
Agatha jatuh pingsan begitu mendengar penuturan ibu panti mengenai putrinya yang hilang. Mereka menggendong Agatha dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ibu Yosi menghirupkan minyak kayu putih ke hidung agatha. Tak berselang lama agatha siuman dari pingsannya. Agatha memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
"Ale sayang." Mami Niken yang duduk di samping kasur mengusap lengan agatha saat melihat kedua mata putrinya membuka sempurna.
Agatha memijit keningnya yang masih terasa pusing, ia hanya diam tak menanggapi pertanyaan Maminya.
"Mau ke mana le?" Tanya Mami Niken saat ia melihat pergerakan Agatha yang hendak bangkit dari ranjang.
"Mencari putriku. dia harta satu-satunya yang Ale punya setelah keluargaku sendiri membuangku." Sindir Agatha menatap Maminya sinis.
"Ale, maafin Mami nak." Wajah Mami niken mendadak berubah sendu, ia merasa bersalah dengan sikap acuhnya dulu pada putrinya.
"Sedang apa Mami di sini?" Tanya Agatha menatap tak suka pada Ibu kandungnya.
"Mami ingin bertemu denganmu dan cucu Mami."
"Mami datang ke sini dan kini Putriku hilang. apa ini bagian dari rencana kalian untuk menyingkirkanku?" Tuduh Agatha.
"Ale apa maksudmu? Kenapa menuduh Mami yang membuat maura hilang?" Mami niken manatap tak percaya pada putrinya.
"Mungkin saja." Agatha mengedikan kedua bahunya.
"Yang Ale tau kalian memang tak menyukaiku dan maura jadi kemungkinan besar kalianlah yang membuat putriku hilang." Tuduh Agatha lagi yang membuat Maminya bingung harus menjelaskan seperti apa lagi.
"Ale tega sekali kau menuduh Mami, mana mungkin Mami tega mencelakai cucu sendiri." Sangghnya lagi tak terima dengan tuduhan putrinya.
"Ale, apa yang mami katakan benar mana mungkin kami tega mencelakai cucu kami." Timpal Ayah Sean yang muncul dari luar.
PROK
PROK
PROK
Agatha bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak mendengar pembelaan untuk istrinya.
"Wah wah akting kalian bagus sekali. patut di kategorikan sebagai aktris dan aktor yang mendapatkan piala penghargaan."
"Cukup Ale kau sudah melewati batas!" Ujar Ayah Sean, darahnya sudah mulai mendidih melihat sikap anak sambungnya yang sudah mulai berani padanya.
"Ayah mau apa? Mau memukulku? Ayo pukul." Tantang agatha. Ia bangkit berjalan mendekat lalu mencondongkan wajahnya pada Ayah Sean.
"Mas." Mami Niken menggeleng agar suaminya tak terpancing emosi.
"Kau hidup di Panti Asuhan berkat uang yang aku sumbang jangan bersikap kurang ajar Ale."
"Dengar ya! Aku memang menumpang di sini tapi aku bekerja pergi pagi pulang malam setiap hari. Dan uang gajiku aku berikan juga untuk uang sewa tempat tinggalku dan putriku. memang kalian pikir aku tinggal di sini gratisan?" Ucapnya menggebu-gebu.
__ADS_1
"Kalau tidak percaya silahkan kalian tanya pada ibu panti, apa yang aku katakan benar atau bohong." Ucap Agatha menunjuk dengan ekor matanya ke beberapa ibu panti yang ada di dalam kamar.
"Ini aku kembalikan atm milik putramu. Aku juga belum memakai sepeserpun uang miliknya. Selama aku masih bisa berkerja aku masih bisa menghidupi putriku." Agatha mengeluarkan atm dari dalam dompetnya.
Agatha meraih tas yang ada di atas ranjang mengeluarkan dompet lalu pergi meninggalkan rumah.
"Agatha."
"Kau mau ke mana?" Juli yang belum selesai menelpon menghampiri Agatha yang berdiri di samping sepeda motornya.
"Kau pasti sudah tau jawabannya." Balas Agatha datar.
"Dengarkan aku, ini sudah malam kita lanjutkan pencariannya besok."
"Kau begitu tenang, Ayah macam apa yang tau putrinya hilang malah santai begini." Kedua matanya memerah menahan tangis.
"Tha kau pikir sejak siang tadi aku tak mencari Maura? Aku sudah mencarinya tapi masih nihil."
"Dok, beri Agatha obat penenang." Dokter Bima segera mendekat dengan jarum suntik di tangannya. Juli mendekap menenangkan Agatha dalam pelukannya.
"Lepaskan aku Jul." Agatha meronta mencoba melepaskan diri dari eratnya pelukan Juli. Saat jarum suntik menancap di lengan agatha tubuhnya lemas dengan sigap juli menangkapnya lalu menggendongnya membawanya masuk ke dalam kamar.
**
"Bagaimana keadaannya Dok?" Tanya Seorang lelaki dengan wajah gusar saat melihat dokter yang baru saja keluar dari ruang bangsal.
"Keadaannya masih sama belum siuman." Jawab wanita berjas putih dengan name tag Anisa.
"Ya Tuhan, semoga anak itu selamat ya pah." Ucap Mayang mendoakan.
"Amiin."
Bagaskoro menarik nafas panjang. Ia sendiri tak yakin jika gadis kecil yang ia temukan akan selamat. Air yang ia minum cukup banyak tapi jika Tuhan masih memberinya hidup Kami sebagai manusia patut bersyukur.
"Saya permisi." pamitanya undur diri.
"iya Dok." Keduanya menganggukan kepala.
Pasangan suami istri lekas masuk ke ruang bangsal. Keduanya menatap iba pada gadis perempuan yang terbaring di atas ranjang.
"Pah bagaimana jika dia tak selamat?"
"Mah jangan berpikir negatif pasrahkan semuanya pada Tuhan, semoga dia selamat." Ucapnya menenangkan.
"Mah, sebaiknya mamah pulang dulu ke rumah biar papah yang menunggunya di sini."
"Iya niatnya juga mau pulang, Gavin tidak terbiasa tidur sendiri."
__ADS_1
"Aku pulang pah."
"Hati-hati di jalan, inget jangan ngebut." Pesan Bagaskoro.
Mayang berpamitan pada suaminya. Ia segera pergi meninggalkan ruang bangsal menuju rumahnya.
Flash Back On
"Ada mayat ada mayat." Teriak salah seorang warga di desa yang baru saja dari sungai. Hal ini memancing perhatian dari warga sekitar.
Bagaskoro yang sedang meninjau proyek menoleh pada lelaki yang tadi berteriak.
"Mayat, di mana?" Tanya Bagaskoro penasaran.
"Di sana pak, di sungai." Balasnya menunjuk lokasi dengan jari telunjuknya dengan nada bergetar. dapat di pastikan lelaki ini sedang syok setelah menemukan orang yang hanyut di sungai.
"Ayo kita lihat." Ajak Bagaskoro pada lelaki tadi di ikuti Irwan bawahanku yang mengekor ke mana aku pergi.
Karyawan dan para warga berbondong-bondong datang ke sungai untuk memastikan kebenaran berita mayat di sungai.
"Astagfiruloh iya pak anak kecil." Irwan mengelus dadanya beristigfar.
"Coba di periksa apa dia masih hidup atau sudah meninggal." Titah Bagasgoro.
"Alhamdulilah masih hidup pak." Balasnya setelah ia memeriksa denyut nadinya.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit." Bagaskoro lekas menggendong gadis kecil itu lalu memasukannya ke dalam mobilnya.
"Mas." Panggil Mayang istrinya yang baru datang membawa makan siang untuk Bagaskoro suaminya.
"Mah, aku mau ke rumah sakit. membawa gadis kecil yang hanyut di sungai."
"Aku ikut mas." Mayang langsung masuk ke dalam mobil.
Flash Back Off
"Apa ada orang yang dengan sengaja membunuhnya atau anak ini terpeleset hingga jatuh di sungai." Bagaskoro masih saja bermonolog sendiri.
Tapi di lihat dari awal penemuannya ia melihat pakaian seragam Sekolah yang ia kenakan. Jika anak ini sudah sadar aku akan menanyakan padanya kejadian awal mula ia hanyut di sungai.
Bersambung. . .
Mohon dukungannya dengan memberikan
Like
Come
__ADS_1
Vote dan
Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤