berusaha melakukan berbagai cara agar lelaki yang ia cintai kembali padanya. Dan kini ia akan menyatukan Juli kembali dengan putrinya kembali agar Desi tak bertingkah gila lagi.


Tadi saja saat di rumah sakit Desi berniat bunuh diri namun usahanya gagal kepergok oleh Sintia. entah apa jadinya jika Desi sudah menelan air pembersih kamar mandi mungkin saja nyawanya tak bisa di tolong.


Setelah Mantan mertuanya berpamitan Juli menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Ia kembali mengingat ucapan Jason dan Om Davit jika semua masalah yang terjadi berawal dari dirinya.


"Apa aku harus kembali padanya." Gumamnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Rasanya isi kepalanya seperti mau meledak saja. Bukannya ia yang jadi pengantin prianya malah ia menjadi tamu undangan. Juli menatap undangan yang tergeletak di atas meja yang di berikan Jonathan kemarin malam.


**


Di lain sisi Chen hari ini datang berkunjung ke kediaman Agatha. Ia melihat Gani kakak angkat Agatha sedang bermain dengan Maura. Saat Maura di temukan ia Agatha langsung menghubungi memberi kabar baik pada Gani. Chen mendekati keduanya yang sedang bermain sepeda di halaman depan.


"Kapan datang?" Tanya Chen seraya menyalami Gani.


"Sampai tadi pagi." Balasnya tersenyum.


"Hallo sayang." Chen mengajak Maura tos lalu mengacak rambut Maura.


"Uncel mau ketemu Mom?" Tanya Maura yang tau sekali dengan kebiasaan lelaki yang selalu datang ke rumah.


"Iya, tapi mau ketemu Maura juga."


"Iyakah uncle."


"Uncle bawakan es krim." Ucapnya seraya menyodorkan menujukan kantong kresek pada Maura. Cuaca panas memang terasa nikmat memakan es krim.


"Sayang ayo di makan dulu es krimnya nanti keburu meleleh." Ujarnya seraya menuntun gadis kecil ke teras.


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Gani saat Maura sedang duduk di teras seraya memegang es krim di tangannya.


"Ya bisa."


"Kau serius dengan niatanmu menikahi Atha?" Tanya Gani memastikan.


"Aku mencintai Ale dan ingin membahagiakannya." Ucapnya sunguh-sungguh.


Gani lihat ia tak menemukan kebohongan di kedua mata Chen.


"Aku hanya ingin bilang mantapkan lagi hatimu sebelum pernikahan kalian berlangsung. Yang aku rasa Atha belum melupakan mantan kekasihnya. Dan aku tak ingin kau terluka jika nanti Atha tak bisa memberikan hati dan cintanya untukmu." Dengan satu kali tarikan nafas Gani memberikannya nasihat.


Chen terdiam meresapi setiap kata yang Gani katakan. Setelah mendengar nasihat dari Gani Chen menjadi bimbang ingin melanjutkan pernikahannya atau berhenti sebelum pernikahan terjadi.


"Chen kau sudah datang?" Tanya Agatha muncul dengan senyum manisnya.


"Iya baru saja sampai."


"Sayang es krim dari siapa?" Tanya Agatha berjongkok menatap putrinya yang begitu lahap memakan es krim di tangannya.

__ADS_1


"Dali uncle Chen." Maura menujuk Chen dengan jarinya.


"Um baik sekali, sudah bilang terima kasih?" Agatha menatap gemas pada putrinya ya belepotan terkena coklat dari es krim.


"Makasih Uncel es klimnya Lula suka." Ucapnya seraya mengusap pinggira bibirnya dengan tangan tangannya.


"Em enak." Ucapnya seraya menyodorkan es krimnya pada Agatha agar Momnya juga ikut mencicipinya.


"No honney untuk Maura saja Mom tak suka dingin. Gigi Mom suka ngilu." Tolak Agatha bergidig mengingat dinginnya es yang masuk dalam mulutnya.


"Mau berangkat kapan ke Butik Mami? Dari tadi Mami telfon nanyain." Tanya Agatha.


"Kapan saja aku siap. Tunggu Maura selesai makan es krim. kita ajak dia." Balas Chen.


"Maura Mom mau pergi ke Butik Oma sama Uncle Chen, Maura mau ikut ngga?"


"Ngga, Lula mau sama Om Kemal." Maura menggeleng.


"Beneran ngga mau ikut sayang?" Tanya Agatha sekali lagi. Ia ingin memastikan jika Maura benar-benar menolak ajakannya.


"Ngga, Lula mau main sama Om Kemal naik sepeda." Ucapnya lagi.


Agatha masuk ke dalam mengambil tas lalu kembali keluar, "Ayo Chen." Ajak Agatha.


"Mom dan Uncle pergi, jangan rewel nanti ya." Pamit Agatha lalu mencium kening putrinya lalu beralih pamit pada Gani.


"Aku titip Maura Bang."


"Maura Uncle pergi ya." Pamit Chen.


"Iya Hati-hati di jalan." Ucapnya saat Agatha dan Chen masuk ke dalam mobil. Tangan Muara melambai saat mobil mulai melaju.


Kereta besi yang membawa keduanya sudah melaju meninggalkan halaman rumah kediaman Lee. Membelah jalan raya menuju butik milik Mami Niken. Sesekali Agatha melirik ke samping melihat Chen yang hari ini terlihat berbeda tak cerewet seperti biasanya. Entah apa yang sedang ia pikirkan Agatha tidak tau.


Bersambung. . .


Mohon dukungannya dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan


Jangan lupa masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤


Terima kasih kepda para readers yang masih setia mantengin ceritaku hingga detik ini

__ADS_1


__ADS_2