
"Akhirnya Cinderela hidup bahagia bersama pangeran selesai." Mamah Mayang barusaja selesai menceritakan dongeng pada Maura. Ia menutup buku yang baru saja ia baca dan meletakannya di atas nakas.
Mamah mayang tersenyum saat ia melihat Maura yang sudah terlelap.
"Manis sekali." Mamah Mayang mengecup keningnya singkat.
"Jika saja Zora masih hidup aku pasti memiliki anak perempuan yang cantik seperti dia." Mamah Mayang masih saja betah memandangi wajah Muara yang begitu menggemaskan.
"Kau merindukan Zora?" Tanya Papah Bagaskoro yang entah sudah berdiri sejak kapan di sebelah Mamah Mayang.
"Iya Pah, andai...." Mamah Mayang tersenyum kecut mengingat saat Zora sakit demam lalu dokter yang menanganinya mengatakan jika Zora sudah Pergi ke sisi Tuhan. Dan kenyataan pahit yang harus ia terima dokter bilang Rahimnya lemah jika hamil lagi takutnya janinnya tak akan hidup bertahan lama.
"Ikhlaskan Mah, Zora sudah bahagia di sisi Tuhan."
"Bagaimana jika kita jodohkan Lula dengan Gaga Mah." Ujarnya lagi memberikan usul.
"Ah terkesan seperti memaksa, jika Salah satu dari mereka tak mau bagaimana?" Ucapnya merasa keberatan dengan usul suaminya.
"Atau kau ingin kita membuatnya lagi?" Goda Papah Bagaskoro dengan mengedipkan sebelah matanya lalu tersenyum nakal.
"Papah." Mamah Mayang mendelik.
"Aww." Papah Bagaskoro meringis saat perutnya mendapat cubitan dari sang istri.
"Ssttttt, Jangan berteriak Pah Lula baru saja tidur." Tegurnya seraya meletakan jari telunjuknya di bibirnya lurus ke atas.
"Cubitanmu sakit Mah." Gerutu Papah Bagaskoro.
"Itu akibatnya jika menggoda Mamah terus." Ujarnya bangkit dari ranjang meninggalkan kamar Maura, sedangkan suaminya berjalan mengekori ke mana istrinya pergi.
"Jadi bagaimana mau buat anak lagi atau bagaimana?" Tanya Papah Bagaskoro lagi.
"Berhenti bicara atau Mamah akan....." Mamah Mayang menghentikan langkahnya lalu membalikan tubuhnya menatap dalam suaminya.
"Mamah akan menyuruh Papah tidur di luar." Tukas Papah Bagaskoro yang memang sudah hafal jika Mamah Mayang akan bicara apa bila sedang kesal tapi semua itu tak akan pernah terjadi.
Mamah Mayang tampak kembali merengut dan melanjutkan kembali langkahnya masuk ke dalam kamarnya lalu mengucinya dari dalam.
"Berhenti merajuk jika kau tak ingin menjadi cepat tua Mah." Ujarnya seraya mengetuk pintu kamar.
"Aku memang sudah tua." Balasnya dari balik pintu.
"Ck, Mah maafkan Papah, Papah hanya bercanda Mah."
"Papah sedang apa?" Tanya Gavin yang baru saja sampai rumah masih dengan seragam sekolahnya. Setelah pulang dari sekolah ia langsung belajar lagi di tempat les musik.
"Papah ingin masuk tapi mamah menguncinya dari dalam." Adunya seraya menunjuk pintu dengan dagunya.
"Mamah sedang marah?" Tanyanya tepat sasaran, Gavin selalu tau kebiasaan kedua orang tuanya yang selalu bertengkar lalu sebentar kembali baikan.
"Papah tadi sedang bergurau dengan Mamah tapi malah Mamahmu merajuk." Papah Bagaskoro menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Nanti juga baikan lagi, Mamah dan Papah kan nggak pernah marahan lama-lama."
Papah Gavin tertawa mendengar jawaban putranya. Gavin memang tau kebiasaan kedua orang tuanya
"Ayo ganti bajumu dan makan." Ucapnya mengintrupsi seraya merangkul bahu Gavin berjalan ke kamar putranya.
"Aku tidak melihat Maura." Gavin mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari gadis kecil yang tinggal seatap dengannya.
__ADS_1
"Tidur."
"Pantas nggak kelihatan." Ucapnya lalu mendorong pintu lalu masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian santai.
Gavin kembali keluar dari kamarnya sedangkan Papah Bagaskoro sudah duduk lebih dulu di kursi untuk menemani putranya makan siang, Gavin menarik salah satu kursi dan menjatuhkan bokongnya. menyantap sepiring nasi beserta lauk pauk yang sudah di ambilkan oleh sang Papah.
Papah Bagaskoro menatap istrinya dari atas sampai bawah yang sudah mengenakan pakaian rapi keluar dari kamarnya.
"Mau ke mana Mah?" Tanya Papah Bagaskoro.
"Mau belanja, bahan makanan sudah hampir menipis."
"Mau pergi jam berapa jika Papah masih di situ?" Tanya Mamah Mayang.
"Ah iya Papah lupa sayang, sebentar Papah ambil kunci mobil di kamar." Papah Bagaskoro sudah melesat menuju kamarnya.
"Mah lihat kunci mobil Papah?" Tanya Papah Bagaskoro yang terlihat sedikit frustasi kala ia tak mendapati kunci mobilnya di dalam kamarnya.
"terakhir di taruh di mana?"
"Di gantungan Mah, tapi ini tidak ada Mah."
Mamah Mayang menertawakan suaminya dalam hati. mengerjai suami ternyata lumayan mengasyikan.
Papah kembali masuk ke dalam kamar lalu mencarinya lagi. Namun tak ada tanda-tanda penampakan kunci mobilnya.
"Papah cari Ini?" Mamah Mayang sudah berdiri di ambang pintu menunjukan kunci mobil di tangannya.
"Astaga kenapa kau tidak bilang jika kunci itu ada di tanganmu." Papah Bagaskoro berkacak pinggang saat melihat barang yang ia cari sudah ada di tangan istrinya, ia segera meraih Kunci mobil lalu berjalan mendahului istrinya, Mamah Mayang tergelak mengingat dirinya yang sudah berhasil mengerjai suaminya hingga membuatnya kesal.
**
"Nanti kau juga akan tau jawabannya." Juli mengulurkan beberapa lembaran uang berwarna merah pada supir taxi lalu segera turun dari taxi.
"Apa Maura kecelakaan?" Agatha tak hentinya bertanya dan menerka-nerka. Wajahnya juga sudah berubah cemas.
"Berhenti berpikiran negatif sayang."
"Tapi Mas..."
"Tuan dan Nyonya sudah sampai?" Lelaki berperawakan tinggi besar dan berkepala plontos menghampiri Juli dan Agatha.
"Baru saja Max."
"Maaf Tuan resepsionis belum mau menunjukan alamat tempat tinggal orang yang menolong Nona kecil." Lapornya.
Juli mendesah mendengar ucapan Maxim, benar-benar Rumah Sakit ingin mencari masalah dengannya.
Juli berjalan masuk ke dalam mendekat ke bagian resepsionis dengan angkuhnya. semua orang yang ada di sana berbisik bisik melihat kehadiran seorang pengusaha yang datang ke rumah sakit.
"Berikan alamat orang yang menolong putriku, sekarang!" Titahnya dengan suara garangnya.
"Tapi Tuan tidak sembarang orang boleh..."
"Apa kau sudah bosan bekerja di sini? Aku bisa saja membuatmu di pecat secara tidak hormat." Sarkasnya cepat hingga membuat wanita di hadapannya nyalinya menciut.
"Siapa namamu?"
"I...iya sebentar Tuan, saya carikan dulu biodatanya."
__ADS_1
"Maaf Tuan tidak ada yang namanya Maura, tapi memang beberapa hari yang lalu ada pasien yang hanyut di sungai. Tapi namanya Lula bukan Maura." Ucapnya lagi setelah menemukan dan membaca biodata pasien.
"Apa Lula wajahnya seperti ini?" Tanya Agatha seraya menyodorkan ponselnya yang menampilkan foto putrinya.
"Iya benar itu anaknya Nyonya."
"Berikan alamatnya." Ulang Juli lagi.
"Ini Tuan." Resepsionis memberikan secarik kertas.
Maxim sudah menunggu kedua majikannya di dalam mobil, "Jalan." Titahnya saat Juli dan Agatha masuk ke dalam mobil.
"Max." Juli memberikan secarik kertas alamat pada Maxim.
Maxim menerimanya dan menatap secara bergantian kertas dan jalanan.
Sampailah mereka di alamat yang di tuju, terlihat pintu gerbang yang mengelilingi rumah yang Cukup mewah tepat di depan jalan raya.
Tiiinnnn
Tiiinnnn
Di depan scurity yang berjaga membukakan pintu saat mendengar klakson yang Maxim bunyikan berulang kali.
"Mau cari siapa Tuan?" Tanyanya ramah.
"Maaf mau tanya Tuan Bagaskoronya ada?" Tanya Maxim.
"Ada Tuan, silahkan masuk Tuan."
"Terima kasih." Ucapnya, lalu melajukan kembali mobilnya sampai di depan rumah.
Juli dan Agatha turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu utama. Sedangkan Maxim tetap berada di dalam mobil.
Teettt
Teettt
Suara bel berbunyi, Tak lama kemudian pintupun terbuka, terlihat wanita cantik menyambut kedatangan Tamu yang tak di undang.
"Cari siapa?" Tanya Mamah Mayang menatap pada kedua orang yang ada di hadapannya.
"Saya Juli dan Ini Agatha. Saya ingin menjemput putri kami Maura." Ujarnya menjelaskan tujuannya datang berkunjung.
"Maura siapa?" Mamah Mayang nampak mengerutkan keningnya.
Bersambung. . .
Mohon dukungannya dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya❤
Jangan lupa juga mampir ke Novelku yang ke dua Senja Di Atas Pelangi
__ADS_1