One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 88


__ADS_3

"Permisi Tuan ada Polisi mencari Non Desi." Lapor ART pada Majikannya saat mereka sedang makan siang.


Uhuk


Uhuk


Desi tersedak makanan yang sedang ia makan, ia lekas menyambar air putih yang ada di hadapannya lalu meneguknya hingga separuh.


"Sayang pelan-pelan." Ucap Mamah Sintia mengelus punggung Desi.


Papah Davit menoleh pada putrinya menatapnya aneh. lalu menatap kembali ARTnya dan menanyakannya kembali barangkali ia salah dengar.


"Mencari Desi Bi?" Tanya Papah Davit.


"Iya Tuan." Jawab ART mantap.


Papah Davit lekas bangkit dari duduknya berjalan ke depan. Mamah Sintia juga mengekori suaminya seraya menuntun tangan mungil cucunya. Sedangkan Wajah Desi sudah memucat. keringat dingin juga sudah membasahi seluruh tubuhnya.


"Polisi mencariku." Gumamnya lirih. Perasaannya sudah mulai gelisah.


"Desi Kenapa masih di situ?" Mama Sintia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang menatap putrinya yang masih belum beranjak dari kursinya.


"I...iya Mah." Desi bangkit berdiri berjalan menyusul Mamahnya.


"Apa Bapak tidak salah?" Tanya Papah Davit setelah ia membaca secarik kertas berisikan perintah penangkapan putrinya.


"Kami hanya mengikuti perintah pelapor. Silahkan nanti Nona Desi bisa menjelaskannya di kantor." Ucap Polisi ber tag name Suswanto.


"Tunggu pak jangan tangkap saya, saya tidak bersalah." Desi memberontak saat tangannya di borgol petugas polisi.


"Nanti Nona bisa jelaskan di kantor." Ucapnya seraya menggiring Desi ke mobil.


"Pak jangan bawa anak saya. Kita selesaikan masalah ini secara kekeluargaan." Cegah Mama Sintia menahan kedua polisi yang akan membawa Putrinya.


"Bisa nati jelaskan semuanya di kantor Nyonya."


Papah Davit tampak diam melihat kedua polisi yang membawa putrinya. Bibirnya meamang dian namun terlihat di wajahnya garis kekecewaan yang teramat dalam.


"Pah kenapa diam saja? Lihat pah anak kita di bawa polisi dan kau sama sekali tak menahannya?" Suara Mamah Sintia meninggi, ia menujuk mobil yang terparkir di depan rumahnya seraya geleng-geleng kepala.


"Jika Desi tidak bersalah pasti nanti akan bebas." Balas Papah Davit mencoba tenang.

__ADS_1


"Hey jangan lari." Desi mendorong pak polisi lalu melarikan diri saat dirinya hendak di masukan ke dalam mobil. Sedangkan kedua polisi mengejar Desi yang tak hentinya berlari.


"Berhenti!" Titahnya seraya mengacungkan pistol ke udara agar Desi berhenti.


Dor


Desi bukannya berhenti ia malah berlari cepat menjauhi kedua polisi. Dengan cepat pistol yang mengarah pada Desipun mengeluarkan sebutir peluru ke kakinya.


Dor


Akhirnya tubuhnya ambruk seketika.


"Pah Mah Maafin Desi. Bantu aku pah, aku tidak bersalah." Desi merasakan sakit di kakinya.


Papah Davit mengejar Desi yang sudah tergeletak dengan darah segar yang keluar dari kakinya. Hatinya sungguh sakit melihat putrinya seperti ini namun ia sebagai seorang ayah wajib memberikan arahan dan hukuman pada putrinya saat ia melakukan kesalahan.


"Ndan kita bawa ke Rumah Sakit lebih dulu." Ucapnya seraya menggendong Desi menuju mobil.


"Saya ikut pak." Davit berjalan cepat menuju mobilnya beserta istri dan cucunya menuju Rumah Sakit. Ibu mana yang tak merasa cemas melihat keadaan putrinya seperti ini.


"Oma Mom napa?" Tanya Alika bingung.


"Mom sakit, Kita antar Mom ke Rumah Sakit ya." Balas Mamah Sintia pada putrinya.


"Kakak sudah melaporkannya ke polisi?" Tanya Juli.


"Sudah, mereka bilang akan bergerak cepat." Balasnya setelah menyesap kopi hitam yang tersaji di atas meja. Ya mereka kini sedang di apartemen Jason. Sebelum pergi ke kantor Juli menyempatkan mampir ke apartemen Jason untuk menemuinya sekedar mengobrol sebentar.


"Memangnya buktinya sudah cukup kuat?" Tanya Jason mendudukan bokongnya di sofa ikut bergabung.


"Sudah, dia yang bekerja keras kemarin malam." Balas Jonathan seraya menunjuk Juli dengan dagunya.


"Bukannya semua masalah memang berawal dari dia! Jadi dia yang harus menyelesaikannya." Ucap Jason ketus.


"Maksud kakak apa bicara seperti itu?" Tanya Juli menaikan suaranya, perkataan Jason serasa tak enak di dengar di telinganya.


"Heh apa kau tidak sadar Desi itu cinta mati padamu dan kau mencintai wanita lain. Berarti semua masalah ini berawal darimu. Begitu saja tidak tau." Jason menuding Juli dan menatap tajam pada lelaki di hadapannya.


"Cinta tak bisa di paksakan kak."


"Dan kau mencintai jodoh pria lain dasar bod*h." Jason mengumpat Ia begitu jengah melihat sikap sok polos Juli di hadapannya.

__ADS_1


"Diam! kalian kenapa setiap bertemu bertengkar terus Berisik." Jonathan segera melerai perdebatan diantara keduanya.


"Apa?" Jason menatap sengit kakak sambungnya.


"Apa?" Juli membalas tatapan jason hingga keduanya saling pandang.


"Jul diam atau pergi dari sini!" Usir Jonathan yang merasa lelah menghadapi kedua lelaki yang sudah dewasa namun kelakuannya bak anak TK.


Juli terdiam lalu membuang muka ke samping.


"Begini kan enak di telinga dan pikiranku serasa adem." Jonathan menyandarkan kepalanya seraya menatap bergantian pada Juli dam Jason.


Juli bangkit berdiri hendak pergi meninggalkan apartemen namun ia di kejutkan dengan kemunculan Agatha yang berdiri menatap dirinya.


"Sayang." Juli mengurut dadanya karena terkejut.


"Siapa yang di penjara?" Tanya Agatha.


Rupanya Agatha mendengar semua percakapan ketiganya.


"Orang yang sudah menculik Maura sudah di temukan." Balas Juli.


"Siapa?" Tanya Agatha penasaran.


"Desi mantan istrinya Juli." Balas Jonathan yang muncul dari dalam. Ia langsung keluar saat mendengar suara adik perempuannya datang.


"Apa?" Agatha terkejut ia hampir tidak percaya mendengar siapa pelaku penculik yang sudah mencelakai putrinya.


Jason menuntun Agatha dan membawanya duduk sofa. Ia tau pasti adiknya merasa syok mendengar pelakunya, "Ayo duduk dulu Le." Ajak Jason.


Agatha menurut ia berjalan mengikuti kakaknya.


Bersambung. . .


Mohon dukungannya dengan memberikan


Like


Comen


Vote dan

__ADS_1


Jangan lupa Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤


__ADS_2