
Jason cukup terkejut dengan ucapan asisten rumah tangganya.
"Pergi ke mana mbak?" Tanya Jason.
"Saya kurang tau pergi ke mana, Non ale hanya bilang begini. Katakan pada semuanya. Tolong jangan mencariku lagi."
"Apa yang terjadi sebelum Ale pergi?"
"Tadi Nyonya Niken datang kemari mencari Non Ale lalu saya di suruh menemani Non Maura di kamar, setelahnya saya tidak tau apa yang Non Ale dan Nyonya bicarakan hingga Non Ale masuk ke kamar lalu mengemas pakaian ke dalam koper." Ujarnya menjelaskan.
"Mami datang ke rumah?" Tanya Jason memastikan telinganya mendengarkan dengan benar.
"Iya Tuan."
"Saya baru ingat Tuan tadi sebelum pergi saya mendengar Mereka bilang akan pergi ke Rumah Panti." Ucap Mbak Nur teringat kembali ucapan anak majikannya sebelum pergi.
Jason kembali masuk ke dalam mobilnya. ia segera melajukan mobilnya meninggalkam pekarangan rumahnya. Pandangan matanya menoleh ke kanan dan ke kiri barangkali menemukan orang yang ia cari. Hingga ia menghentikan laju mobilnya di Terminal.
"Maaf mau tanya, apa Bapak atau Ibu melihat wanita di foto ini?" Jason menunjukan foto Agatha dari ponselnya.
"Maaf tidak lihat." Balas Ibu berpakaian gamis menggelengkan kepala.
"Iya saya juga tidak melihatnya." Ucap lelaki yang berdiri di samping Ibu bergamis.
"Ooh begitu rupanya, saya permisi." Pamit Jason.
Jason masih berjalan mengitari Terminal mengedarkan pandangannya.
"Ale."
Jason menepuk pundak seorang wanita berperawakan persis seperti adiknya yang sedang menuntun gadis kecil hendak masuk ke dalam bis. mereka berhenti melangkah lalu menoleh kebelakang.
"Maaf saya salah orang, saya kira adik saya."
Ponsel yang sedang ia genggam mendadak berbunyi. Ia mendapat panggilan dari Rumah Sakit. Jason segera menggeser tombol hijau dan mengangkatnya. Benar dugaannya jika ia mendapat panggilan darurat.
Jason : [Iya hallo.]
Rumah Sakit : [. . . . ]
Jason : [Iya benar saya anaknya.]
Rumah Sakit : [. . . .]
Jason : [Apa? saya segera ke sana.]
Jason berjalan cepat menuju mobilnya. Melajukannya kembali ke Rumah Sakit. Tadi sesampainya ia di Rumah mendapatkan kabar adiknya pergi meninggalkan Rumah, saat mencari adiknya ia juga mendapatkan kabar bahwa Maminya mengalami kecelakaan.
Di saat yang bersamaan Jason mendapat kabar buruk, ia sendiri harus memilih menghentikan pencarian adiknya sementara. Dan lebih memilih datang ke Rumah Sakit menemui Maminya. padahal menurutnya keduanya amatlah penting dalam hidupnya.
__ADS_1
**
Langit sudah mulai gelap Agatha masih belum juga sampai. setelah turun dari pesawat Agatha mencari taxi untuk mengantarkannya ke Rumah Panti. Putrinya terlihat sangat lelah hingga ia tertidur saat di perjalanan.
Agatha sampai di pekarangan rumah, setelah ia menempuh perjalanan 35 menit. Kemudian ia mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dan biru untuk membayar taxi.
Di teras rumah terlihat Ibu Yosi sedang duduk bertiga entah dengan siapa sepertinya tamu. Saat melihat Agatha turun dari taxi Ibu Yosi langsung bangkit dari duduknya meninggalkan tamunya berjalan menghampiri Agatha.
"Agatha." Panggil Bu Yosi.
"Bu." Agatha mengulurkan tangan hendak mencium punggung tangan Bu Yosi.
Ibu Yosi mengintip ke dalam taxi dan mendapati Maura yang sudah terlelap. Ia segera menggendong Maura masuk ke dalam rumah. Sedangkan Agatha menurunkan koper yang tersimpan di dalam bagasi.
"Istirahat dulu, kau pasti lelah menempuh perjalanan jauh." Ujarnya seraya menggelar selimut untuk menutupi tubuh Maura yang di rasa malam ini terasa dingin.
Agatha menganggukan kepala. "Iya bu, selamat malam." Ibu Yosi Keluar meninggalkan kamar.
Ibu Yosi sejujurnya sangat penasaran dengan kedatangan Agatha kembali ke rumah panti namun ia sendiri belum menanyakannya pada Agatha malam ini, Ia membiarkan Agatha beristirahat dulu pasti tubuhnya terasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh.
Agatha melepaskan jaketnya dan menanggalkannya di gantungan. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang menyusul putrinya ke alam mimpi.
Jarum pendek menujukan pukul 02.30 pagi Agatha terbangun karena mimpi buruk yang masuk dalam tidurnya. Keringat yang mengucur membasahi di seluruh wajah Agatha.
"Mami." teriak Agatha.
Tok
Tok
Tok
"Atha kau baik-baik saja kan sayang?" Panggil Bu Calista yang memang kamarnya bersebelahan dengan Agatha. jadi sangat jelas mendengar suara teriakan.
Agatha segera bangkit berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Tidak ada apa-apa bu, aku hanya mimpi buruk tadi."
"Syukurlah." Bu Calista mengusap dadanya sedikit lebih tenang.
"Mungkin hanya bunga tidur, tidurlah kembali dan jangan lupa berdoa." Ucap Bu Calista, setelahnya ia kembali masuk ke dalam kamarnya.
Agatha hanya menganggukan kepala lalu menutup pintu kembali.
Ia masuk ke kamar mandi membasuh wajahnya berulang kali dengan air. di tatapnya wajahnya yang terlihat di cermin.
"Semoga Mami dalam keadaan sehat, walau bagaimanapun Mami wanita yang sudah melahirkanku."
**
__ADS_1
Sean baru saja tiba di Rumah Sakit, saat di Kantor pihak Rumah Sakit memberi kabar jika Istrinya mengalami kecelakaan. Ia langsung membatalkan meeting sore ini. Dengan langkah tergesa-gesa ia sampai di depan ruang IGD.
Beberapa suster mondar mandir keluar masuk dari ruang IGD. Sean yang nampak khawatir langsung menghentikan langkah suster yang hendak masuk lagi ke dalam.
"Sus bagaimana keadaan istri saya?"
"Pasien mengalami luka yang cukup serius dan sedang membutuhkan banyak darah." Terang suster.
"Ya Tuhan." Sean menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Lakukan yang terbaik agar istri saya bisa sembuh sus. Berapapun biayanya saya akan bayar."
"Kami juga sedang berusaha mencari pendonor darah Tuan, kebetulan darah yang di butuhkan sedang kosong. Saya permisi." Pamitnya masuk kembali ke ruang IGD.
Sudah sekitar 20 menit Sean duduk sendiri di Ruang Tunggu. Jason nampak muncul dengan wajah cemasnya.
"Ayah bagaimana keadaan Mami?"
"Masih di dalam, Niken sedang butuh donor darah tapi stok di Rumah Sakit sedang kosong." Ucapnya dengan nada sendu.
"Golongan darah Ale sama dengan Mami." Jason merogoh ponselnya yang tersimpan di dalam tasnya dan mencari nomor adiknya. Sudah beberapa kali ia mencoba menghubungi adiknya namun belum juga tersambung. Rupanya adiknya cukup pintar untuk kabur lagi, bahkan dia juga mematikan ponselnya.
"Jadi golongan darah Ale dan Niken sama?"
"Iya yah." Jason menganggukan kepala membenarkan.
"Lalu bagaimana apa Ale sudah bisa di hubungi?" Tanya Sean.
"Nomornya tidak aktif Yah." Ucapnya seraya menunjukan ponselnya ke arah Sean.
"Langsung saja ke rumah, jemput dia."
"Ale pergi lagi dari rumah."
"Apa, Ale pergi lagi?" Ucap Sean, sebelum ia mengusap wajahnya yang tampak khawatir dan cemas.
Bersambung. . .
Tetap berikan dukungan dengan memberikan
Like
Comen
Vote dan
Masukan ceritaku ke dalam cerita favorit kalian ya ❤
Maaf belum bisa Up setiap hari dan terima kasih kepada para pembaca yang sudah mampir ke lapakku dan setia menunggu ceritaku. tanpa kalian aku bukan apa-apa.
__ADS_1