One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 43


__ADS_3

Sudah dua minggu ini yerika mendiami agatha dan entah mengapa rasanya menjadi aneh walau mereka baru mengenal tapi terasa begitu mengganggu pikirannya. seperti hari ini yerika tak ikut menimpali setiap obrolan kecil saat makan siang berlangsung tak seperti awal mereka baru kenal sering terlibat obrolan kecil bersama. agatha semakin ingin tahu apa penyebabnya namun tak enak hati jika bertanya langsung pada orangnya.


"Tha ngelamun aja, mikirin apa si?" tanya agnes saat mendapati agatha yang terlihat sedang melamun di sela-sela mereka bekerja.


"Ngga ada yang di pikirin kok." kilah agatha.


"Mikirin liburnya kapan atau lagi mikirin gajiannya kapan nih ceritanya?" balas agnes mencoba menebak.


"Hehe engga kok, masa anak baru mikirin begituan."


"Ya kirain."


"Mbak nanti pulang bareng ya, ada yang mau aku tanyakan." ajak agatha karena tak mau terus-terusan di hantui rasa penasaran akan diamnya yerika padanya mungkin saja ia tau jawabannya.


"Iya."


Mereka kembali diam tak ingin banyak bicara lagi takut nanti kena amuk atasannya kebanyakan mengobrol. cara ampuh untuk menghilangkan rasa kantuk dan kejenuhan hanyalah mengobrol walau hanya sebentar.


Agatha dan agnes berjalan beriringan menuju ke parkiran. ramainya karyawan yang hendak pulang membuat agatha sungkan untuk bertanya di tempat parkir.


"Katanya ada yang mau di tanyakan? mau tanya apa?" tanya agnes membuyarkan lamunan agatha.


"Ah iya mbak kita cari makan dulu kali ya enaknya nanti kita ngobrol di sana."


"Boleh tuh, kebetulan aku juga lagi laper ini." balas agnes seraya mengelus perutnya.


Mereka berdua segera melajukan sepeda motor masing-masing ke warung mi ayam dekat pabrik untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan sedari tadi. agnes langsung menghampiri si ibu penjual untuk memesan 2 porsi mi ayam dan 2 gelas es teh, sedangkan agatha mencari tempat untuk mereka duduk.


"Nes." panggil agatha saat agnes barusaja menjatuhkan bokongnya di kursi.


"Iya, kenapa?" tanya agnes masih fokus menatap pada ponsel di tangannya.

__ADS_1


"Yerika kenapa ya kok kaya beda sikapnya ke aku jadi dingin." ucap agatha langsung pada intinya.


Agnes menghentikan sejenak dari aktivitasnya lalu mendongakan kepala menatap agatha. "cemburu mungkin."


Agatha di buat bingung dengan jawaban yang agnes lontarkan. ia mengulang beberapa kali kata cemburu dalam hatinya. tak mau banyak berpikir ia kembali bertanya.


"Cemburu maksudnya?" ucap agatha dengan memasang wajah bingung.


"Mas gani tiap hari ngapel ke tempat kerja kamu ya jelas yerika cemburu, dia kan sejak awal masuk suka sama mas gani." ucapnya panjang lebar menjelaskan.


"Gani siapa nes? kalo ngomong yang jelas dong aku kan jadi muter-muter mikirnya." balas agatha masih tak mengerti dengan ucapan agnes.


"Itu yang tadi mbenerin mesin kamu." agatha menghela nafas lalu membuangnya dengan kasar.


"Ooh bang kemal eh maksudku bang gani." agatha mengangguk paham.


"Astaga jadi yerika kira aku ada hati sama bang gani." agatha menepuk keningnya sendiri.


"Padahal aku udah menganggap dia seperti kakak aku sendiri dan ngga lebih." ujar agatha meyayangkan pikiran negatif ya sedang menyelimuti hati yerika saat ini.


"Ya mana dia tau kalau kamu cuma nganggep mas gani kakak, beda sama apa yang yerika pikirin." ucapan agnes memang benar adanya. setiap orang memang memiliki jalan pikiran masing-masing.


Agatha kini sudah mengerti diamnya teman kerjanya padanya. dan ia sendiri akan bersikap layaknya kakak dan adik agar yerika tak menilai buruk tentang dirinya.


Kini agatha sudah sampai di rumah. saat dirinya pulang maura barusaja selesai makan. ia terlihat senang saat melihat sepeda motor agatha berhenti tepat di pekarangan.


"Mom." maura berlari kecil tertawa senang menghampiri agatha saat agatha turun dari sepeda motornya.


"Sayang." ucap agatha saat maura memeluk erat kaki jenjang milik agatha.


Hati agatha menghangat mendapati gadis kecilnya menyambutnya pulang kerja, seketika rasa lelahnya tergantikan dan terbayarkan dengan melihat putrinya.

__ADS_1


Agatha segera mengangkat tubuh maura ke dalam gendongannya lalu menciumi seluruh wajah maura.


"Pelginya lama." rajuk maura seraya menyenderkan kepalanya di bahu agatha.


"Mommy kerja sayang. cari uang untuk maura biaya maura sekolah nantinya, beli jajan sama beli mainan maura." jelas agatha pada putrinya memberikan pengertian padanya agar maura mau mengeri.


agatha tersenyum mendengarkan celotehan dari putrinya. tak terasa semakin bertambah usianya semakin aktif dan pintar saja maura. sayang sekali ia sendiri tak bisa setiap saat melihat tumbuh kembang putrinya.


Seperti biasa maura menonton film kartun kesukaannya donald duck sambil tiduran di paha mommynya. agatha mengelus lembut rambut milik maura.


"Coba di hitung ada berapa bebeknya." tanya agatha saat mendengar suara tawa dari bibir mungil putrinya.


"Atu, ua, ida, pat. pat mom." jawabnya seraya menunjuk ponselnya dengan jari telunjuknya menghitung satu persatu bebek yang di lihatnya.


"Okay good job honey." ucap agatha seraya mencium kening maura.


Dulu tiap hari sebelum agatha berkerja di pabrik memang ia selalu mengenalkan banyak hal mulai dari nama hewan, nama kendaraan, dan banyak hal lainnya.


Agatha mengingat kembali percakapannya dengan agnes ia kini sudah merasa lega hatinya sudah tau alasan apa yang membuat diamnya yerika. ia harus secepatnya berbicara dari hati ke hati dengannya agar tak ada salah paham lagi di antara mereka.


Bersambung. . .


Jangan lupa setelah membaca biasakan meninggalkan jejak dengan memberikan


Like


Comen


Vot


Aku ucapkan terimakasih pada readers yang sudah mampir dan setia membaca ceritaku. sekali lagi jika ceritanya nggak nyambung mohon maaf yang sebesar-besarnya.

__ADS_1


__ADS_2