One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 105


__ADS_3

Agatha baru saja keluar dari kamarnya. Hari ini hari weekend jadi Agatha bangun sedikit terlambat dari biasanya. Agatha meraih ikat rambut yang tergeletak di atas nakas lalu mengikat rambutnya ala kuncir kuda. Suaminya belum juga bangun dari peraduannya. Ia menyibakkan setengah korden agar sinar mentari dapat masuk ke dalam kamarnya.


Agatha Keluar dari kamarnya menuruni anak tangga. Ia mendapati putrinya yang sedang di suapi oleh Mami Niken di meja makan.


"Mi di mana Wita?" Tanya Agatha yang tak melihat pengasuhnya bersama putrinya.


"Wita izin cuti beberapa hari, anaknya sakit." Balas Mami Niken.


"Awalnya ingin pamit padamu tapi kalian masih belum bangun jadi hanya pamit dengan Mami." Imbuhnya lagi.


"Oh begitu." Agatha hanya beroh ria.


Agatha duduk di sebelah Mami Niken seraya membalikan piringnya lalu mengisinya dengan nasi goreng.


"Di rawat di rumah atau di Rumah Sakit Mi?"


"Bilangnya di Rumah Sakit."


"Nanti aku coba obrolin dengan Juli untuk menengok anaknya Wita."


"Iya Mami juga berniat ingin menjenguk anaknya." Ucapnya seraya menyodorkan minuman pada cucunya.


"Oma Maura sudah kenyang." Ucapnya seraya mengusap perutnya.


"Bagus sayang, makanmu banyak pagi ini biar sehat." Puji Mami Niken sembari tersenyum.


"Piringnya sama gelasnya bawa ke dapur sayang." Titah Agatha pada putrinya. Maura menurut ia membawa bekas piring dan gelas ke dapur.


"Le biarkan saja Mami yang akan membawanya ke dapur."


"Maura sudah aku ajarkan mandiri sejak di panti jadi sudah biasa melakukannya Mi."


"Ya ampun itu sangat berlebihan." Mami Niken tak menyukai apa yang Agatha ajarkan, menurutnya anak di usia Maura sedang menyukai bermain dan bermain.


"Apanya yang berlebihan Mi?" Tanya Agatha seraya menautkan kedua alisnya.


"Caramu mendidik putrimu." Balas Mami Niken.


"Baiklah terserah Ale saja yang pasti cucu oma harus jadi anak pintar." Tambahnya lagi.


"Bibitnya saja sudah pintar pasti menurun ke anaknya. Karena orang bilang buah jatuh tak jauh dari pohonnya."

__ADS_1


Mami Niken membenarkan saja ucapan putrinya. Ia tak mau lagi berdebat dengannya.


Maura kembali seraya membawa puding di tangannya lalu duduk lesehan di karpet depan televisi.


"Lihatlah le anakmu katanya kenyang tapi makan puding." Mami Niken tersenyum melihat kelakuan cucunya.


"Memang suka begitu Mi, dia lebih suka ngemil dari pada makan nasi."


**


"Rumah Sakit? Siapa yang di rawat di sana?" Tanya Jonathan tak mengalihkan pandangannya dari pengasuh keponakannya.


"Jadi penasaran siapa yang di rawat, atau mungkin orang tuanya." Jonathan bermnolog.


Jonathan dengan mengenakan topi dan masker terus saja berjalan mengikuti Wita hingga bangsal. Ia berhenti sejenak lalu menunggu di kursi tunggu yang ada di depan kamar rawat inap.


"Jika aku tetap di sini dia akan ketahuan, lebih baik aku cari tau nama orang yang di rawat di sini." Jonathan bangkit dari duduknya berjalan kembali ke depan menghampiri resepsionis itu sebuah pilihan yang baik.


"Mbak."


"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya ramah.


"Saya tanya bangsal Anggrek no 15 di huni oleh siapa? Apa saya boleh tau?"


"Tinggal jawab saja apa susahnya?" Wajah Jonathan memerah padam mendengar jawaban yang tak ia inginkan.


"Sekali lagi maaf saya tidak bisa mengatakannya."


Rasanya percuma jika bertanya sama sekali tak mendapatkan jawaban, lebih baik ia mencari tau sendiri. Jonathan kembali lagi ke tempat tadi berharap akan menemukan jawaban nantinya. Sangkin penasarannya Jonatha mengikuti Wita sampai ke Rumah Sakit.


Entah mengapa Ia begitu penasaran dengan pengasuh keponakannya.


Pintu bangsal terbuka sedikit. Jonathan mendekat lalu mengintip ke dalam.


"Sayang makan dulu ya nak, Bunda suapin."


"Galen nggak laper Bun." Tolaknya.


"Satu suap saja."


"Sudahlah Ren jangan di paksa kalau dai tidak mau makan." Saran Wanita setengah baya yang berdiri tak jauh dari brankar.

__ADS_1


"Ren bukankah dia Wita namanya tapi kenapa wanita itu memanggilnya Ren." Batin Jonathan penasaran.


Joanathan hampir saja ketahuan jika ia tak memakai topi dan maskernya.


"Renata." Jonathan terpaku saat kedua matanya melihat wanita yang selama ini di rindukannya. Pacar yang awalnya pura-pura lalu mengakhiri kepura-puraannya menjadi sepasang kekasih kini di pertemukan kembali.


Wita melewati Jonathan begitu saja yang masih terdiam. Ia juga tidak tau jika lelaki itu adalah Jonathan. Kacatama yang biasa di kenakan Wita tak lagi menggantung di wajahnya.


Jonathan kembali melangkah mengikuti pergerakan kaki Wit lalu mencekal pergelangan tangannya. Wita menoleh ke belakang. Tatapan mata keduanya beradu pandang.


"J..Jo" Renata terbata.


Jonathan menghambur ke pelukan Renata erat.


"Aku sangat merindukanmu sayang." Ucapnya. Bulir air matanya tumpah begitu saja.


"Aku sama sekali tak rindu." Sanggahnya.


Jonathan melepaskan pelukannya. Ia menatap wanita yang sudah membuatnya tak bisa berpaling dari wanita lain. Ia berharap jika ucapan Wita yang di dengarnya adalah bohong. Tapi sayangnya ia tak bisa melihatnya Wita malah membuang muka ke sembarang arah.


"Apa kau mengikutiku?" Tanyanya dingin.


"Kenapa kau tak jujur jika Wita itu kau sayang."


"Namaku memang Renata Purwita Sanjaya. Lalu apa salahnya jika aku mengenalkan namaku sebagai Wita?" Tanya Wita dengan nada tinggi.


"Kenapa kau berubah. Kenapa bersikap dingin padaku?" Tanyanya merengkuh kedua bahu Wita menatapnya dalam.


"Bukan aku tapi kau." Wita melepaskan rengkuhan tangan Jonathan lalu menuding dada pria yang dulu menjadi kekasihnya.


Bersambung. . .


Mohon dukungannya dengan memberikan


Like


Comen


Vote


Hadiah

__ADS_1


Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤


__ADS_2