
Suara tangis bayi mungil yang terdengar dari luar ruang operasi membuat kedua wanita yang belum terlihat tua berdiri dan saling berpelukan.
"oek oek oek."
Mereka meneteskan air mata terharu ikut merasakan perjuangan agatha melahirkan sang malaikat kecil. setelah selesai melahirkan tak lama kemudian pintu ruang operasi seketika terbuka. suster yang menggendong bayi mungil keluar menghampiri kedua wanita yang masih berpelukan erat.
"Nyonya bayinya sudah lahir, wajahnya cantik." ucap suster bertag name Dini. ia memperlihatkan wajah ayu milik putri agatha. mereka segera melepaskan pelukan menoleh pada bayi mungil yang berada di gendongan perawat, tangan bu yosi terulur mengelus pipi gembul bayi mungil yang begitu menggemaskan.
"Iya cantik sama seperti ibunya." ucap bu calista. bu yosi mengangguk membenarkan ucapan bu calista.
Brankar yang membawa tubuh agatha melaju keluar dari ruang operasi. kedua matanya masih terpejam akibat obat bius yang di berikan dokter.
Kini agatha sudah ada di bangsal ruang rawat inap. yang di rawat di kamar yang sama dengan agatha sekitar 4 orang ibu melahirkan. sedangkan putri agatha juga sudah di pindah ke ruangan bayi. bu yosi sudah pulang ke rumah panti mempersiapkan pakaian kebutuhan agatha dan bayinya untuk di bawa ke rumah sakit. sedangkan bu calista masih setia menunggu agatha siuman.
Jari jemari agatha mulai bergerak terlihat kedua kelopak mata agatha terbuka perlahan. ia mulai merasakan sedikit nyeri di perutnya pasca operasi siang tadi. obat bius yang tadi di berikan dokter sudah mulai menghilang.
"Bu di mana anakku?" tanya agatha dengan suara serak khas bangun tidur.
"Ada di ruang bayi. nanti minta suster membawanya kemari." jawab bu calista.
"Bayimu sangat cantik." ucap bu calista tersenyum. mengingat saat tadi perawat memperlihatkan wajah ayu milik putri agatha.
Perasaan agatha mendadak sedih bulir air mata lolos begitu saja, ia segera mengusapnya dengan ibu jarinya. entah seperti apa hatinya kini meratapi nasibnya yang mengandung dan melahirkan tanpa di dampingi suami dan keluarga.
"Aku ingin melihatnya bu."
Bu calista mengangguk lalu pergi meninggalkan agatha melangkah keluar menyambangi ruang bayi. dalam gendongan perawat bayi mungil berjenis kelamin perempuan masuk ke dalam ruang rawat.
"Selamat nyonya bayinya berjenis kelamin perempuan dan cantik." ucap perawat seraya memindahkan bayi mungil agatha dari gendongannya.
"Mohon berikan asi pertama untuk si buah hati, asi sangat baik untuk bayi nyonya." ucap perawat memberikan wejangan. agatha hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
__ADS_1
"Saya permisi." ucap perawat undur diri meninggalkan bangsal.
"Terima kasih sus." balas bu calista.
Pandangan mata agatha masih tertuju pada malaikat kecilnya. bibirnya tak berhenti mengulum senyum. wajahnya mirip sekali dengan juli rasa sesak menghimpit di dadanya. melihat wajah anaknya mengingatkan dirinya pada sosok laki-laki yang sudah merenggut mahkotanya dan meninggalkan benih dalam rahimnya.
Rambut hitam pekat, hidung mancung, pipi gembul terlihat begitu menggemaskan. ada sedikit penyesalan atas sikap buruknya dulu yang hampir saja bunuh diri dan membunuh anaknya. hadirnya putri kecilnya ke dunia kini membuat semangat baru untuknya.
"Wellcome to world my honey." ucap agatha mengecup kening putrinya lembut.
"Kau sudah menyiapkan nama untuknya?" tanya bu calista yang masih setia duduk di samping agatha.
"Maura Natalia Hansen." balas agatha kedua mata agatha tak berpaling sedikitpun dari putri kecilnya.
"Nama yang bagus, Hansen apa itu..."
"Aku menyematkan namanya di belakang." sergah agatha cepat memotong pertanyaan bu calista. agatha seakan tahu jika bu calista pasti akan menanyakan kepanjangan nama anaknya.
Bu calista hanya tersenyum mendengar jawaban agatha. maura terbangun dari tidurnya bibir mungilnya mengecap ngecap sepertinya ia kehausan mencari air minum. agatha masih bingung bagaimana harus menyikapi. ia sendiri baru saja menjadi ibu 4 jam yang lalu. bu calista tersenyum melihat agatha yang sedang kebingungan ia membantu memberikam asi untuk maura.
Setelah desi tahu dirinya hamil ia semakin manja pada suaminya membuat juli semakin kewalahan menghadapi istrinya. ke manapun juli pergi istrinya selalu ngintilin, padahal ia sudah mewanti-wanti pada desi agar selalu berdiam diri di rumah tapi ia ingin selalu menempel pada suaminya.
"Sayang aku lapar." ucapnya saat juli sedang sibuk mengkoreksi beberapa laporan.
"Mau makan apa biar aku suruh aksa pesankan." ucap juli datar.
juli tak sedikitpun menoleh ia masih menunduk berkutat ke sekumpulan berkas yang berada di hadapannya.
"Aku mau makan berdua denganmu di restoran." balas desi dengan nada manja.
Juli menhentikan aktivitasnya ia benar-benar merasa jengah dan muak, jika bukan karena ayahnya menyuruh juli siap siaga juli tak pernah sudi bersikap baik pada desi. dan lagi anak yang di kandungnya adalah anaknya ia harus menjadi ayah yang baik untuk anaknya walaupun ia tak sedikitpun mencintai desi.
__ADS_1
Juli mendesah menanggapi sikap desi yang membuatnya pusing.
"Ck, baiklah tunggu sebentar lagi." putusnya pada akhirnya. ia sendiri tak ingin mendengar amukan murka dari ayahnya jika ia menolak permintaan desi.
Makanan sudah tertata rapi di atas meja. berbagai menu yang tersaji mulai dari chiken steak saus, spageti carbonara, baked salmon, nutello choclate dan jus mangga. desi segera menyantap makanan yang ada di meja.
Ponsel yang sedari tadi anteng kini berbunyi, telihat di layar nama pemanggil maxim. bukannya ia mengangkatnya ia malah mematikannya.
Juli bergegas pergi meninggalkan meja sedangkan desi merasakan kecurigaan pada suaminya.
Juli segera menelpo bali maxim saat dirinya sudah sampai di depan toilet.
Juli :["Katakan?"]
Maxim :["Ada seorang wanita hamil besar di temukan meninggal dunia kecelakaaan namun saya tidak bisa mengenali wajahnya yang rusak tuan. saya menduga itu nona agatha tuan."]
Juli :["Katakan jika semua itu bohong max dia tak mungkin meninggal kan?"]
Maxim :["Maafkan saya tuan."]
Juli merasakan pukulan hebat di sekujur tubuhnya. buliran air matanya terlepas begitu saja. pencariannya berakhir dengan rasa sakit yang begitu hebat.
Desi menatap aneh pada suaminya di balik tembok pintu utama toilet. hatinya kian meradang melihat suaminya berkomunikasi entah dengan siapa dan berakhir dengan kemarahan pada wajahnya. kecurigaan desi membawanya mengikuti sang suami yang izin ke toilet. dengan langkah perlahan ia sampai di sana dan mendengarkan dengan cermat apa saja yang juli lakukan di sana. banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan dengan siapa suaminya berkomunikasi dan pembahasan apa yang mereka bicarakan hingga juli bisa marah dan menangis namun tak mungkin dia menanyakannya pada suaminya. ia takut jika juli akan marah jika tau dirinya menguntit suaminya.
Bersambung. . .
Terima kasih untuk para pembaca yang masih setia mantengin ceritaku. .
Biasakan setelah membaca meninggalkan jejak dengan memberikan
Like
__ADS_1
Comen
Vote