One Night Love With Step Brother

One Night Love With Step Brother
episode 94


__ADS_3

Agatha mengerjapkan matanya mengumpulkan nyawanya penuh ke dunia nyata. Hampir saja ia berteriak karena syok saat ia mendapati tangan kekar yang melingkar di perutnya. Untung kesadarannya lekas kembali mengingat dirinya sudah berganti status sekarang menjadi istri. Perlahan ia menyingkirkan lengan suami lalu beranjak dari pembaringan namun ia malah tangan Agatha kembali di tarik hingga ia terjatuh dalam pelukan sang suami.


"Mas." Panggil Agatha setengah berteriak.


"Mau ke mana hm?" Tanya Juli masih dengan mata terpejam.


"Aku mau mandi, aku juga lapar." Balasnya jujur.


"Sudah jam 09.30 pantas saja kau lapar. Biar aku telpon pihak hotel agar mereka membawakan makanan ke kamar kita." Juli membuka kedua matanya lalu meraih ponselnya yang ada di atas nakas untuk menghubungi pelayan.


"Jadi apa aku boleh mandi?" Tanya Agatha lagi.


"Boleh, tapi kita mandi bersama."


"Aku tidak mau mas, bisa lama nanti." Tolak Agatha.


"Kita belum pernah mandi bareng loh Dek."


"No." Agatha masih saja kekeh menolak ajakan suaminya.


"Baiklah, kita akan tetap seperti ini." Putusnya mendekap istrinya erat.


"Mas lepas, aku susah bernafas."


Juli langsung mengendorkan pelukannya.


"Ya sudah ayo mandi." Ucap Agatha mengiyakan ajakan suaminya.


"Mas aku bisa jalan sendiri." Agatha meronta saat suaminya membawa tubuhnya dalam gendongannya.


"Aku tidak yakin kau bisa berjalan sendiri." Balasnya dengan nada mengejek.


"Awwww...." Juli meringis saat perutnya mendapat cubitan dari sang istri.


"Rasakan Mas." Agatha terkekeh saat Juli mendesis saat dirinya merasakan sakit di perutnya akibat ulahya.


"Lihat saja aku akan membalasnya setelah ini." Ancamnya yang membuat tawa Agatha berhenti. Mendadak ia menjadi waspada.


"Oh tidak." Teriaknya dalam hati.


Juli menurunkan tubuh sang istri saat sudah sampai di dalam kamar mandi.


Agatha yang menolak permintaan Juli melakukan hubungan suami istri di kamar mandi hanya menurut. Tak lama keduanya merampungkan mandi dan keluar bersama dengan wajah yang segar.


Tak lama pelayan datang membawakan sarapan yang tertunda. Juli langsung mengajak sang istri menyantap makan siang mereka.


"Kau benar-benar sangat lapar?" Tanya Juli melihat Agatha yang makan dengan lahapnya.


Agatha hanya menganggukan kepala sebagai jawaban. Wajar saja Agatha kelaparan ia sendiri sarapan memasuki jam makan siang dan juga wajarlah tenaganya sudah habis untuk bertempur tadi malam.


"Habis ini kita lanjut lagi ya." Ucapnya dengan mengedipkan sebelah matanya pada sang istri.


Agatha mendelik menanggapi ucapan sang suami.


"Yang tadi malam memangnya kurang?" Balas Agatha heran seraya geleng-geleng kepala.


"Hehehe kurang, habisnya kamu bikin nagih." Ucapnya dengan nada menggoda.

__ADS_1


"Aku malah habis ini berniat mau pulang Mas." Balasnya yang membuat wajah sang suami merengut.


"Nanti malam saja pulangnya." Nego Juli.


"Aku kangen Maura, memangnya Mas nggak kangen sama Maura?" Tanya Agatha.


"Kangen si, tapi masih pengin lagi."


"Nanti malam kan bisa di lanjut Mas." Tawar Agatha.


"Beneran nanti malam lagi Dek?" Tanya Juli dengan senyum mengembang.


"Iya Mas, Tapi liat sikon ya." Balas Agatha yang membuat senyum di bibir suaminya seketika memudar.


Keduanya merampungkan makan siang, setelahnya mereka bersiap untuk pulang melepas rindu dengan putrinya.


"Sayang sudah di bawa semua barang-barangnya?" Tanya Juli memastikan.


"Sudah Mas."


"Ayo."


Keduanya berjalan beriringan keluar dari hotel. Membuka pintu mobil lalu segera memasang sabuk pengaman. Juli melajukan mobilnya menuju kediamannya.


**


Maura sedang mewarnai buku gambar yang kemarin di belikan pamannya. Oma Niken setia mendampingi cucunya bermain. Dengan tenang ia mewarnai gambar Doraemon dengan pensil warna.


"Oma udah ini, telus yang ini pakai walna apa?" Maura menunjuk gambar lain dengan jarinya.


"Nobita suka pakai kaos warna yellow. terus celananya warna navy blue."


"Ada, Oma tadi lihat. Ayo cari lagi." Titahnya.


"Jatuh telnyata Oma." Ucapnya seraya mengambilnya dari lantai.


"Sudah ketemu, sekarang lanjut lagi sayang." Oma Niken mengusap puncak rambut Maura lembut.


"Selamat siang." Sapa Juli mengalun.


"Daddy Mommy." Panggil Maura. Ia berlari mendekati Juli dan Agatha lalu memeluk kakinya erat.


"Sayang." Juli mengangkat tubuh putrinya lalu membawanya dalam gendongannya.


"Daddy kangen." Ucapnya seraya membenamkan wajahnya di dada Ayahnya.


"Hanya kangen dengan Dad, Maura ngga kangen dengan Mom." Agatha pura-pura bersedih.


"Kengan Mom Juga." Ucapnya seraya menatap Agatha penuh kerinduan.


"Sini sayang Mom gendong." Agatha merentangkan kedua tangannya meraih tubuh Maura dalam pelukannya.


"Mami kira kalian akan pulang besok." Ucap Mami Niken.


"Agatha takut Maura rewel." Balas Juli.


"Maura sama sekali tidak rewel."

__ADS_1


"Syukurlah kalau Maura anteng Mi." Balas Agatha.


Agatha memberikan banyak kecupan di wajah Maura. Maura memberontak seperti biasanya saat aku menciumnya hingga tubuhnya merosot ke bawah hingga terduduk di lantai.


Ia berdiri lagi lalu melongok ke belakang Mom dan Dadnya seperti mencari sesuatu.


"Sayang cari apa nak?" Tanya Agatha.


"Mana dedek bayinya?" Todong Maura.


"Dedek bayi?" Tanya Agatha mengerutkan dahinya bingung.


"Iya, Dad bilang Lula mau buatkan Dedek bayi." Terangnya.


Agatha melongo mendengar penuturan putrinya. Ternyata Maura anteng di rumah karena ia di janjikan Dadnya di buatkan adik bayi. Oh Astaga! Agatha Menepuk jidatnya sendiri mendengar tingkah laku suaminya.


Agatha menoleh ke samping, yang di lihat malah sedang tersenyum tanpa dosa.


"Mas kau yang buat janji, kau yang jawab." Pinta Agatha bersidekap menatap tajam pada suaminya.


"Mi kami ke kamar dulu." Pamitnya.


"Iya, beristirahatlah."


"Masih belum jadi sayang, Dad sedang usaha buat, nanti malam Dad usaha buat lagi ya." Juli menggendong Maura mencoba memberikan pengertian pada putrinya. Sedangkan Agatha mengekori suaminya.


"Lula boleh bantu buat bial cepet jadi?"


"Maura belum bisa buat sayang, hanya Mom and Dad yang bisa." Juli tertawa mendengar perkataan putrinya.


Sesampainya di dalam kamar Juli menurunkan putrinya di atas ranjang.


"Waktunya tidur siang." Titah Juli pada putrinya.


"Lula ngga mau Dad, belum ngantuk." Tolak Maura. Ia mencoba bangkit namun Juli membaringkan tubuhnya lagi.


"Dad temani." Maura akhirnya menurut.


Agatha sedang berada di dapur. Ia hendak memasak, namun di cegah oleh ART.


"Nyonya mau makan apa biar bibi buatkan." Ucapnya yang membuat Agatha menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke sumber suara.


"Mau masak tumis kangkung sama goreng ikan."


"Biar bibi yang buatkan Nyonya."


"Ya sudah tolong ya."


Agatha kembali masuk ke dalam kamar, ia begitu terharu melihat pemandangan suami dan anaknya sedang tidur bersama. Ia sangat bersyukur menikah dengan Juli walau harus mengorbankan beberapa orang yang terluka karena pernikahan mereka.


Bersambung. . .


Mohon dukungannya dengan memberikan


Like


Comen

__ADS_1


Vote dan


Jangan lupa masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya ❤


__ADS_2