
"maaf siapa yang anda maksud?" tanya agatha mengerutkan keningnya menatap wajah perempuan itu lebih intens menoleh kesana kemari berpikir mungkin si perempuan itu bukan sedang berbicara dengannya.
"kau masih tidak ingat denganku?" tanya si perempuan itu menaikan sedikit bibirnya.
"baiklah akan aku ingatkan siapa aku. aku nadia mantan kekasih juli, laki-laki yang dulu kau rebut dariku." jelas nadia sambil mengitari tubuh agatha dan berhenti di depan wajah agatha.
agatha diam mendengar penuturan dari nadia. ia sebenarnya sangat malas meladeni perempuan sepertinya. namun jika dibiarkan juga sangat tidak baik bisa nglunjak dianya.
"dan kita pernah bertemu sebelumnya di mall aku menangkap basah kalian di saat kau sedang bermesraan dengan kekasihku. bagaimana apa kau sudah ingat sekarang?"
terlihat orang yang di sekelilingnya berkasak kusuk membicarakan dan menatap pada kedua perempuan yang sedang beradu mulut.
"jaga ucapan mba, juli sendiri yang bilang kalau dia masih single jadi bukan salahku merebut kekasihmu, seharusnya mba intropeksi diri kenapa juli sampai meninggalkan mba." agatha menuding dada nadia dengan jari telunjuknya.
"bukan malah mba nyalahin orang lain karena kesalahan mba sendiri." agatha tersenyum sinis.
"hahahaha kau yang menggoda tapi kau tak mengakuinya. ya mana ada maling ngaku maling yang ada penjara penuh." nadia menekankan setiap perkataannya.
"dasar murahan." cibir nadia.
"kau yang murahan." timpal agatha, nadia menjambak rambut agatha.
"ngga trima diputusin? masih ngarep?" agatha tersenyum remeh.
"kalau masih suka silahkan ambil." agatha melepaskan jambakan nadia yang cukup kuat.
"nadia lepaskan." suara bariton terdengar dari jarak yang tak terlau dekat dan tak terlalu jauh. buru-buru nadia melepaskan tangannya dari rambut agatha. ia merasa khawatir jika juli akan lebih menjauhinya karena sikapnya pada kekasihnya.
"dia yang mulai dulu jul, dia yang memancingku." nadia berdusta.
"jangan pernah menyentuh apapun yang sudah menjadi miliku. mengerti!" juli memberikan tatapan elang pada nadia seolah sedang mengintai mangsanya.
nadia menatap benci pada agatha. tangannya mengepal perasaannya bergemuruh. "juli lihat saja suatu saat kau pasti akan jadi milikku lagi dan kau bocah ingusan kau akan tau siapa aku sesungguhnya." ucap nadia dalam hati.
"ayo pulang." juli menarik pergelangan tangan agatha masuk ke dalam mobilnya. ya sebenarnya setelah ia mengantarkan diana adiknya ken ke rumah sakit ia berniat untuk makan bakso di depan kampusnya. namun tak disangka ia malah melihat pertengkaran mantan kekasihnya dengan agatha. mendadak selera makannya menjadi hilang saat ini.
__ADS_1
"kenapa tak mengajakku jika kau makan di sini?" tanya juli melajukan mobilnya meninggalkan warung bakso.
agatha enggan untuk menjawab ia hanya diam menoleh ke deretan pertokoan dan pepohonan yang berjejer. juli tak berhenti untuk bicara ia terus mengajak agatha bicara walau ia sendiri tak mendengar jawaban dari agatha.
"jangan dipikirkan semua yang di katakan nadia padamu." juli menggengam tangan agatha namun agatha menepisnya.
"kau lihat jul. mba nadia sepertinya masih mengharapkanmu, kembalilah padanya." ucap agatha lirih yang masih bisa juli dengar.
"sayang apa yang kau katakan? tak seharusnya kau menyerahkan kekasihmu ini pada wanita lain." jawab juli dengan nada kesal. tangan juli bergerak kembali menggengam tangan agatha lagi.
"jangan lagi menyuruhku untuk berpaling darimu. karena itu tak akan pernah aku lakukan." agatha menghela nafas berulang kali menetralkan beban pikirannya.
tak butuh waktu lama sekitar setengah jam juli dan agatha sudah sampai di halaman rumah milik orang tuanya. agatha keluar lebih dulu dari mobil, masuk ke dalam rumah di ikuti juli mengekor di belakangnya.
"mbok rop apa ayah sudah pulang?" tanya juli membuat mbok rop berhenti dari aktivitasnya di dapur.
"tadi tuan pulang hanya sebentar lalu berangkat lagi katanya mau mengurus proyek yang ada di makasar den." jawab mbok rop menjelaskan.
juli menghela nafas dan membuangnya dengan kasar. ayahnya tak pernah berubah sejak dulu selalu saja sibuk dengan pekerjaannya tak pernah meluangkan waktu untuknya saat masih kecil hingga ia dewasa.
"buatkan kopi saja mbok." juli berlalu pergi ke kamarnya yang berada di lantai 2.
"siap den." jawab mbok rop mengambil cangkir untuk membuat kopi.
di lantai atas
"astaga bahkan aku belum tau kamarku di mana. mau nanya tapi males." ia melipat tangannya di dada dan melihat lihat banyaknya kamar yang berderet.
agatha membuka salah satu pintu kamar dan masuk ke dalamnya ia merebahkan tubuhnya yang lelah. ia melihat lihat sekeliling kamar yang ia masuki. karena kaos yang ia kenakan sedikit basah karena keringat, agatha melepaskan jaket dan kaosnya lalu menanggalkannya pada gantungan baju di tembok.
juli membuka knop pintu dan menutupnya kembali. ia terperanjat melihat agatha hanya mengenakan tangtop tipis yang membalut tubuhnya. agatha juga sama terkejutnya ia langsung menyambar jaket dan memakainya lalu berjalan melewati juli. namun tangan juli lebih dulu meraih pergelangan tangan agatha dan menariknya hingga ia jatuh ke dalam pelukan juli.
"kau mau ke mana hm?" tanya juli melingkarkan tangannya di pinggang agatha.
"a. .aku aku sepertinya salah kamar." jawab agatha gugup, jantungnya sudah berpacu lebih cepat dari biasanya dan wajahnya kini juga tampak pucat.
__ADS_1
"kau harus bertanggung jawab." wajah mereka begitu dekat dan mata mereka juga saling memandang.
"tanggung jawab? memangnya aku habis melakukan apa?" tanya agatha dengan perasaan bingung.
"apa kau tidak ingat? kau baru saja menggodaku."
"a. .apa? siapa yang menggodamu?"
"kau masuk ke kamarku melepas kaos dan jaketmu dan lagi kau hanya memakai tangtop. apa namanya kalau tidak sedang menggodaku?"
"kau pikir aku wanita macam apa bertingkah rendahan seperti itu? aku tidak serendah yang kau pikirkan." agatha sangat geram mendengar tuduhan juli. ingin sekali ia menyumpal mulutnya dengan kain supaya dia tak asal bicara.
"sekarang lepaskan aku." agatha meronta mencoba melepaskan diri.
"cium di sini, di sini dan di sini. baru akan aku lepaskan." juli menunjuk bagian kening, pipi dan bibirnya dengan jari telunjuknya.
agatha hanya membulatkan matanya mendengar persyaratan gilanya.
"tidak mau." tolak agatha membuang muka.
"kau yang cium atau aku yang akan menciumu?" tawar juli memberikan dua pilihan. agatha mendengus kesal mendengar permintaan yang super duper gila.
cup cup cup
dengan sangat terpaksa ia menuruti permintaan juli. jika tak dituruti ia takut juli akan berbuat lebih nekat lagi. tanpa aba-aba agatha mencium kening, pipi dan terakhir di bibir. juli malah semakin ngelunjak ketika bibir mereka bersentuhan juli memagut bibir agatha cukup lama, juli menekan tengkuk leher agatha agar lebih memperdalam pagutan mereka.
tok tok tok tok
bersambung. . .
jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan
Like
Comment
__ADS_1
Vote