
Juli tak bisa tidur dengan tenang malam ini, bukan karena suara derasnya air hujan dan petir yang menggelegar namun karena bayangan gadis cilik yang mirip dirinya terus berklebatan. desi menatap curiga pada suaminya yang sedari tadi tidur di sebelahnya nampak tak tenang. desi ingin bertanya namun ia urungkan niatnya. ia lebih memilih memejamkan matanya, tapi tetap saja kedua matanya masih membulat sempurna perasaannya cemas mendapati suaminya yang belum terlelap sejak tadi.
Juli lebih memilih bangkit dari ranjangnya. ia keluar kamar melangkahkan kaki menuju dapur. mengambil sebotol air dari dalam kulkas dan meminumnya berharap agar fikirannya kembali tenang. juli menghela nafas beberapa kali mencoba menghilangkan banyak fikiran yang menyerang otaknya.
Di balik tembok desi masih mengamati pergerakan suaminya di ruangan yang gelap tanpa penerang. tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut juli yang desi dengar. tak ingin juli tau dirinya menguntit suaminya ia lekas kembali ke dalam kamarnya.
"Dari mana mas?" tanya desi. ia berpura-pura keluar dari kamar mandi saat mendengar langkah kaki seseorang dari luar.
"Dari dapur, aku haus." balas juli datar lalu kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang. juli memunggungi istrinya mencoba memejamkan kedua matanya kembali dan memasuki alam mimpi.
Setiap hari juli bangun lebih awal daripada istrinya. ia tak pernah absen menyambangi kamar milik putrinya. seperti pagi ini juli mengunjungi alika. kamarnya tak jauh dari kamar milik putrinya tepatnya di sebelah kanan kamarnya.
Alika yang barusaja terbangun dari tidurnya kini sedang meminum sebotol susu yang di buatkan oleh mba meli pengasuh putrinya. desi tak mau memberikan ASInya pada putrinya dengan terpaksa alika harus minum susu formula sejak lahir.
"Anak dady sudah bangun rupanya." ucap juli ketika dirinya membuka pintu kamar.
"Iya tuan alika barusaja bangun." ucap meli.
"Mel jangan lupa nanti siang katakan pada ibu bawa alika ke rumah sakit untuk imunisasi." ucap juli mengingatkan.
"Siap tuan laksanakan." ucap meli menurut.
"Dady berangkat dulu sayang, baik-baik di rumah." ucap juli mengecup kening putrinya setelah itu berlalu meninggalkan kamar putrinya dan segera berangkat ke kantor.
Aksa sudah siap di depan rumah untuk menjemput tuannya, aksa melirik jam di pergelangan tangannya masih cukup untuknya mencari sarapan di luar. ia mengerti betul kebiasaan tuannya sarapan di luar. ia segera melajukan kemudinya mencari tempat makan.
"Sarapan apa yang anda inginkan pagi ini tuan?" tanya aksa masih fokus dengan jalanan.
"Bubur ayam." balas juli datar. di dekat kantornya ada bubur ayam yang lumayan enak aksa segera menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan. aksa segera keluar melangkah menghampiri penjual bubur ayam dan memesannya. antrian yang cukup panjang membuat aksa sabar untuk mendapatkan sarapan yang tuannya inginkan.
Bubur ayam sudah berada di atas meja dan siap untuk di santap. seperti biasa juli menikmati satu mangkuk bubur ayam di temani aksa sang asisten. dengan khidmat mereka menghabiskan makanan tersebut tanpa ada suara yang terdengar dari bibir keduanya.
Selesai sarapan keduanya segera kembali ke pekerjaan masing-masing. jadwal pertemuan dengan para pemegang saham yang di adakan siang ini cukup membuat aksa lumayan sibuk untuk merangkum pembahasan yang akan mereka diskusikan nanti.
**
Pagi ini agatha bangun lebih awal, ia langsung ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. maura belum juga terbangun mungkin ia masih merasa lelah. agatha yang sedang berada di kamar mandi tak membuat ibu satu anak ini menyahut suara ketukan dari luar karena kerasnya suara air yang mengalir dari kran shower. bang kemal masih setia berdiri menunggu pemilik kamar keluar untuk membukakan pintu.
Agatha sudah selesai membersihkan diri dan mendapati maura yang sudah bangun dari tidurnya. tak seperti biasanya maura anteng saat tak mendapati seorangpun ada di dalam kamar.
tok tok tok
__ADS_1
Bang kemal kembali mengetuk daun pintu perlahan. agatha menoleh ke arah sumber suara dan langsung segera melangkahkan kaki menuju pintu dan membukanya.
"Selamat pagi." sapa bang kemal dengan menenteng sekantung kresek di tangannya.
"Pagi." balas agatha membuat lengkungan di bibirnya.
"Ayo masuk." ajak agatha.
"Selamat pagi gadis cantik." sapa bang kemal seraya mengangkat tubuh maura lalu mencium kedua pipi gembul maura. maura merosot tak mau berada dalam gendongan bang kemal.
"Aaaaa nda om." ucap maura merosot melepaskan diri dari dekapan omnya.
"Ayo mau ke mana?" bang kemal berlari mengikuti ke mana langkah kaki maura si gadis kecil.
"Mom." maura langsung memeluk erat kaki jenjang milik agatha.
"Sayang mom kaget ini." ucap agatha yang sedang mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. suasana kota jakarta yang panas membuat rambut agatha cepat basah dan lembab jadi mau tak mau ia harus keramas di pagi yang dingin.
"Hap dapat." bang kemal membawa tubuh maura ke dalam gendongannya.
"Makan bareng om ya." ajak bang kemal lalu mendudukan maura di atas kursi, tangannya membuka bungkusan yang tadi di letakan di atas meja. maura menggelengkan kepala tak mau makan, maura memang sulit sekali untuk di ajak makan. ia lebih suka makan es krim dan coklat.
"Nda mau." maura menggelengkan kepala lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Biar aku yang menyuapi maura bang." ucap agatha mengambil alih sendok yang di pegang bang kemal.
"Aaa buka mulutmu sayang." seru agatha.
"Nda mom." ucap maura merajuk memanyunkan bibirnya.
"Orang bilang kalau ngga mau makan peliharaannya mati, maura kan punya kelinci kalau mati gimana? maura ngga punya mainan lagi." ucap agatha masih mencoba membujuk putrinya.
Akhirnya maura mau makan juga. dengan telaten agatha menyuapkan sedikit demi sedikit makanan ke dalam mulut maura walau tak sampai habis tapi lumayan perutnya sudah mendapatkan asuapan makanan.
Mobil yang melaju sudah berhenti tepat di depan pemakaman. perasaan agatha mendadak sedih menatap pintu masuk pemakaman.
"Mau aku temani masuk?" tawar bang kemal melirik ke samping mendapati agatha yang masih terdiam seperti tau apa yang sedang agatha rasakan.
"Aku sendiri saja bang, aku titip maura." ucap agatha sendu.
"Baiklah jika itu maumu." balas bang kemal pasrah.
__ADS_1
Dengan berpakaian serba hitam dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya untuk menutupi kedua matanya ia terus berjalan menuju pintu pemakaman, kakinya terus melangkah menuju makam keluarganya. tak butuh waktu lama agatha sampai di makam opanya. ia langsung bersimpuh menaburkan bunga di atas makam. air matanya lolos begitu saja tak kuasa menahan rasa bersalah karena tak berada di samping opanya sebelum tiada.
"Maafkan aku opa, maaf aku memang bukan cucu yang baik. di saat terakhir opa aku tak ada di sampingmu, menghabiskan banyak waktu bersamamu tapi walaupun kita berjauhan aku tak pernah lupa menyematkan namamu di setiap doaku. opa aku sudah punya anak perempuan namanya maura, maaf belum sempat mengenalkannya pada opa sebelum opa tiada. semoga opa tenang di surganya bapa. aku menyayangimu." tubuh agatha bergetar hebat menatap lekat pada makam orang sangat di sayanginya. agatha mengusap air mata yang menetes sedari tadi.
"Aku meyayangimu opa." ulang agatha lagi sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan pemakaman.
Agatha membuka pintu mobil dan mendapati maura yang sudah terlelap. agatha tersenyum saat maura begitu anteng berada di pangkuan bang kemal. dengan hati-hati agatha segera mengambil alih maura ke pangkuannya.
"Pelan-pelan tha." agatha mengelus kepala maura lembut untuk menenangkannya agar tak terbangun.
"Mau langsung pulang atau mau mampir dulu ke rumahmu?" tanya bang kemal sebelum melajukan mobilnya.
Agatha terdiam sejenak ia merasa bingung sebenarnya ia merasa rindu dengan keluarganya tapi jika ia berkunjung pastinya akan bertemu keluarganya dan mendapatkan amukan dari orang tuanya jika tau agatha hamil di luar nikah.
"Aku ingin melihat mereka tapi dari jarak jauh." ucap agatha lirih.
"Kenapa tidak mampir? apa kau tak merindukan mereka?" tanya bang kemal merasa heran.
"Abang pasti tau alasannya." ucap agatha enggan untuk menjelaskan panjang lebar.
"Baikalh jika itu maumu." balas bang kemal seraya melajukan kemudinya menuju alamat yang agatha tunjukan.
Bang kemal memberhentikan mobil di depan rumah yang berpagarkan besi, agatha menoleh ke arah rumah besar yang sedang ramai tamu. mengamati banyaknya orang yang bertandang ke rumah duka. sudah 4 hari kepergian opanya rumah milik keluarga besar agatha masih saja ramai tamu yang hadir untuk mengucapkan bela sungkawa.
Kaca mobil yang di turunkan membuat agatha lebih jelas melihat keluarga yang ada di sana. ada kak jonathan dan adrian sepupunya terlihat sedang berdiri di halaman depan menemani tamu. ingin sekali rasanya agatha berhambur memeluk kakaknya dan ikut menangis bersama namun apalah daya agatha tak mampu melakukan itu semua. kak jo menoleh di mana agatha berada ia merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikan dirinya. agatha segera bersembunyi dan menutup kembali kaca mobilnya agar kakaknya tak melihatnya.
"Bang aku sudah puas melepas rindu bersama mereka, kita pulang sekarang."
Bang kemal kembali melajukan mobilnya menuju kota Semarang. sedangkan jonathan melangkahkan kaki menuju jalan raya namun mobil yang ia tuju sudah bergerak pergi entah ke mana.
Bersambung. . .
Maaf baru up kemarin cape kerja tangan sakit jadi ngga bisa ngetik dulu. alhamdulilah sudah ngga sibuk dan bisa up lagi.
terima kasih yang sudah mampir ke lapakku dan masih setia menunggu ceritaku, biasakan setelah membaca jangan lupa meninggalkan jejak dengan memberikan
Like
Comen
Vote
__ADS_1