
Wanita berperawakan tinggi, berkulit putih dan berambut panjang sebahu sedang berdiri di samping jendela. menikmati terangnya sinar lampu yang menerangi kota di malam hari. ia menatap tingginya gedung lainnya yang hampir sejajar dengan gedung hotel yang sedang ia tempati saat ini.
"Tugas yang nona berikan sudah selesai saya kerjakan." lapor lelaki yang berdiri tak jauh dari desi berdiri.
"Ha..Ha..Ha..bagus." pancaran kebahagiaan di wajah desi terlihat begitu jelas. suara tawanya menggema ke seluruh ruangan. cara jitu menyingkirkan wanita yang ia anggap sebagai pengganggu telah berhasil ia singkirkan. desi harus cepat bergerak agar semua yang ia inginkan lekas terwujud entah itu harus dengan cara kotor sekalipun.
"Saya puas dengan kerja kerasmu hari ini. uang yang saya janjikan kemarin padamu." ucapnya melemparkan segepok uang ke atas meja, kedua matanya menatap ke arah lawan bicaranya.
"Terima kasih nona, senang bekerja sama dengan anda. jika ada yang perlu saya kerjakan lagi silahkan anda menghubungi nomor ponselku kembali. nomornya masih sama." ucap lelaki berambut kriting bertubuh kurus itu. ia mengambil uang yang baru saja di lempar oleh desi. ia mengintip banyaknya uang yang ada di dalam amplop berwarna coklat, hidungnya mengendus mencium aroma harumnya uang dalam genggamam tangannya lalu memasukan uangnya ke dalam tas.
"Itu uang kerja kerasmu dan uang tutup mulut untukmu. jangan sampai orang lain tau jika kau adalah suruhanku." ujarnya memberi peringatan.
"Siap nona." ia segera melangkah pergi meninggalkan hotel.
Desi meneguk air dalam gelas yang sedang ia pegang. senyumnya merekah mengingat kembali wanita yang di anggapnya pengganggu telah ia singkirkan.
"Kau mengajakku bermain dan kau sendiri belum tau siapa orang yang sedang kau hadapi ******." ucapnya dengan senyum smirk.
**
Pagi harinya agatha terbangun dan tak mendapati siapapun di kamarnya namun ia mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. sudah di pastikan ada orang di dalam sana. suara derit pintu terbuka, menampilkan jason dengan wajah segarnya, ia barusaja membersihkan diri.
"Kau sudah bangun?" tanya jason melangkah mendekat dan menjatuhkan bokongnya di kursi samping brankar. agatha menganggukan kepala sebagai jawaban. ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena menguap, ia mengucek kedua matanya dengan jarinya.
__ADS_1
"Kapan aku boleh pulang?" sudah berapa kali jason mendengar pertanyaan yang sama. ia menjadi malas untuk menjawab.
"Kenapa?" tanya jason seraya mengambil satu buah apel dan mengupasnya dengan pisau.
"Aku sudah tidak nyaman berlama-lama di sini kak." kilahnya. sebenarnya ia merasa khawatir pada keadaan maura di rumah panti.
"Nanti tunggu dokter memeriksamu kembali, jika di ijinkan kau boleh pulang hari ini." balasnya seraya menyuapkan potongan buah apel di tangannya ke mulut agatha.
"Aku bukan anak kecil, bisa makan sendiri." tolaknya seraya mengambil buah di tangan kakaknya, namun jason tetap memaksa untuk menyuapi agatha. dengan terpaksa ia menurut.
"Diamlah, tanganmu sedang sakit ale."
"Yang sakit tangan kiriku bukan tangan kananku." bibirnya mengerucut merengut namun mulutnya terus menguyah hingga potongan terakhir.
Setelah mendapatkan pemeriksaan agatha sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. lega rasanya sudah keluar dari kamar, melepas selang infus yang menancap di kulitnya. jason menyelesaikan biaya administrasi rawat inap. sedangkan agatha duduk di kursi tunggu. setelah itu jason menuntun agatha membantunya masuk ke dalam taxi yang baru saja ia pesan.
Agatha menunjukan alamat ke sopir. taxipun melaju mengikuti ke mana arah tujuan penumpangnya. agatha menoleh menatap deretan toko dan pepohonan yang berjejer di pinggir jalan. hatinya gelisah ia belum siap mengungkap rahasia lain pada kakaknya. memiliki anak di luar nikah adalah sebuah aib keluarga. apa yang akan ia dapatkan setelah jason mengetahui semuanya. mungkin sudah saatnya kebenaran akan terkuak dan ia sendiri siap tak siap harus siap menerima apapun yang akan kakaknya lakukan padanya.
Waktu tempuh sekitar 25 menit taxi yang ia tumpangi sampai di halaman depan rumah panti.
"Kau tinggal di sini?" tanya jason mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman depan rumah panti.
"Iya." balas agatha singkat.
__ADS_1
Maura yang sedang bermain boneka di teras bersama anak-anak menatap ke halaman depan rumah panti saat taxi berhenti.
"Siapa itu kak?" tanya maura pada beril, ia bangkit dari duduknya berdiri di undakan seraya menggendong boneka beruang miliknya, ia menunggu orang yang ada di dalam taxi keluar.
"Mungkin tamu ra." balas beril yang sama-sama menunggu orang yang ada di dalam mobil turun.
"Mommy." suara gadis kecil yang ia rindukan semalaman berlari menghampiri agatha. ia berhambur saat melihat agatha turun dari taxi.
Jason mematung menatap gadis kecil memanggil adiknya dengan sebutan mommy.
Bersambung. . .
Tetap biasakan meninggalkan jejak dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya ❤
Terima kasih kepada readers yang sudah mampir ke lapakku dan setia membaca ceritaku.
__ADS_1