One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 22


__ADS_3

2 minggu telah berlalu kini juli sedang berada di hotel tempat acara pertunangannya berlangsung. tamu undangan yang menghadiri sudah memenuhi Gedung. yang hadir kebanyakan kerabat, para rekan bisnis dan teman dari keluarga pasangan. tentu saja acara pertunangan anak pengusaha malam ini di liput oleh berbagai stasiun televisi dan wartawan. mereka ikut andil merekam detik-detik momen bahagia orang terkaya di negara ini.


Desi yang memakai kebaya berwarna biru muda dengan tatanan rambut ponytile dengan gaya rambut bergelombang dengan sasak di bagian atas rambut memberikan kesan elegan dan juli yang memakai kemeja berwarna putih dengan tuxedo berwarna senada dengan kebaya yang di pakai oleh desi.


Acara pertukaran cincinpun sudah di mulai semua tamu undangan menatap ke arah kedua pasangan.


prok prok prok


Suara tepuk tangan dari para tamu undangan terdengar ketika mereka selesai memakaikan cincin di jari manis di tangan sebelah kiri milik keduanya.


Wajah juli masih bertahan dengan wajah datarnya sedangkan desi memancarkan bahagia di wajahnya.


"Jul apa senyumu sangat mahal hingga bibirmu tak bisa tersenyum sedari tadi?" bisik ayah sean pada juli.


terdengar suara helaan nafas yang keluar dari mulut dan hidung juli secara bersamaan. ia menarik kedua ujung bibirnya.


Juli menhampiri para sahabatnya yang sudah datang, mereka mengobrol bersama di tengah-tengah tamu undangan yang hadir.


"Bagaimana hasil pencarianmu jul? apa masih belum membuahkan hasil?" tanya ken lirih.


"Belum." Juli menghela nafas dan membuangnya dengan kasar.


"Tapi aku masih tetap mencarinya sampai kapanpun, aku masih berharap bertemu dengannya lagi." imbuh juli.


"Ya semoga saja kalian bisa bertemu lagi." ucap sandy merangkul pundak juli.


"Sayang, aku mencarimu ternyata kau di sini."


"Jul apa kau ingin minum?" tawar desi mengapit tangan juli yang sedang mengobrol dengan para sahabatnya.


"Aku tidak haus." balas juli datar.


"Kau belum mengenalkanku pada mereka." ujar desi seraya menunjuk pada ken, hans, dan sandy dengan dagunya.


"Bukankah kau sudah mengenal mereka, jadi untuk apa aku harus memperkenalkanmu lagi pada mereka." juli berdecak kesal.


Para sahabatnya hanya diam melihat expresi juli menanggapi obrolan juli dan desi, saat ini mereka merasa iba pada juli. harusnya ini adalah hari bahagianya tapi ia sendiri bertunangan dengan orang yang tak ia cintai.


Acara pertunangan telah usai semua tamu undangan telah meninggalkan acara.

__ADS_1


Kini juli sudah ada di apartemennya. ia tak berniat menginap di hotel apa lagi pulang ke rumahnya. ia masih malas bertemu dengan ayahnya si tukang pemaksa.


Juli menatap cincin yang melingkar di jari manisnya mengelusnya dengan lembut. masih tak percaya kini ia sudah menjadi milik orang lain.


"Tha kau di mana? aku merindukanmu." juli menatap langit yang terlihat indah malam ini dengan banyaknya bintang. rembulan juga terlihat membulat sempurna di atas langit. ia selalu berharap keajaiban akan datang menghampiri hidupnya.


**


Pagi ini agatha sudah bersiap untuk berangkat ke toko dengan berjalan kaki menuju jalan raya. setiap pagi ia berangkat naik angkutan umum, kini ia sudah mulai terbiasa dengan kondisi saat ini.


"Berangkat nok?" Sapa bu yayu pada agatha seraya menjemur pakaian di depan rumahnya.


"Iya bu, mari." balas agatha tersenyum.


"Berangkat bareng saja sama anak ibu si Hendri." tawar bu yayu.


"Hen hen." panggil bu yayu pada anaknya.


"Ngga usah bu takut ngrepotin, lagian saya juga sudah biasa naik angkot." tolak agatha melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah bu yayu.


"Ayo naik." ajak mas hendri menghentikan langkah agatha.


"Aku ngga ngrasa di repotin kok." balasnya seraya memberikan helm pada agatha.


Akhirnya agatha menerima tawaran mas hendri di antar sampai depan toko.


"Terima kasih atas tumpangannya." ucap agatha seraya menunduk hormat.


"Sama-sama, pulang jam berapa nanti biar bisa bareng lagi." tawarnya lagi.


"Tidak usah mas, biar saya naik angkot saja nanti." balas agatha. mas hendri tersenyum menatap agatha sebelum meninggalkan agatha yang masih berdiri di depan toko.


Mba upik dan mba gina menatap ke arah agatha saat motor berhenti di depan toko. ya mereka berdua langsung menwawancaraiku dengan banyaknya pertanyaan saat kakiku baru saja melangkah sampai di pintu masuk.


"Siapa tha?" tanya mba gina kepo.


"Ganteng lagi." timpal mba upik.


"Sama mas marko ganteng mana mba upik?" tanya mba gina terkekeh.

__ADS_1


"Eh itu mah jangan di tanya tetep ganteng mas marko." ucap mba upik. mereka tergelak bersama.


Agatha hanya tersenyum mendengar celotehan teman kerjanya. ia lebih memilih untuk pergi ke belakang bersiap untuk bekerja hari ini.


Jam makan siang telah tiba, agatha, mba gina dan mba upik makan bersama di dalam toko lesehan di bawah lantai. mereka menikmati makan siang dengan sebungkus nasi padang yang tadi mba gina beli di warung makan nasi padang di seberang jalan.


"Tadi malem pada liat acara televisi yang nayangin pernikahan anak pengusaha sama anak pengusaha ngga?" tanya mba gina menanyakan berita yang sedang hot news.


"Iya liat di semua chanel kan ada gin, jadi libur nonton sinteronnya tadi malem." Ucap mba upik seraya meraih gelas yang ada di hadapannya.


"Di kontrakan belum ada TV mba jadi aku ngga nonton." balas agatha setelah menelan makanan dalam mulutnya.


"Jadi belum tau beritanya?" tanya mba upik.


"Belum mba, cuma anak orang kaya sama selebriti kalau punya acara pasti heboh satu dunia." ujar agatha melanjutkan makan penutup dengan memakan pisang yang sudah ada di tangannya.


"Iya betul kalau kita mah mana mungkin tunangan sama nikah bisa masuk Tv." mereka tergelak bersama mendengar ucapan mba gina.


"Oh iya biasanya di Instagram juga ada, sebentar aku kasih liat kamu tha." mba upik mengotak atik ponselnya lalu menunjukan foto juli dan desi yang sedang menujukan cincin pada awak media.


mata agatha membulat sempurna melihat mantan kekasihnya bertunangan dengan wanita lain. minuman yang baru masuk dalam mulutnya menyembur keluar.


"Maaf." ucap agatha mengelap lantai yang tadi terkena air semburnya. untung saja mba gina sudah berdiri jadi agatha tak menyemburkan air padanya.


"Apa kau terkejut melihat si tampan sudah bertunangan?" tanya mba upik tertawa kecil sambil berlalu meninggalkan agatha dan kembali bekerja.


"Eh bukan begitu mba." balas agatha yang tak mungkin di dengar mba upik karena sudah kembali ke tempat kerjanya.


"Baiklah aku harus belajar ikhlas sekarang." gumamnya dalam hati, agatha berkali-kali menggeleng kepalanya membuang rasa bersalahnya sudah meninggalkan juli hingga ia bertunangan dengan wanita lain.


"Mungkin takdirku memang seperti ini jadi untuk apa harus disesali." batinnya ia masih memberikan pengertian pada hatinya supaya tak menyalahkam dirinya terus menerus.


Bersambung. . .


Biasakan setelah membaca meninggalkan jejak dengan memberikan


Like


Comen

__ADS_1


Vote


__ADS_2