One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 82


__ADS_3

"Siapa Mah?" Tanya Bagaskoro berjalan menghampiri Mayang yang masih berdiri di ambang pintu, ia penasaran pada istrinya mengapa belum mengajak tamunya untuk masuk ke dalam.


"Tuan Juli." Gumamnya lirih terkejut melihat siapa yang datang berkunjung ke kediamannya.


"Tuan Bagas, selamat malam." Sapanya menganggukan kepala.


"Malam, silahkan masuk silahkan duduk Tuan, Nyonya." Juli dan Agatha mengikuti langkah sang tuan rumah untuk masuk dan mengajaknya duduk di sofa.


"Kenapa tidak langsung di suruh masuk malah di biarkan berdiri, tidak sopan." Bisik Bagaskoro pada istrinya.


"Maaf Mamah lupa." Mayang nyengir tanpa dosa.


Mayang pamit ke belakang menemui ARTnya.


"Mbak tolong buatkan Bapak dan dua Tamu Bapak minum, sekalian cemilannya di keluarin."Titahnya.


"Baik Bu." Balasnya seraya mengambil Tiga cangkir dari rak lalu menyeduhkan minuman untuk tamu.


ART membawa Minuman dan cemilan dan meletakannya di atas meja.


"Suatu kehormatan Tuan Juli berkunjung ke gubug kami Tuan." Ucapnya merendah.


"Aku juga tidak menyangka Bagaskoro yang di maksud adalah anda."


"Aku datang ke mari untuk menjemput putri kami." Juli langsung pada intinya.


"Putri anda?" Mayang dan Bagaskoro saling lirik satu sama lain.


"Maura." Juli menyebutkan nama putrinya.


"Maaf Maura siapa?" Tanya Mayang.


"Anak ini." Agatha menujukan ponselnya yang menampilkan foto putrinya.


"Lula." Gumam Mayang lirih namun masih bisa Agatha dan Juli dengar.


"Iya Lula itu Maura, putriku memang cadel, belum bisa menyebutkan huruf R dengan benar." Agatha tersenyum saat mengatakan kekurangan putrinya yang belum bisa bicara huruf R.


"Jadi Tuan dan Nyonya orang tua Lula, eh maksudku Maura?" Ucapnya lagi memastikan.


Juli dan Agatha mengangguk bersama.


"Mommy." Panggil Maura yang muncul dari dalam bersama anak lelaki.


"Sayang." Agatha bangkit dari duduknya berjalan menghampiri Maura. Ia menjatuhkan lututnya ke lantai mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi putrinya.


"Mom kangen." Agatha memberikan kecupan di seluruh wajah putrinya. Rasa haru membuat air matanya jatuh begitu saja.


"Lula juga kangen." Ucapnya lalu mengalungka kedua tangannya ke leher Agatha, ia juga membenamkan wajahnya di dada ibu kandungnya.


"Sayang." Maura mendongak beralih menatap lelaki yang sedang menatap dirinya.

__ADS_1


Juli membawa tubuhnya dalam gendongannya. Ia juga menjatuhkan bibirnya di kening Maura cukup lama. Rasa rindunya sudah terbayarkan setelah bertemu putrinya.


"Apa ini sakit sayang?" Tanya Juli menyentuh kening yang tertutup kain kasa.


"Tidak sakit, tapi masih suka pusing kepala Lula." Adunya dengan suara manja.


"Coba Mom lihat." Agatha mendadak menjadi cemas mendengar ucapan Maura.


"Mungkin karena terkena batu atau benda lain saat hanyut di sungai." Terang Bagaskoro.


"Ya Tuhan."


Juli dan Agatha kembali duduk, Maura juga masih saja menempel pada Juli. Ia memang sangat manja bila sedang bersama Ayah kandungnya.


"Kenalkan ini putraku Gavin, Salim dulu sayang dengan Mom and Dadnya Lula." Titah Bagaskoro.


"Gaga." Gavin memperkenalkan dirinya lalu mencium punggung tangan Agatha dan Juli bergantian.


"Tampannya." Agatha menangkup kedua pipi Gavin lalu mecium keningnya.


"Putrimu juga cantik, Suamiku malah ingin menjadikan putrimu calon mantu." Balasnya tersenyum.


"Bisa di atur." Balas Juli dan Agatha bebarengan.


"Saya seperti tak asing melihat wajah anda Nyonya, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Mayang menatap wajah Agatha lekat.


"Wajah saya pasaran banyak yang mirip Nyonya."


"Di panti Asuhan di kota Semarang." Mayang mencoba mengingat pertama kalinya ia melihat ibu kandungnya Maura.


"Iya saat itu saya dan suami turun dari mobil dan melihat anda sedang menggendong bayi."


"Iya anda benar Nyonya, bayi itu Maura yang kini sudah tumbuh besar." Jelasnya tersenyum kecut mengingat kembali saat dirinya masih mengurus putrinya tanpa Juli di sisinya.


Mereka tampak mengobrol banyak hal hingga tak terasa jam sudah menunjuk di angka 21.30.


"Sepertinya kami harus pamit. Maaf sudah mengganggu waktu kalian." Juli dan Agatha bangkit berdiri.


"Ini sudah malam, bagaimana kalau Tuan dan Nyonya Menginap di sini barang semalam." Pinta Mayang.


"Terima kasih tawarannya Nyonya, Tapi Kami akan menginap di Hotel." Tolak Juli.


"Lula mau pulang ya?" Tanya Gavin yang wajahnya sudah berubah sedih.


"Lula mau bobo sama kak Gavin Mom." Rengeknya seraya menatap Agatha penuh harap.


Agatha mendesah pelan, jika ia menolak nanti putrinya akan merajuk bila ia turuti menginap di sini rasanya tak enak dengan Tuan rumah.


"Iya boleh." bukannya Agatha yang menjawab malah Juli yang memutuskan jawabannya sendiri tanpa berembug dulu dengannya.


"Yeeyyy." Maura bersorak senang kala Juli mengijinkan dirinya tidur bersama Gavin.

__ADS_1


Maura merosot turun ke bawah lalu keduanya berjalan bergandengan tangan menuju kamar Gavin di lantai atas.


"Mari saya tunjukan kamar anda Tuan." Juli mengekor mengikuti sang pemilik rumah ke kamar tamu.


"Maaf jika kamarnya tak seperti kamar yang anda inginkan Tuan, selamat beristirahat." Ucapnya meninggalkan keduanya di dalam kamar.


"Terima kasih." Balas Juli tersenyum.


"Kenapa kau terima tawaran mereka?" Ucap Agatha seraya bersidekap menatap tajam pada lelaki di hadapannya.


"Apa kau tak mendengar rengekan Maura yang belum ingin pulang?" Jawab Juli balik bertanya.


"Aku tidak tuli dan mendengarnya dengan jelas." Agatha sedikit bersungut.


"Jika kau mendengar kenapa bertanya seperti itu?" Juli membuka jaketnya dan menggantungnya di gantungan. Kini Juli hanya memakai kaos yang melekat di tubuhnya.


"Jika kau tidur di ranjang aku tidur di mana?" Tanya Agatha.


"Sebelahku kan kosong." Balasnya seraya menujuk dengan ekor matanya.


"Berbagi ranjang denganmu?" Agatha terperangah mendengar jawaban Juli yang mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun lalu yang membuat Maura hadir ke dunia.


"Tidak mau."


"Kenapa? Apa kau takut aku akan menghamilimu lagi?" Tanya Juli yang seakan tau apa yang ada di pikiran Agatha.


"Bisa jadi kau melakukannya lagi."


"Kenapa tadi tak meminta dua kamar pada mereka?" Tanya Agatha seraya berkacak pinggang.


"Kau sengaja ingin tidur bersamaku kan?" Tuduhnya lagi.


"Kau ingin mereka tau jika kita belum menikah tapi sudah memiliki putri?"


"Kenapa aku baru ingat, bagaimana ini aku harus tidur seranjang lagi dengannya." Batin Agatha merasa gelisah.


Agatha mulai panik saat tubuhnya sudah berada dalam gendongan Juli, "Turunkan aku." Pinta Agatha memukul dada bidang juli agar dia segera menurunkannya. Juli menjatuhkan tubuh Agatha tepat di atas ranjang.


"Jangan berteriak apa kau ingin pemilik rumah datang kemari." Juli menyelimuti Agatha sampai batas leher. Sedangkan dirinya merebahkan tubuhnya di sebelah Agatha. mereka terlelap bersama saling memunggungi dan sengaja membatasi diri dengan bantal guling di tengah-tengah mereka.


Bersambung. . .


Mohon dukungannya dengan Memberikan


Like


Comen


Vote dan


Jangan lupaMasukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤

__ADS_1


Jangan Lupa mampir juga ke Novel ke duaku yang berjudul Senja Di Atas Pelangi



__ADS_2